Home » MUKOMUKO » Biografi Ichwan Yunus, Karir di Lingkaran Birokrasi (1969-1990) (Bagian V)

Biografi Ichwan Yunus, Karir di Lingkaran Birokrasi (1969-1990) (Bagian V)

by Yasrizal

Foto sambungan Ichwan

Pertama ke Luar Negeri

Pada bulan April 1961 sampai dengan akhir tahun yang sama, usai Kursus Jabatan Pembantu Akuntan di Bandung, sambil menunggu proses penempatan secara resmi oleh pemerintah, Ichwan di-pekerjakan untuk ikut serta memeriksa perusahaan Kimia Farma cabang Bandung.
Pengalaman pertama sebagai pemeriksa ini dijalaninya lebih kurang lima bulan. Ichwan kemudian ditempatkan di Jakarta dan bertugas memeriksa Bulog cabang Jakarta Raya. Berselang tiga bulan bertugas di Jakarta.

Januari 1962 Ichwan kembali ke Bandung. Ia mendapat tugas belajar di Akademi Ajun Akuntan. Pada tahun 1964, setelah merampungkan studinya di Akademi Ajun Akuntan Bandung, Ichwan langsung ditugaskan di Medan Sumatera Utara untuk memeriksa beberapa Perusahaan Negara di sana. Diantara perusahaan yang ia periksa adalah Panca Niaga dan Bulog Medan.
Lebih kurang delapan bulan bertugas di sana,tepatnya Oktober 1964 Ichwan dipanggil kembali ke Jakarta untuk mengikuti tugas belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Negara. Tidak seperti beberapa kali tugas belajar sebelumnya, yang semata-mata belajar, tidak boleh bekerja lain selain belajar, maka kali ini Ichwan dan kawan-kawan tetap dipekerjakan (part time) setelah jam kuliah. Ia bersama kawan-kawannya kembali memeriksa keuangan beberapa Perusahaan Negara di Jakarta.

Terlihat jelas bahwa perjalanan karir Ichwan dibidang akademisi melesat cepat. Dengan modal kecerdasan, kemauan dan kerja keras dalam kurun waktu delapan tahun, empat beasiswa tugas belajar berhasil dirampungkan oleh Ichwan tepat waktu dan dengan hasil yang sangat memuaskan.

Namun tetap saja tidak ada perasaan pongah terhadap prestasi yang ia raih dalam studi tersebut. Di hatinya tetap tertanam niat bahwa pada satu saat ada kesempatan, ia akan menimba lebih banyak lagi ilmu pengetahuan, baik formal maupun non formal.

Pada bulan Iuli 1969, setelah merampungkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Negara, Ichwan mendapatkan tempat tugas baru di Palembang. Namun karena skil yang dimiliki Ichwan ketika itu masih tergolong langka dan sangat dibutuhkan negara dalam rangka rencana pemerintah untuk melakukan alih status Panca Niaga dari Perusahaan Negara menjadi Perseroan Terbatas (PT) Panca Niaga, maka keberangkatan Ichwan ke Palembang terpaksa ditunda sampai dengan Januari 1970. Ichwan ditugaskan untuk mengadakan pemeriksaan dan penilaian kepatutan perubahan status Panca Niaga dari Perusahaan Negara menjadi Perseroan Terbatas(PT) Panca Niaga.

Walaupun tidak sendiri, namun tugas ini tidaklah ringan. Tugas pemeriksaan dan penilaian ini mengharuskan Ichwan untuk keliling Indonesia dimana ada cabang Panca Niaga di sana. Ia bertugas memeriksa dan menilai kepatutan perusahaan tersebut.

Beberapa Kota besar, selain Jakarta sendiri harus ia kunjungi, seperti Iawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Di Sumatera cabang Panca Niaga terdapat di Medan, Padang dan Palembang. Begitu juga di Kalimantan dan Sulawesi juga di beberapa kota besar lainnya terdapat cabang Panca Niaga. Tidak hanya di Indonesia, Cabang-cabang Panca Niaga juga terdapat di luar negeri, seperti di Hongkong dan Tokyo. Oleh karena itu, dalam rangka memeriksa dan menilai Panca Niaga inilah maka untuk pertama kalinya Ichwan melancong ke luar negeri, seperti ke Hongkong dan Tokyo.

Kunjungannya ke Hongkong dan Tokyo membawa dampak positif terhadap profesi Ichwan ke depan. Di dua kota modern ini wawasan Ichwan semakin terbuka lebar. Hal yang belum terjangkau oleh masyarakat Indonesia ketika itu. Menurut Ichwan adalah aspek kinerja, disiplin dan kreativitas masyarakat di sana yang begitu tinggi.

Bi1a kinerja, disiplin dan kreativitas mereka dibandingkan dengan masyarakat Indonesia, maka akan jauh tertinggal. Ketiga aspek inilah yang menjadi kan negara Jepang dan Tiongkok sulit dikejar kemajuannya. Walaupun kedua negara ini memiliki sumber daya alam yang minim (tidak sekaya Indonesia), akan tetapi industri mereka sangat maju di berbagai bidang. TerIintas di pikiran Ichwan, bahwa pada suatu saat Indonesia akan menyalip kemajuan-kemajuan yang sekarang mereka raih.

Keunggulan bangsa Indonesia adalah terletak pada kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Kunci mengejar ketertinggalan adalah mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mempunyai kinerja, disiplin dan kreativitas yang tinggi. Satu lagi yang sangat terkesan oleh Ichwan, khususnya di Tokyo Jepang, yaitu betapapun maju dan modernnya negara mata hari terbit tersebut, namun mereka masih menjunjug tinggi budaya leluhur mereka. Budaya benar-benar dijadikan ikon dan kebanggaan bagi mereka.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis : Khairuddin Wahid
Judul : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit: LPM Exsis
Cetakan : 1, Januari 2010

You may also like

Leave a Comment