oleh

Ini Hubungan Antara Kemiskinan dan Perempuan

Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Tingginya angka kemiskinan ternyata memiliki korelasi yang erat hubungannya dengan persoalan kekerasan pada perempuan dan anak.

“Dampak dari kemiskinan tersebut antara lain rendahnya tingkat kesejahteraan atau ekonomi serta pengetahuan dan akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Lebih jauh malahan turut menyumbang pada tingginya angka pernikahan usia anak, Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), serta Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB),” jelas Direktur Rumah Kita Bersama, Lies Marcoes Natsir, di Bengkulu, Senin (22/02/2016).

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menyebutkan bahwa Bengkulu merupakan daerah termiskin di wilayah Sumatera dan berada pada urutan ke enam daerah termiskin di Indonesia. Hal ini terjadi karena angka kemiskinan di Bengkulu selama kurun waktu lima tahun hanya berkurang sebesar 1,05 persen saja, sehingga pemerintah daerah perlu menurunkan setidaknya sekitar 0,9 persen lagi untuk mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Bengkulu sebesar 17 persen.

Diketahui angka kemiskinan tertinggi di Bengkulu berada di Kabupaten Kaur sebesar 23,25 persen, disusul Kabupaten Bengkulu Selatan sebesar 22,59 persen, dan Kabupaten Rejang Lebong sebesar 18,48 persen.

Diketahui Angka Kematian Ibu (AKI) pada saat melahirkan di Bengkulu saat ini 307 per 100 ribu kelahiran hidup atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 303 per 100 ribu kelahiran hidup. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) yang dilahirkan saat ini masih 35 per 1.000 kelahiran hidup.

Tak jarang masalah kemiskinan ini kemudian menempatkan posisi perempuan dan anak kian terdiskriminasi, mulai dari perempuan mengambil alih peran laki-laki dalam pemenuhan perekonomian keluarga, anak yang putus sekolah dan terpaksa bekerja, hingga anak yang terpaksa harus menikah dini dan melahirkan muda untuk menyelamatkan ekonomi keluarga. Kemiskinan menyebabkan perempuan dan anak mengambil peran yang lebih banyak dari yang seharusnya. Ini menunjukkan tingginya resiko yang dihadapi perempuan di tengah kemiskinan.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, membenarkan bahwa permasalahan perempuan dan anak di Bengkulu sudah pada kondisi yang mengkhawatirkan dan kompleks. Meskipun kekerasan pada perempuan dan anak tidak serta merta akibat kemiskinan, namun tidak bisa dipungkiri kemiskinan menjadi salah satu penyebabnya di mana kebutuhan dasar tidak terpenuhi secara layak.

“Pengentasan kemiskinan implementasinya tidak semudah yang dibayangkan. Diperlukan sinergi dari semua pihak, sekalipun berada di tengah kondisi kemiskinan diharapkan perempuan dan anak tetap menerima hak dan menjalankan kewajiban sebagaimana seharusnya. Ini persoalan yang harus kita pecahkn bersama, tidak hanya perempuan yang mencari solusi, tapi harus proporsional dengan laki-laki,” tandasnya.

Penulis: Valentina Alfarani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed