Home » Rejang Lebong » Jati Super, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Jati Super, Siapa yang Bertanggung Jawab?

by Kupas

Pohon Jati Super si Pohon Emas yang sempat menggiurkan masyarakat petani Provinsi Bengkulu.

Pohon Jati Super si Pohon Emas yang sempat menggiurkan masyarakat petani Provinsi Bengkulu.

kupasbengkulu.com – Masih ingat dengan jati super? Lebih dari 10 hingga 12 tahun yang lalu, masyarakat petani di Bengkulu sempat dihebohkan dengan penemuan kloning pohon jati yang populer dengan nama jati super.

Saat itu, jati super menjadi perbincangan hangat para petani hampir di seluruh pelosok daerah Bengkulu, diikuti dengan hitung-hitungan keuntungan yang diperoleh jika menanam “pohon emas” ini.

Dimasa itu pula, masyarakat dengan semangat “pasti kaya” berbondong-bondong menanam jati super. Namun, setelah 12 tahun berlalu, perbincangan jati super hilang diterpa zaman.

Situasinya kini, hanya tinggal jejak bisu tanaman jati super yang tumbuh renta tak berguna.

Dalam kunjungan saya ke pelosok pedesaan di provinsi ini, dari Kabupaten Mukomuko hingga Kabupaten Kaur, ditemukan sisa tanaman ini tumbuh di petalangan penduduk.

Jati super yang dulu membawa harapan kekayaan pada masyarakat, tumbuh seperti semak belukar tak berguna. Bahkan, jika dijadikan bahan pembuat pagar pun tak berguna.

Selaku pengamat pedesaan, saya jadi bertanya-tanya siapa yang harus
bertanggung jawab atas kegagalan ini? Karena begitu besar kerugian masyarakat petani Bengkulu.

Dirugikan dengan hitungan-hitungan bisnis menggiurkan dari jati super ini dikala itu. Setelah lebih sepuluh tahun berlalu, ternyata jati super tidak terbukti bisa mensejahterakan.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait menutup mata, akan kenyataan ini, masyarakat tidak dilindungi ketika ada informasi menyesatkan tentang satu komoditi tanaman yang ketika dikampanyekan tidak berdasarkan hitungan akademik yang benar.

Karena kesalahan membuat keputusan menanam komoditi seperti ini, kerugiannya baru dirasakan setelah puluhan tahun. Sebaiknya petani belajar dari pengalaman menyesatkan ini.(Muspani, SH/Pengamat Pedesaan)

You may also like

Leave a Comment