Home » INSPIRASI » Kehidupan Keluarga (Bagian IV)

Kehidupan Keluarga (Bagian IV)

by Firdaus Eka

Sebuah Biografi Ichwan Yunus

Ichwan yunus pandai besi

Antara Tugas, Kewajiban dan Hobi
Sisi positif dari kehidupan Ichwan sekaligus mungkin sebagai kelemahannya adalah kebiasaannya yang tidak mau menunda-nunda pekerjaan dan terlalu mengabdi kepada tugasnya. Sebagai seorang profesional di bidangnya, tidak pernah dalam sejarah hidup Ichwan melalaikan tugas dan menunda-nunda pekerjaannya.

Motto “apa yang bisa dikerjakan sekarang, tidak boleh menunggu nanti. Apa yang bisa diselesaikan hari ini, tidak boleh menunggu besok pagi”, benar-benar dipegang erat dalam aktivitas keseharian Ichwan.

Tidak hanya terhadap pekerjaan kantor, tapi juga termasuk pekerjaan rumah tangganya. Setiap pekerjaan yang memang sudah menjadi tugasnya, Ichwan selalu memasang target, baik itu menyangkut kualitas dan kuantitas, maupun dari segi waktu.

Ichwan mengaku selalu pas dan tepat memasang target. Kuncinya adalah terletak pada kejujuran dalam mengukur kemampuan diri sendiri dan/atau tim yang akan menggarap suatu pekerjaan. Jika akan mengerjakan suatu pekerjaan, kenali dulu pekerjaan tersebut sampai detil, mulai dari jenis pekerjaan. Spesifikasi dan seterusnya sampai pada produk yang hendak dihasilkan, lalu mengukur dengan jujur skil (kemampuan) mengerjakannya. Barulah memasang target.

Kegagalan memenuhi target biasanya karena faktor ketidak jujuran mengukur kemampuan. Contohnya, suatu pekerjaan menurut kemampuan maksimalnya akan terselesaikan dalam waktu enam hari. Jangan memasang target lima hari atau empat hari; suatu pekerjaan, yang menurut kemampuan maksimalnya dan waktu yang tersedia hanya dapat menghasilkan sepuluh jenis produk akhir, jangan memasang target lima belas produk.

Kegagalan memenuhi target juga terjadi karena faktor kinerja yang buruk, seperti lalai, tidak serius atau acuh terhadap pekerjaan. Kedua faktor tersebut sebaiknya dihindari, jika ingin mencapai target dalam setiap pekerjaan. Namum demikian menurut Ichwan, di atas segala-galanya yang paling jelek dan sama sekali harus dihindarkan adalah tidak adanya target dalam menyelesaikan pekerjaan.

Target adalah bentuk tanggung jawab seseorang terhadap pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya. Orang yang tidak mempunyai target dalam pekerjaan sudah bisa dipastikan rendahnya tanggung jawab terhadap pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya. Itu sebabnya memasang target dalam setiap pekerjaan, wajib hukumnya bagi Ichwan.

Sistem target menurut Ichwan, disamping meninggikan rasa tanggung jawab, juga menambah motivasi dan gairah dalam bekerja. Oleh sebab itu, bagi Ichwan setiap menghadapi pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya selalu ingin cepat selesai dengan hasil yang memuaskan.

Sifat Ichwan yang selalu ingin cepat selesai dalam pekerjaannya ini, sering kali disalah artikan oleh teman-teman sejawatnya, seolah ia selalu tergesa-gesa dan terkesan ceroboh. Tapi sesungguhnya tidak demikian menurut Ichwan, ia selalu berhati-hati dan teliti. Ingin cepat selesai tidak selamanya identik dengan ceroboh atau tergesa-gesa. Tanggung jawabnya yang tinggi terhadap tugas dan pekerjaannya, juga sering kali terkesan Ichwan melalaikan kewajibannya kepada keluarga. Kesan atau anggapan seperti ini menurut pengakuan Ichwan mungkin tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar.

“…. Kalau saya dikatakan selalu mengutamakan pekerjaan yang sudah menjadi tugas saya itu, memang iya, karena saya selalu mengejar target yang saya tetapkan sendiri….
Saya tidak bisa tenang kalau pekerjaan saya belum selesai. Bukan karena saya takut atau malu atau berniat mengambil/mencuri perhatian orang (atasan) yang memberi saya tugas dan pekerjaan tersebut, sama sekali tidak…..! Tapi saya malu dengan diri saya sendiri, jika tidak bisa mencapai target, karena target tersebut saya sendiri yang menetapkannya….”

Ichwan tidak sepenuhnya setuju jika dikatakan melalaikan kewajiban terhadap keluarganya. Tapi diakuinya, kalau ia memang jarang mengurus masalah tehnis rumah tangganya, karena menurutnya, masalah tehnis menjadi tanggung jawab isteri dan anak-anaknya. Justeru kalau ia mengurus juga masalah tehnis sampai sedetil mungkinkurang baik bagi pendidikan dan pembelajaran keluarganya. Berbagi tugas, beban dan tanggung jawab dalam keluarga adalah bagian dari tanggung jawabnya kepada keluarga.

Pernah suatu hari, ketika ia masih bertugas di Palembang, mendapat tugas dari kantornya berangkat ke Jakarta. Padahal saat itu isterinya tengah menunggu hari kelahiran anaknya yang ketiga. Mungkin bagi seorang suami selain Ichwan akan menolak atau menunda tugas tersebut dengan alasan akan menunggui isterinya yang sedang menunggu saat-saat rnelahirkan.

Tapi tidak bagi Ichwan, ia terima tugas itu dengan senang hati, dan akan segera berangkat ke Jakarta. Menurutnya keputusan yang diambilnya ini bukan berarti ia melalaikan atau melepaskan kewajiban terhadap isteri dan anaknya yang akan lahir, dan lebih mengutamakan tugas kantornya.

Menurutnya dalam persoalan ini tidak ada yang lebih diutamakan, dan tidak adayang dilalaikan atau dilepaskan. Kewajibannya terhadap isterinya sudah di laksanakan dengan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kelahiran anaknya. Ia sudah mempersiapkan dokter yang akan menolongnya, ia sudah menyediakan biaya yang dibutuhkan dalam persalinannya, ia sudah mempersiapkan kendaraan beserta sopir yang akan mengantar isterinya kapan saja dibutuhkan, ia juga sudah mengamanatkan isterinya kepada tetangga dan atasannya, dan termasuk ia juga telah meminta restu isterinya. Sekarang ia ingin menunaikan kewajibannya yang lain, yakni menjalankan tugas yang dibebankan kantornya.

Di tengah-tengah persiapannya berangkat ke Jakarta, tiba-tiba Rosna isteri Ichwan merasa kesakitan karena ingin melahirkan. Pada mulanya baik Rosna ataupun Ichwan tidak menyangka kalau sakitnya itu mau melahirkan, karena baru saja mereka berdua memeriksakan kandungannya pada dokter. Menurut perkiraan dokter ia akan melahirkan sekitar tiga sampai empat hari lagi. Walau pun sakitnya bertambah terasa, tapi tetap saja Rosna menganggapnya biasa saja. Namun Ichwan tidak mau mengambil resiko, ia memutuskan harus segera dibawa ke rumah sakit, dan lahirlah anak mereka yang ketiga, tanpa sempat ditolong dokter. Beberapa saat setelah melahirkan, Ichwan pamit kepada isterinya akan berangkat ke Jakarta, dan ia pesan kepada isterinya supaya jangan pulang ke rumah (tetap di rumah sakit) sebelum ia kembali dari Jakarta. Apakah dalam kasus seperti ini ada kewajiban yang diabaikan…? Ichwan mengatakan, “Terserah pada siapa yang menilainya…”.

Disela-sela kesibukan menjalankan tugas dan menunaikan kewajibannya terhadap keluarga, Ichwan juga tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menyalurkan hobinya berolah raga. Sebagaimana diketahui bahwa kegemaran Ichwan berolah raga sejak masih kecil dikampung halamannya, ia menyukai hampir semua tangkai olah raga, mulai dari sepak bola, volly, tennis meja, takraw, dan sebagainya. Setelah bekerja dan menjadi seorang profesioanal, ia beralih ke olah raga yang biasa digemari oleh para profesional, eksekutif, pejabat dan para penyandang status sosial menengah ke atas di perkotaan, yakni golf dan tennis lapangan.

Tidak sulit bagi seorang Ichwan untuk beralih ke olah raga ini. Dengan karakter yang ia miliki; kemauan yang kuat, kerja keras dan tidak kenal menyerah; ditunjang dengan stamina yang selalu prima; mempunyai postur tubuh yang kecil, lentur dan lincah. Dalam waktu singkat ia sudah menguasai dan piawai memainkan dua tangkai olah raga ini.

Selanjutnya Ichwan sering kali menjuarai berbagai turnamen kedua tangkai olah raga tersebut yang diadakan khusus pada kelasnya. Banyak relasi yang tadinya tidak mengenal dan dikenalnya menjadi kenal dan mengenalnya, yang tadinya kurang dekat menjadi lebih akrab dengannya, lantaran olah raga ini. Tidak jarang juga terjadi negosiasi yang menyangkut kelancaran bisnisnya di lapangan golf dan/atau tennis.

Keseharian Ichwan boleh dikatakan tidak pernah lepas dari pekerjaan dan olah raga. Hampir tidak ada waktu luang untuk bersantai, bersenda gurau dengan isteri dan anak-anaknya.
Rekreasi bagi Ichwan adalah berolah raga. Keadaan seperti ini sering kali mendapatkan protes dari anak-anaknya, tapi tetap saja Ichwan pacla kebiasaannya. Disinilah letak peran isterinya yang diakui oleh Ichwan sebagai hal yang luar biasa.

Sebagai seorang isteri yang sudah tahu persis karakter dan perilaku yang sudah menjadi kebiasan suaminya, Rosna tidak bosan memberikan pengertian dan nasehat kepada anak-anaknya untuk dapat menerima dan memahami apa yang sudah menjadi kebiasaan ayah mereka.

Protes mereka terhadap Ayahnya bukan berarti mereka tidak atau kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua mereka, tapi hanya sekedar keinginan untuk lebih banyak bersama-sama ayahnya. Demikian pengakuan Ina, panggilan akrab putri sulung Ichwan. Lebih lanjut Ina -yang mempunyai nama lengkap Ina Oktavia Sari ini- menuturkan:

”…Yang saya lihat dan saya rasakan sebenarnya ayah kami itu penuh perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya, dan kami tidak pernah merasakan kekurangan itu. Pada setiap kesempatan, beliau selalu memberikan nasehat, pengertian dan motivasi kepada kami, dan beliau tidak pernah menunda-nunda memenuhi kebutuhan kami, selagi ia mampu memenuhinya. Cuma saja kami, khususnya saya sendiri menginginkan lebih dari itu, sering kali saya menginginkan lebih banyak bersama-sama beliau. Tapi lama-lama kami semua dapat memahaminya dan kami tidak mungkin menuntut hal-hal yang tidak mungkin ia penuhi…”

Ichwan bukannya tidak tahu atau tidak mau tahu akan keinginan anak-anaknya untuk lebih sering bersama-samanya, akan tetapi karena intensitas pekerjaan sesuai dengan profesinya menuntutnya harus sering pergi pagi, pulang malam. Sedangkan olah raga sudah menjadi kebutuhan primernya, disamping untuk menyalurkan hobi, juga untuk menjaga kebugaran dirinya. Sehingga setiap ada kesempatan (waktu luang), ia harus memanfaatkannya untuk berolah raga.

Sisi lain dari kehidupan keluarga Ichwan yang tidak kalah menariknya adalah betapa mereka konsisten memelihara tiga pilar kehidupan bermasyarakat, yakni memuliakan tamu dan tetangga, serta memelihara tali silaturahim. Ichwan mengaku ketiga pilar yang sudah menjadi prinsip hidupnya itu tumbuh secara alami semenjak ia masih kecil di kampung halamannya. Kebiasaan tersebut sudah tercipta di tengah-tengah kehidupan keluarganya ketika ia masih kecil di kampung halamannya. Kebiasaan keluarga Ichwan dalam memuliakan tamu terpelihara sampai sekarang dan tidak bosan-bosannya ia menularkan kebiasaan tersebut kepada anak-anaknya melalui nasehat-nasehat dengan menjelaskan manfaat hikmah dan sebagainya, dan yang terpenting adalah Ichwan selalu memberi contoh dengan sikap dan perilaku terhadap tamunya. Ia tidak pernah membeda-bedakan kelas atau status sosial tamu yang datang ke rumahnya, semua yang datang ke rumah atau ke kantornya diterima dan dilayani dengan baik sesuai dengan kemampuannya.

Betapa pun sibuknya Ichwan dengan tugas dan pekerjaan serta kegiatan olah raganya, ia dan keluarga juga sangat peduli dengan tetangga dimanapun mereka berada. Bagi Ichwan, tetangga sangat vital keberadaanya dalam hubungan dengan sesama, setelah tiga unsur utama (suami, isteri dan anak) dalam keluarga. Bahkan pada saat-saat dan/atau keadaan tertentu tetangga justeru lebih penting dari ketiga unsur tadi. Ichwan memberikan contoh, jika terjadi suatu musibah dalam keluarga yang memerlukan pertolongan orang lain, maka tetangga lebih utama dan lebih penting dari pada anak, suami atau isteri yang tinggal atau sedang bepergian jauh dari rumah. Lebih jauh Ichwan menjelaskan bahwa ajaran Islam “rumah adalah syurga bagi penghuninya” itu berhubungan erat dengan keamanan, ketenangan dan kenyamanan, sedangkan ketenangan dan kenyamanan sendiri tidak hanya ditentukan oleh faktor dari dalam rumah saja, tapi juga ditentukan oleh faktor dari luar, dalam hal ini adalah tetangga terdekat.

Betapapun rukun dan harmonisnya sebuah keluarga, tetapi selalu dibuat tidak aman, tidak nyaman dan tidak tenang oleh tetangga, maka suasana “syurga” di dalam rumah tidak akan tercapai, atau bahkan sebaliknya suasana neraka yang akan dirasakan. Pengalaman Ichwan sejak kecil di karnpung halamannya, beberapa kali pindah kos dan rumah kontrakan dari kota ke kota lainnya, sampai ia mempunyai rumah sendiri bersama keluarganya, tidak pernah mempunyai masalah dengan tetangganya. Ichwan dan keluarganya tidak hanya bersikap dan berperilaku baik kepada tetangga, tapi lebih dari itu, ia selalu gemar berbuat dan berbagi kepada tetangga, bahkan ia pernah rnempunyai cita-cita, jika nanti memiliki rumah sendiri yang besar, rumah itu tidak hanya bisa dinikmati oleh keluarganya, tapi juga bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain, terutama tetangga terdekatnya.

Alhamdulillah…cita-cita kami sudah dikabulkan Tuhan…sejak mempunyai dan menempati rumah kami yang cukup besar ini, setiap hari Minggu para ibu-ibu tetangga sekitar berkumpul di rumah ini untuk mengikuti pengajian rutin yang terhimpun dalam sebuah majlis taklim.”

Rosna menambahkan, yang diamini oleh Ina anak sulung mereka, bahwa dulu pertama-tama dimulainya pengajian di rumahnya diadakan dua kali seminggu, Minggu dan Rabu, tapi karena diantara jama’ahnya juga ada yang tetangga agak jauh dan terkendala juga dengan kesulitan ustadz, maka dikurangi menjadi satu kali seminggu, dan berjalan sampai sekarang.

Sikap dan perilaku yang baik serta kepedulian Ichwan terhadap tetangga sangat dirasakan dan mendapat respon baik pula dari tetangganya. Hal ini dibuktikan dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai ketua RT, walaupun Ichwan sendiri sudah berupaya menolak kepercayaan tersebut, mengingat kesibukannya yang luar biasa dengan pekerjaan dan olahraganya.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis     : Khairuddin Wahid
Judul         : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit   : LPM Exsis
Cetakan    : 1, Januari 2010

You may also like

Leave a Comment