Home » BENGKULU » Mesjid Syuhada, Ir. Soekarno Pernah Salat Jumat Disini

Mesjid Syuhada, Ir. Soekarno Pernah Salat Jumat Disini

by Yasrizal

Mesjid Syuhada, Kota Bengkulu.

Mesjid Syuhada, Kota Bengkulu.

kupasbengkulu.com- Keberadaan Islam di Kota Bengkulu banyak meninggalkan bukti sejarah dan bukti perjuangan masyarakat Bengkulu. Salah satunya, Mesjid Syuhada, yang terletak di Jalan Zainul Arifin, Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Mesjid yang berumur sekitar 147 tahun ini, dahulunya merupakan tempat Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Ir. Soekarno melaksanakan Salat Jumat saat pengasingannya di Kota Bengkulu.

“Mesjid ini yang pertama kali yang melaksanakan Salat Jumat, karena dahulunya memang bangunan mesjid ini yang terbesar, sebelum adanya Mesjid Jamik,” tutur Imam Mesjid Syuhada, H. Arsyad Mas’ud kepada kupasbengkulu.com, Minggu (01/02/2014).

Dahulunya, Bapak Proklamator, bersama umat muslim lainnya, yang berasal dari daerah Penurunan, dan sekitarnya berjalan kaki Salat Jumat di Mesjid Syuhada. Lokasi mesjid saat itu, berada di Desa Tanjung Dalam, yang sekarang telah dibangun kompi TNI Angkatan Darat.

Kemudian, jelas dia, berdasarkan kesepakatan 4 suku (Suku Ujung Tanjung, Suku Tanjung Dalam, Suku Pinang Berlarik, dan Suku Berang), untuk memindahkan bangunan mesjid karena dinilai masyarakat sudah mulai banyak bermukim dan sudah terlalu sempit.

Alhasil, dari kesepakatan sekitar tahun 1867 itu, mesjid dipindahkan ke samping kuburan Taman Rindu Dusun Besar dengan hanya beratapkan rumbio (daun rumbia,red). Sementara lantai mesjid dibuat dari batu bata di semen dengan air jangek yang terbuat dari kapur sirih yang diaduk dengan air jangek. Dimasa itu pula, oleh bangsa Inggris mesjid ini pernah menjadi tempat berobat bagi masyarakat yang sakit, karena selain tempat ibadah mesjid ini dijadikan tempat masyarakat berkumpul.

Pada tahun 1900-an terjadi perubahan terhadap atap bangunan mesjid, dari rumbio menjadi atap seng. Material perubahan atap bangunan ini diperoleh dari sumbangan masyarakat sekitar, terutama 4 suku yang ada saat itu.

Perlu diketahui, tambah dia, Imam Pertama Mesjid Syuhada, H. Isya berasal dari Suku Tanjung dalam dan Khotib, H. Wahid berasal dari Suku Ujung Tanjung.

“Hingga sekarang mesjid ini masih diurus oleh keturunan 4 suku tadi. Kini kami berharap kepada pemerintah untuk bisa memberikan bantuan perawatan salah satu mesjid yang tertua di Kota Bengkulu ini,” ungkapnya.(cr1)

You may also like

Leave a Comment