oleh

Mulai Bekerja dan Tugas Belajar (1960-1967) (Bagian III)

Sebuah Biografi Ichwan Yunus

Foto Ichwan Yunus di Amrik

Tantangan Menjadi Peluang

Pagi hari setelah bangun dari tidur nyenyaknya,  Ichwan segera mandi dan berpakaian rapi, berkemas meninggalkan hotel. Bukan untuk mencari alamat saudara Bapak Indekosnya tadi, melainkan langsung menuju Sekretariat Penyelenggara kursus. Dalam pikiran lchwan, lebih praktis, efektif dan efisien jika ia menyelesaikan urusan kursusnya terlebih dahulu, seperti registrasi, jadwal dan tempat/lokal kursus, asrama/indekos selama kursus dan sebagainya. Baru setelah semua selesai, akan lebih rileks mencari alamat saudara Bapak lndekosnya.

Disaat melapor dan registrasi itulah darah dan watak Sumatera Ichwan langsung diuji oleh sikap dan kata-kata sekretaris penyelenggara kursus yang tidak bersahabat, bahkan terkesan melecehkan.

“Apa iya orang seperti anda ini mampu mengikuti kursus jabatan Pembantu  Akuntan.   Dari segi performensnya saja tidak meyakinkan,…biasanya orang dari Sumatera nilainya direkayasa ….?!”.

Demikian antara lain kata-kata yang membikin panas telinga Ichwan mendengarkannya. Akan tetapi karena memang Ichwan bukan tipe orang yang temperamental, bagaimana pun pahitnya kata-kata yang ditujukan kepadanya.   Tetap saja ia bisa menahan diri dan rileks meng hadapinya. Bahkan tantangan yang datangnya tiba-tiba ini dimanfaatkan Ichwan sebagai peluang untuk mencuri hati sang direktur. Tidak sedikit pun ketegangan yang tampak di wajah Ichwan, sambil tersenyum tapi meyakinkan, Ichwan mengatakan:

“Jika Bapak meragukan kemampuan saya sebagaimana terlihat pada nilai ijazah saya itu, saya siap dites/diuji kapan saja dan di mana saja, sekarang pun saya siap. Dan jika ternyata saya tidak Iulus dalam tes tersebut, seketika itu juga saya akan pulang kembali ke Bengkulu”.

Mendengar tantangan Ichwan yang begitu meyakinkan, direktur tampak terkejut karena ia sama sekali tidak memperkirakan akan mendapat reaksi demikian dari Ichwan. Tetapi serta merta juga sang direktur berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu dengan menyalami dan merangkul Ichwan seraya berkomentar “Wah, Iuar biasa …. 0ke, saya percaya pada anda!, ayok kita ke sana dulu..,” sambil tangan kanannya menunjuk kearah sebuah tempat yang tidak jauh dari sana.

Tempat tersebut tidak lain adalah warung kopi yang juga menyediakan berbagai makanan. Sambil makan dan minum, keduanya terlibat perbincangan tentang banyak hal. Suasananya menjadi semakin akrab karena Ichwan tidak ragu-ragu menampilkan watak aslinya yang lincah, kocak tapi tetap santun.

Sejak saat itulah sampai Ichwan menyelesaikan kursusnya, ia sangat akrab dengan Bapak yang satu ini. Setelah semua urusan kursusnya selesai barulah Ichwan mencari alamat saudara Bapak Indekosnya dan berdiam di sana untuk beberapa hari. Lalu ia segera kembali ke tempat diselenggarakannya kursus dan indekos di lokasi yang tidak jauh dari tempat tersebut.
Hari pertama mengikuti kursus, Ichwan sudah merasakan ketidakpuasannya. Semua materi yang disampaikan hanya mengulang apa yang sudah dipelajari dan dikuasainya ketika di SMEA. Hari kedua, ketiga dan seterusnya tetap saja tidak ada hal yang baru bagi Ichwan.

Sampai disini ia masih bisa menahan diri dan berpikiran positif mungkin saja ini sebagai bagian dari metode pengajaran yang diterapkan para dosen yang dimulai dari penyegaran atau pengulangan terhadap pelajaran-pelajaran di tingkat SMEA dulu. Namun karena lama kelamaan tetap saja tidak ada perubahan, maka jiwa berontak Ichwan mulai bangkit. Mulailah ia melancarkan pertanyaan-pertanyaan, protes dan sesekali interupsi, yang tentu saja merepotkan para dosennya.

Memasuki bulan kedua, kekecewaan Ichwan semakin memuncak terhadap sebagian besar pengajarnya. Diantara para pengajar itu ada yang sudah lanjut usia, dan ingatannya sudah tidak kuat lagi, dan persiapan mengajarnya juga sangat kurang. Sehingga tampak jelas terlihat ketika dosen ini menerangkan pelajaran di depan kelas, disamping sulit dipahami, menurut Ichwan penjelasannya juga sudah banyak salah. Sudah menjadi karakter Ichwan tidak bisa menahan diri jika apa yang disampaikan atau diterangkan gurunya itu salah, pasti refleks bekerja dengan segera menginterupsi dan memberitahu kesalahan sang guru/dosen, seperti yang pernah ia lakukan di SMEA dulu.

Protes keras Ichwan ini mendapat dukungan dari  kawan-kawannya, terutama di lokalnya sendiri, kelas C. Kali ini dosen yang “kena getahnya” adalah dosen mata pelajaran yang sangat pokok, yakni Tata Buku, yang secara kebetulan pelajaran ini memang keahlian Ichwan. Dosen yang sudah lanjut usia ini sangat tersinggung ketika diingatkan Ichwan akan kesalahannya.

Akan tetapi dosen tersebut segera menyadari bahwa kelas yang diajarnya ini berbeda dengan kelas biasa seperti SMEA misalnya. Siswa yang dihadapinya ini adalah orang-orang yang sudah dewasa dan memiliki pengetahuan dan kecerdasan di atas rata-rata. Kenyataan inilah yang membuat dosen senior ini harus menahan emosinya dan berpikir realistis. Seketika itu juga -walaupun bernada marah, tapi serius- ia menawarkan kepada Ichwan untuk menempuh jalur khusus (semacam jalur cepat atau kalausekarang mungkin sama dengan semester pendek), dan memerintahkan Ichwan untuk mencari kawan-kawanlain yang merasa mau dan mampu mengikuti jalur tersebut.

Gayung bersambut, segera saja Ichwan menerima tawaran itu dan menjalankan perintahnya untuk mengajak kawan-kawan yang lain. Setelah semua sepakat, dosen melanjutkan penjelasannya tentang program jalur cepat tersebut sampai pada hal-hal teknis. Hari-hari berikutnya hampir tidak ada lagi waktu bagi Ichwan dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kelompok ini untuk bermain atau bersantai. Mereka di-dril belajar siang malam, pagi sore, selama satu bulan penuh, dan setelah itu langsung diikutkan ujian. Tidak lama menunggu akhirnya keluarlah pengumuman hasil ujian, dan tidak seorang pun kelompok ini ada yang tertinggal, semuanya lulus dan mendapatkan ijazah Tata Buku B.

Dengan demikian, kursus yang semula dijadwalkan selama sembilan bulan tersebut, hanya ditempuh oleh Ichwan dan beberapa orang kawannya selama tiga bulan. Sedangkan kawan-kawan yang lain harus menunggu selama enam bulan lagi. Selama lebih kurang tiga bulan kursus, Ichwan merasakan paling prihatin dibanding dengan kawan-kawannya. Jarang sekali Ichwan membawa makan-makanan ringan dikamar indekosnya atau jajan di luar di sela-sela kesibukannya belajar seperti kawan-kawannya yang Iain. Kalau pun ada sesekali, itu karena diajak/dibandar oleh kawannya. Bukannya tidak ada selera, tapi memang karena ketiadaan persediaan untuk itu.

Ia berusaha mencukupkan diri dengan makanan dan minuman yang disuguhkan oleh Ibu Indekosnya. Karena sudah terlatih, tertempa dan terbiasa hidup prihatin sejak kecilnya, maka Ichwan sama sekali tidak merasakan keprihatinan itu sebagai penderitaan. Semuanya ia jalani dengan biasa-biasa saja dan sama sekali tidak mengurangi semangatnya untuk belajar dan belajar terus. Dan tidak juga menjadikannya minder atau rendah diri di hadapan kawan-kawannya.Tidak juga pernah terjadi selama kursus itu ia mengeluh atau meminta belas kasihan kepada siapa pun. Ichwan tetap tegar dan bangga menjadi dirinya sendiri.

Sekalipun Ichwan tidak pernah menampakkan kekurangannya  dengan  orang  lain, tapi keprihatinan Ichwan ini tidak Iuput dari perhatian kawan kawannya. Itulah sebabnya pada suatu ketika Ichwan disarankan oleh kawannya untuk menikah dengan seorang gadis Bandung bernama Neti teman sekelasnya, yang diketahui Ichwan  dan kawan-kawannya sebagai anak orang kaya.

Hal ini juga terlihat jelas dari segi gaya hidup dan penampiIannya. Ichwan sangat mengerti maksud dan tujuan kawan-kawannya ini, tidak Iain adalah untuk memberi jalan keluar dari keprihatinannya yang salama ini mereka saksikan. Jika Ichwan menikah dengan gadis kaya itu, maka sudah barang tentu masalah kekurangan finansial Ichwan akan teratasi.

Tetapi anjuran tersebut langsung  ditolak oleh Ichwan karena beberapa alasan: Pertama, berumah tangga bagi Ichwan tidak sesederhana seperti apa yang terpikirkan oleh kawan-kawannya. Sangat naif bagi Ichwan jika menikahi seorang gadis hanya karena hartanya.
Ichwan justru berfikir sebaliknya, yang juga merupakan cita-citanya jika suatu saat nanti ia menikah karena ia benar-benar sudah siap untuk bertanggung jawab menghidupi dan mensejahterakan istri dan anak-anaknya. Kedua, Ichwan merasa perjuangannya masih panjang, bukan berarti berumah tangga tidak terpikirkan olehnya, hanya saja ia harus istiqomah/konsisten dengan skala prioritas perjuangan hidupnya.

Sekarang ini prioritas utama Ichwan hanyalah bagaimana secepat mungkin menyelesaikan kursusnya, lalu bekerja. Untuk itu seberat apa pun hambatan dan tantangannya akan ia hadapi, apa lagi hambatan itu hanya sekedar pemenuhan kebutuhan sekunder. Ketiga, Ichwan memegang kuat prinsip bahwa membangun rumah  tangga harus berpondasikan cinta dan kasih sayang. Sekalipun ia tahu bahwa gadis itu suka kepadanya, tapi sebaliknya Ichwan sendiri tidak mempunyai perasaan Iain kepadanya kecuali teman biasa.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis     : Khairuddin Wahid
Judul        : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit   : LPM Exsis
Cetakan    : 1, Januari 2010

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed