Home » INSPIRASI » Mulai Bekerja dan Tugas Belajar (1960-1967) (Bagian III)

Mulai Bekerja dan Tugas Belajar (1960-1967) (Bagian III)

by Yasrizal

Ichwan Yunus Paris

Memetik Buah Keprihatinan
Sebagaimana telah diungkapkan di muka, salah satu isi kontrak beasiswa Kursus Pembantu jabatan Akuntan tersebut bahwa kursus tersebut ditempuh  selama sembilan bulan.  Setelah selesai dan lulus, maka peserta kursus otomatis diangkat menjadi Pegawai Negeri Departemen Keuangan. Sedangkan Ichwan dan  beberapa kawan-kawannya yang tergabung dalam kelompok jalur cepat ini telah berhasil mempersingkat masa kursus, yang seharusnya sembilan bulan menjadi tiga bulan saja, dan berhasil mendapatkan ijazah Tata Buku B dengan nilai sangat memuaskan.

Itu artinya mereka harus  menunggu kawan-kawannya satu angkatan yang menempuh jalur reguler biasa selama enam bulan lagi. Untuk mengisi kekosongan itulah, maka Ichwan dan beberapa orang kawannya yang telah lulus ini mulai dipekerjakan. Mereka mendapat tugas memeriksa pembukuan beberapa perusahaan besar, antara lain Kimia Farma.

Mulai saat itulah Ichwan memetik dan merasakan betapa manisnya buah kesungguhan, keuletan dan keprihatinan yang sejak kecil ia tanam, ia jaga dan pelihara. Betapa tidak, sejak kecil di desanya merantau ke Bengkulu, lalu ke Palembang dan terakhir ke Bandung, selalu hidup prihatin dengan segala keterbatasannya. Sekarang penghasilannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dulunya ia selalu melayani majikannya, terutama ketika di Bengkulu dan di Palembang karena untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolahnya, tapi kini ia mulai mengenal bagaimana rasanya dilayani.

Tidak terasa enam bulan telah berlalu, kawan-kawan satu angkatannya selesai semua, SK pengangkatan Ichwan menjadi Pegawai Negeri Departemen Keuangan telah pula diterimanya. Dengan demikian resmilah ia menjadi pegawai yang ditempatkan untuk pertama kalinya di Kantor Akuntan Negara Jakarta.

Ia ditugaskan untuk memeriksa dan sekaligus membina pembukuan keuangan instansi dan Badan Usaha Milik Negara, salah satunya yang tergolong besar adalah Bulog. Gaya dan cara hidup mulai berubah sejalan dengan profesi yang disandangnya. Ichwan yang dulu diliputi dengan berbagai keprihatinan, sekarang menjadi seorang profesional muda. Namun demikian karakter low profile dan sederhana dalam penampilan tetap dipertahankannya.(gie/adv)(Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis    : Khairuddin Wahid
Judul       : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit  : LPM Exsis
Cetakan   : 1, Januari 2010

You may also like

Leave a Comment