Home » BENGKULU » Perubahan Iklim Semakin Nyata di Bengkulu

Perubahan Iklim Semakin Nyata di Bengkulu

by Firdaus Eka
abrasi naiknya permukaan air laut merupakan dampak nyata dari perubahan iklim

abrasi naiknya permukaan air laut merupakan dampak nyata dari perubahan iklim

kupasbengkulu.com   – Perubahan iklim semakin nyata, demikianlah salah satu pesan yang dihasilkan dalam sebuah sesi “Loka Latih Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana” yang digelar oleh Kaba Hill, dan beberapa organisasi nirlaba di Bengkulu pada 3 Desember hingga 5 Desember 2013.

Kalimat ini dilontarkan oleh Sekretaris Jendral Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Dr. Eko Teguh Paripurno di depan forum yang berisikan instansi pemerintah, NGO, mahasiswa, pers, dan hampir seluruh kelompok kepentingan di Bengkulu.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh hampir seluruh peserta panel diantaranya, Koordinator Kebencanaan Woman Crisis Center (WCC) Cahaya Perempuan, Bengkulu, Nurcholis Sastro, mengungkapkan, berdasarkan hasil kajian, pada tahun 2040 sedikitnya 20 desa di kawasan pesisir Bengkulu diprediksi akan menghilang akibat laju abrasi yang sangat tinggi.

“Hal ini selain disebabkan oleh laju abrasi, juga karena naiknya permukaan air laut yang diduga akibat mencairnya es di kutub utara akibat imbas dari perubahan iklim atau kadang disebut juga dengan pemanasan global,” kata Nurcholis, Rabu (4/12/2013).

Ia katakan, dalam kurun 10 tahun tidak kurang dari 70 – 100 meter daratan hilang dan menggerus pemukiman atau jalan utama milik Negara.
Sementara itu, peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu, menyebutkan saat ini terjadi keluhan yang cukup mengkhawatirkan dari nelayan karena semakin tidak tepatnya cuaca, susah ditebak atau terjadinya kekacauan cuaca (anomaly), padahal, cuaca merupakan patokan bagi nelayan tangkap menentukan kapan bagi mereka waktu yang baik untuk melaut.

Akibatnya, tidak sedikit para nelayan nekat  ke laut, sementara patokan waktu yang selama ini mereka anut secara temurun sudah tidak berguna lagi.

“Ada nelayan yang sudah kebingungan dengan kacaunya kondisi cuaca, mereka nekat ke laut lalu baru berjalan beberapa mil mendadak badai, terpaksa mereka kembali ke darat lagi. Keadaan ini tentu merugikan karena sudah berapa liter bahan bakar terbuang sia-sia,” kata salah seorang peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan.
Hal yang sama juga dirasakan petani budidaya ikan, hujan beberapa menit saja maka tambak sudah kebanjiran atau meluber sehingga banyak ikan di dalam tambak hilang, belum lagi dengan ancaman banjir rob.
Keluhan ini diperkuat oleh salah seorang nelayan di Kota Bengkulu, Dedi.  Menurut Dedi, cuaca sekarang tidak dapat ia tebak, jika dahulu  angin barat datang pada bulan November hingga Januari. Namun kata dia, saat ini kondisi cuaca kerap tidak menentu, ini tentu saja mengakibatkan tangkapan menjadi turun.

“Sekarang itu cuaca susah ditebak. Yang semestinya belum banyak angin, mendadak banyak angin,” kata Dedi.
Selain itu, saat ini jika mencari ikan nelayan harus jauh ke tengah laut karena di laut pinggir ikan telah hilang diakibatkan terumbu karang yang telah rusak.
Sementara itu dampak perubahan iklim lainnya diderita juga oleh petani. Dahulu petani memiliki waktu tertentu untuk bertanam padi secara serentak berdasarkan curah hujan, waktu yang tepat biasanya pada bulan September, namun saat ini hal tersebut sudah tidak lagi terjadi.

“Menanam padi secara serentak seperti dahulu sangat penting dalam memutus mata rantai hama tikus dan wereng,” kata Tasril salah seorang petani sawah tadah hujan.

Akibat tidak serentaknya petani menanam padi ternyata dapat menguntungkan hama tikus karena rantai makanan mereka tidak terputus.

“Iya, tikus dan hama lainnya hidup terus karena masa tanam tidak serentak akibat faktor cuaca yang kacau. Kalau dahulu, sekali panen padi maka petani istirahat sekitar tiga bulan tentu saja hama tikus sudah berkurang, kalau sekarang tidak tikus bisa pindah-pindah karena panen tak serentak,” tambahnya.
Rentannya kelompok petani dan nelayan akibat perubahan iklim menurut Eko Teguh dibutuhkan kebijakan khusus dari pemerintah yang melindungi secara ekonomi, agar ketika terjadi masa peceklik akibat kekacauan cuaca maka ada alternatif matapencaharian.

Selain persoalan nelayan dan petani dalam diskusi tersebut terungkap bahwa saat ini masyarakat sudah mulai sulit mendapatkan air bersih terutama dari sumur, dibutuhkan sumur yang dalam agar mendapatkan air.

Selanjutnya, persoalan suhu di beberapa tempat di Bengkulu pada kurun 10 tahun masuk dalam kategori wilayah dingin namun sekarang telah menjadi panas diantaranya, Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Persoalan ini dipicu oleh tingginya penebangan hutan, aktifitas industri, dan prilaku ceroboh manusia dalam mengelola lingkungan hidup.
Oleh karena itu dibutuhkan satu bentuk adaptasi yang baik terhadap persoalan perubahan iklim yang tak terpisahkan dalam tindakan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Peran semua pihak dalam melihat persoalan tersebut dibutuhkan dalam satu bentuk tindakan nyata yang dilakukan secara bersama, untuk bumi yang lebih baik.(kps)

 

You may also like

Leave a Comment