Home » SUARA MASYARAKAT » Sri Ibu Balita Penderita Hidrosefalus Mengaku Ditipu Mahasiswa (II habis)

Sri Ibu Balita Penderita Hidrosefalus Mengaku Ditipu Mahasiswa (II habis)

by Yasrizal

Ritasa dipeluk Ibundanya, Sri

Ritasa dipeluk Ibundanya, Sri

kupasbengkulu.com – Setelah beberapa tahun tinggal di Bengkulu, informasi penyakit Ritasa terendus berbagai media massa lokal. Dalam waktu yang tak lama, Tasa mendapat perhatian dari berbagai pihak, tak terkecuali mahasiswa dari salah satu universitas yang ada di Kota tersebut.

Oleh beberapa mahasiswa, Sri didatangi dan dimintai Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan alasan ingin diuruskan bantuan kesehatan. Sri yang waktu itu masih belum sepenuhnya mengerti, memberikan KTP-nya kepada oknum mahasiswa untuk difotocopy. Sri berharap ini adalah jalan untuk meringankan beban penderitaan Sri dan puteranya.

Selang beberapa hari, Sri baru menyadari foto Tasa telah beredar di seluruh penjuru kota. Bahkan ada mahasiswa yang membawa kotak sumbangan dan berdiri di lampu merah serta kantor-kantor dan instansi pemerintahan mengatasnamakan Tasa. Sri tidak terima, waktu itu hatinya serasa dilukai. Walaupun bukan orang berada, Sri tak ingin dikasihani.

Kabar penyakit Tasa kian mendapat perhatian publik. Sampai ada salah satu media televisi lokal yang mengangkat tentang kondisi Tasa. Tak lupa disertai nomor rekening dan alamat jika ingin membantu pengobatan Tasa.

Namun, menurut Sri ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kondisi Tasa. Sewaktu berjualan koran di lampu merah, banyak masyarakat yang bertanya kenapa sudah diberi bantuan namun Tasa belum juga diobati dan malah masih dibawa berjualan di lampu merah. Saat itulah dirinya menyadari maksud dari mahasiswa yang meminta KTP-nya waktu itu.

“Saya merasa sudah dimanfaatkan. Saya nggak terima foto saya dan Tasa ada di mana-mana seolah minta belas kasihan. Saya dengar info bahwa dana yang terkumpul mencapai Rp 70 juta. Waktu saya datangi posko mereka, mereka bilang beberapa hari lagi akan diberikan. Waktu itu saya ingat yang diberikan hanya sekitar Rp 1,2 juta saja. Itulah mengapa saya jadi trauma masuk TV,” aku Sri.

Kini, kondisi Tasa masih belum menunjukkan perkembangan signifikan. Meskipun sudah berumur sepuluh tahun, Tasa masih seperti bocah berusia lima tahun. Badannya makin kurus, tulang-tulangnya yang kecil tak mampu menahan bobot tubuhnya sehingga harus digendong dan diletakkan di atas kereta bayi. Tasa juga belum bisa bicara, namun menurut Sri, Tasa bisa mengerti apa yang dibicarakan orang-orang di sekitarnya. Tasa juga hanya bisa menelan makanan yang sudah dihaluskan, dikarenakan pertumbuhan giginya juga tidak normal.

Sehari-hari, setiap pulang dari mengikuti sang ibunda berjualan koran, Tasa menghabiskan waktu di atas tempat tidur sambil mendengarkan musik. Dalam waktu dekat rencananya Sri akan kembali membawa Tasa berobat ke Jakarta.

“Kebetulan Yanto, kakak Tasa minta liburan nanti pulang ke Lampung. Saya bilang sekalian Tasa berobat ke Jakarta. Kalau keluarga di Lampung sebenarnya sudah menyuru saya pulang dan tinggal lagi di sana. Tapi saya sudah terlanjur malu, saya tak ingin menyusahkan keluarga karena keluarga saya juga bukan orang berada seperti keluarga bapaknya Yanto,” jujurnya.

Badai yang menerjang tak menggoyahkan Sri untuk memegang teguh ajaran agama. Diakui Sri, tak jarang banyak lelaki yang mendekatinya untuk menawarkan pekerjaan ‘tidak benar’ bahkan mengatakan ingin menikahinya. Sri tak ingin terjebak, bagi Sri cukuplah kehidupannya saja yang susah. Tak perlu mati pun juga ikut susah.

“Saya tahu saya miskin, butuh uang. Tapi saya tidak ingin hidup dan mati saya dalam keadaan susah. Biarlah Tuhan yang meringankan penderitaan saya,” katanya.

Harapan Sri saat ini terletak pada Yanto, putera sulungnya yang diharapkan dapat mengangkat derajat dan martabat keluarganya.

“Saya tidak ingin anak-anak saya jadi orang susah seperti saya. Setidaknya Yanto, meski kecilnya hidup susah dapat lebih baik dari kondisi orangtuanya,” tutupnya. (val)

You may also like

Leave a Comment