Home » GAYA HIDUP » PEREMPUAN » Usia Bukan Halangan untuk Lestarikan Kesenian Bengkulu

Usia Bukan Halangan untuk Lestarikan Kesenian Bengkulu

by Yasrizal

Aulia

kupasbengkulu.com – Oma, begitu wanita lanjut usia ini akrab di sapa oleh anak-anak asuhnya di Sanggar Anggrek Bulan. Dia duduk memandang dari kejauhan, mengamati puluhan anak asuhnya berlatih tari Dol, Diiringi permain dol yang bergema menggetarkan setiap orang yang menyaksikan hal tersebut.

Perempuan ini bernama Aulia, berusia 75 tahun. Usianya boleh dikatakan lanjut, tapi tetap semangat berkesenian, melestarikan music dan kesenian dol yang merupakan kesenian asli Bengkulu.

Sesekali ia memberikan instruksi dan arahan kepada, pelatih sanggar. Meski tidak terjun langsung sang Oma selalu mengawasi kegiatan latihan dan pemetasan sanggar yang dulunya dikenal bernama Mayangsari tersebut.

Aulia bersama sanggarnya merupakan salah satu pelopor alat music ini bisa keluar dari ritual tabot. Ia mengatakan dulu tidak gampang untuk dapat menampilkan music dol.

“Kita dulu sering dimarah keluarga tabut jika ketahui membawakan music dol untuk mengiringi tarian, karena dulu dol hanya milik ritual tabot,” cerita Aulia mengenang masa-masa awal music dol.

Musik Dol pertama kali tampil tanpa tabut sekitar tahun 1985 oleh Sanggar Mayangsari asuhan Aulia. Menurut Aulia saat itu dol dipinjam oleh sanggar untuk mengiringi pergelaran tari.  Setelah itu berbagai atraksi music dol terus dikembangkan mulai dari komposisi music maupun atraksi yang ditampilkan.

Meski pengasuh sanggar Mayangsari berpindah tangan kesenian music Dol tetap diteruskan oleh pengasuh sanggar selanjutnya bernama Sukardi, malah ditangan Sukardi music dol lebih terkenal lagi ditengah masyarakat Bengkulu sebagai sebuah kesenian tersendiri.

Aulia sempat berhenti mengasuh sanggar kesenian, beberapa tahun karena pindah ke Jakarta. Namun sekitar tahun 1995 kembali membuka sanggar di Bengkulu dengan nama baru Angrek Bulan. Musik dol kembali dikembangkan dengan berbagai penambahan atraksi yang menarik, hal ini mebuat anak asuhnya telah menampilkan atraksi dol diberbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Solo dan Surabaya

Malah pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Nasional telah memasukan kesenian music dol pada mata pelajaran kesenian daerah. Hal ini mengakibatkan kelompok-kelompok music dol tumbuh di daerah ini dan rata-rata para pemainnya adalah kaum muda, yang rata-rata anak usia sekolah.

Musik dol hingga saat ini masih dimainkan oleh anak laki-laki, mengingat ukurannya yang besar dan menghasilkan suara yang bagus jika dipukul sekuat-kuatnya.

Aulia mengatakan ia akan terus berkesenian, karena seni telah menjadi panggilan nenek yang dulunya penari tersebut.

Melihat perkembangan music dol saat ini, ia cukup bangga karena music yang dulunya tidak dikenal tersebut sekarang telah melalang dunia.

Dimata anak asuhnya, Aulia dianggap sebagai inspirator. Karena semangatnya yang besar untuk berkesenian membuat mereka semua terpacu untuk ikut melestarikan kesenian daerah yang mulai banyak ditinggal kaum muda.

“Oma saja yang sudah tua masih semangat, mengapa kita tidak,” kata Vita salah seorang penari di Sanggar Anggrek Bulan.

Musik Dol

Musik dol menjadi alat music yang berbeda jika dibandingkan dengan alat perkusi lain. Karena menurut Zakaria, suami Aulia pemilik sanggar Musik Dol Anggrek Bulan, dol dapat menghasilkan harmonisasi suara yang bagus meski tidak diiringi alat music lainya. Sementara perkusi yang lain, biasanya sebagai alat music pendamping dari alat music lain.

Selain itu penampilan music dol menciptakan suasana menjadi lebih semarak dari suaranya yang besar dan menggema. Hal ini juga yang menjadi faktor mengapa dol dulunya digunakan untuk penyemangat dimedan perang.

“Ditambah lagi penampilan music dol biasanya diselingi atraksi-atraksi menarik dari para pemainnya,” terang bapak usia lanjut ini.

Dol alat music berbentuk beduk ini ternyata terbuat dari umbi kelapa atau yang disebut masyarakat Bengkulu Kelawang yang wajib berumur diatas 30 tahun. Karena jika umurnya dibawah 30 tahun bunyinya tidak nyaring. (she)

You may also like

Leave a Comment