oleh

17 Orang Mahasiswa UT, Jurusan PAUD Gagal Diwisuda

Mahasiswi UT Jurusan Paud,Mujahidah.
Mahasiswi UT Jurusan Paud, Mujahidah.

kupasbengkulu.com – Sekitar 17 Mahasiswi jurusan PAUD yang mengikuti Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka Bengkulu (UPBJJ-UT) di Kabupaten Bengkulu Utara gagal Wisuda. Padahal mereka sudah memenuhi ketentuan yang diminta dari pihak pengelola untuk membayar uang untuk wisuda.

Hal itu dikatakan oleh Mujahidah kepada kupasbengkulu.com Rabu (3/9/2014). Sayangnya, Mujahidah tidak mau menyebutkan secara keseluruhan dari 17 orang mahasiswa yang gagal diwisuda. Hanya ia menunjukkan tiga kuitansi pelunasan, untuk biaya UPI, atas nama Mujahidah, Lauyah dan Umi Soili.

Dijelaskannya, kekecewaan yang dirasakan oleh mahasiswi yang mengikuti program UT tersebut sejujurnya sangat kecewa atas surat yang disampaikan oleh pihak pengelola tertanggal (27/8/2014) yang berbunyi mohon maaf tidak dapat mengakomodasi seluruh alumni UT untuk mengikuti Upacara Penyerahan Ijazah (UPI) 2014.

Sedangkan, biaya untuk keperluan UPI tersebut sudah dilunasi pada tanggal (24/4/2014) Rp 500 ribu perorang. Artinya, jauh sebelumnya keperluan untuk UPI sudah dipenuhi.

“Kami sangat kecewa dengan pihak pengelola UT Bengkulu. Meskipun masalah Ijazah sudah kami terima,” papar Mujahidah.

Ia menambahkan, dengan tidak adanya acara seremonial yang dianggap hari yang sangat bersejarah bagi dirinya dalam keluarga yang selesai mengikuti Program UT dengan menyandang gelar sarjana seakan hampa rasanya.

Sudah merupakan tradisi setiap orang apabila selesai kuliah, diakhiri dengan acara wisuda. Belum lagi persiapan yang dilakukan oleh masing-masing mahasiswa dengan menempah pakaian untuk tampil pada acara UPI.

“Walaupun uang yang sudah disetorkan itu sudah dikembalikan oleh pihak UT,dengan penerima Elia Essensi,tetapi tidak membuat perasaan kami sedih. Ada diantara kami yang sampai saat ini ada yang tidak nafsu makan. Kalau air mata rasanya sudah kering. Kemudian lagi tanggal 31 Agustus 2014, kami tidak diikutkan wisuda ” ungkapnya.

Ia berharap, kejadian semacam ini hendaknya menjadi pelajaran bagi pihak UT tidak terulang lagi. Ijazah memang perlu, tetapi memakai toga serta berjabatan tangan dengan rektor itu yang menjadi semangat saat menyandang gelar sarjana.(jon)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

sixteen + 3 =

News Feed