oleh

AFTA 2015, UNIB Undang Dosen Australia

kuliah umum Unib
kuliah umum Unib

kupasbengkulu.com – Membangun pemahaman wawasan tentang masalah pendidikan di Asia Tenggara menjadi hal yang penting untuk meningkatkan daya saing, terlebih akan digelarnya AFTA (ASEAN Free Trade Area) di tahun 2015.

Untuk itu, Universitas Bengkulu (UNIB) sebagai lembaga pendidikan tinggi, merasa penting untuk ikut ambil bagian dalam kesiapan menghadapi AFTA 2015 ini. Demikian disampaikan Syafrizal Sabaruddin, ketua panitia kuliah umum bertajuk “Current Educational Issue in Asean Countries” oleh Prof. Allan L. White dari University of Western Sidney, Australia.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan di UNIB, yang mana saat ini pesertanya berasal dari tiga negara, yakni Thailand, Kamboja, dan Malaysia. Mereka adalah mahasiswa yang ikut pertukaran mahasiswa,” ujar Syafrizal, Kamis (09/10/2014).

Disebutkan Syafrizal, penting bagi masing-masing negara mengenal berbagai persoalan pendidikan, yang mana dengan mengetahui persoalan tersebut, dengan sendirinya akan membangkitkan semangat ASEAN.

“Di tahun 2015 akan ada AFTA, artinya ASEAN menjadi masyarakat ekonomi yang bebas, bukan hanya barang melainkan juga pendidikan. Tidak menutup kemungkinan nantinya Indonesia menjadi salah satu negara yang aktif mengirimkan tenaga pengajar ke luar negeri,” katanya.

“Penting mengangkat isu ASEAN, jangan sampai di Bengkulu yang jauh dari pusat informasi ibukota, tidak tahu menahu tentang perkembangan internasional. Mahasiswa diajarkan kritis untuk melihat peluang,” lanjutnya.

Dalam diskusi umum tersebut, Prof. White berbagi ilmu tentang bagaimana mahasiswa cenderung menggunakan filosofi pendidikan behaviorism, yang mana setiap orang diajarkan untuk mengikuti prosedur. Seringkali, sesuatu yang diajarkan merupakan suatu kebenaran mutlak dan tidak ada yang lain. Sehingga ketika menghadapi suatu permasalahan di lapangan, yang mereka tahu hanya menyelesaikan persoalan sesuai contoh yang diajarkan dan tidak ada pengembangan maupun kreativitas.

“Seseorang harus dididik mencari makna. Bukan menghapal apa yang diajarkan. Masyarakat dididik bukan hanya untuk mengingat, melainkan memahami. Sehingga ketika menemui persoalan di luar konteks yang diajarkan, mereka bisa menemukan solusinya,” demikian Prof. White. (val)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed