oleh

Alquran Raksasa Prabu Siliwangi Tebar Aroma Wangi

Para pengunjung melihat Alquran raksasa yang dibuat pada zaman Prabu Siliwangi dipamerkan di ruang referensi Perpustakaan Unib.
Para pengunjung melihat Alquran raksasa yang dibuat pada zaman Prabu Siliwangi dipamerkan di ruang referensi Perpustakaan Unib.

kupasbengkulu.com – Sebuah Alquran berukuran raksasa dipamerkan untuk masyarakat umum di ruang referensi perpustakaan Universitas Bengkulu (Unib). Alquran tulisan tangan berukuran raksasa tersebut diperkirakan dibuat pada abad ke-15, zaman Prabu Siliwangi.  Alquran tersebut mempunyai tinggi 2 meter dan lebar 2,10 meter.

Menurut pustakawan Unib, Susi Alia Fitriani, Aquran tersebut adalah warisan yang kini dimiliki salah seorang warga Bengkulu bernama Ki Agus.

Susi menjelaskan, sebelum dibawa ke Bengkulu, Alquran berukuran raksasa tersebut berada di Bogor, Jawa Barat. Alquran tersebut adalah peninggalan zaman Prabu Siliwangi yang pernah memimpin kerajaan Padjajaran dan tak lepas dari kisah putrinya Rara Santang yang merupakan ibu dari Sunan Gunung Jati. Terkait sejarah rinci mengenai Alquran tersebut, hingga saat ini belum diketahui secara pasti.

“Suatu kehormatan bagi Unib, karena pemiliknya mempercayakan Alquran ini untuk dipamerkan di perpustakaan. Padahal sebelumnya, ada beberapa media massa lokal di Bengkulu yang meminta izin untuk membawanya dalam pamerkan di stand Hari Pers Nasional. Tapi karena Alquran ini tidak boleh dipamerkan di ruang terbuka, sehingga rencana tersebut batal,” terang Susi.

Selain berukuran raksasa, Alquran tersebut juga mempunyai keunikan tersendiri. Saat memasuki ruang pameran, pengunjung akan merasakan sensasi spritual dan mencium aroma wangi. Aroma wangi tersebut berasal dari bingkai Alquran yang terbuat dari kayu Cendana. Alquran berukuran raksasa tersebut juga disertai 2 Alquran lain yang ukurannya lebih kecil, salah satunya ditulis dengan menggunakan tinta emas.

Untuk melihat secara langsung pengunjung harus melaksanakan tata tertib umum, diantaranya berwudhu, melepas alas kaki saat memasuki ruangan, dan bagi perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan memasuki ruang pameran. Pengunjung juga dilarang membolak-balik halaman Alquran.

“Siapa saja boleh melihat Alquran ini secara langsung, tapi harus menjalankan tata tertib seperti berwudhu dan khusus untuk perempuan tidak dalam keadaan menstruasi,” ungkap Susi.

Selain tata tertib umum, pengunjung juga harus mematuhi tata tertib khusus yakni, saat berada di depan pintu masuk pengunjug diimbau mengucapkan Basmallah dan dua kalimah syahadat. Sementara saat berada di dalam ruangan, pengunjung mengucapkan Assalamu’alaina wa ala ibadillahisholihiin dan surat Al-Fatiha.

Banyaknya masyarakat yang penasaran untuk melihat alquran ini secara langsung membuat ruang referensi perpustakaan Unib ramai dikunjungi mahasiswa, pelajar, serta masyarakat umum. Salah seorang pengunjung mengaku takjub dengan setelah menyaksikan Alquran secara langsung.

“Subhanallah, saya baru kali ini melihat Alquran yang ukurannya sebesar itu dan aromanya wangi sekali. Ini adalah bukti nyata perkembangan Islam di Indonesia, dan kita selaku warga Indonesia harus bangga,” ungkap salah seorang pengunjung Anita. (beb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed