oleh

Ani Penjual Telur Ayam, Berharap Anaknya Raih Sarjana

Ani pedagang telur yang ingin anaknya gapai sekolah tinggi.
Ani pedagang telur yang ingin anaknya gapai sekolah tinggi.

Bengkulu, Kupasbengkulu.com-Hidup adalah perjuangan. Begitulah tekad  Ani yang kini usianya telah mengijak 40 Tahun. Membantu suami memenuhi nafkah keluarga agar anak-anaknya mengecap pendidikan tinggi, motivasi utama bagi isteri Baharuddin ini.

Warga Kelurahaan Tebeng, Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu ini mengaku, soal pendidikan anaknya merupakan nomor wahid. Dirinya tak rela bila anak-anaknya bernasib seperti dirinya, yang  hanya mengenyam pendidikan hingga  Sekolah Menengah Pertama saja.

Konsekuensinya, Ani harus setiap hari menguras keringat,  banting tulang berdagang Telur Ayam Buras di Pasar Panorama Kota Bengkulu. Besar harapannya,  agar anaknya bisa sekolah dan bercita-cita tinggi, untuk jadi sarjana.

Buah hati Baharuddin dan Ani yang pertama,  Megawati yang kini berusia 20 Tahun dan Jeki kini menginjak usai 14 Tahun.

Kedua buah hatinya ini, kini masih mengenyam pendidikan. Megawati kini masih studi di perguruan tinggi di Kota Bengkulu, sedangkan Jeki masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama.

Berdagang Telur
Kini Ani berdagang telur Ayam Buras seharian di Pasar Panorama Kota Bengkulu. Meskipun lapak miliknya harus berpindah lokasi.  Bila pagi hari, Ani berdagang dikios atau  lapak yang ada di dalam pasar, dan baru berdagang di keluar pinggiran pasar, bila petang menjelang. Baru pulang kerumah bila hari mulai gelap. Rutinitas ini dilakukannya setiap hari, saat dirinya tetap sehat.

Dituturkan Ani, prinsip dirinya, bagi siapa yang bersungguh-sungguh dalam berusaha,  apapun itu, maka pasti akhirnya akan berhasil. Ani yakin akan hal itu, tentunya diiringi doa dan keinginan yang kuat. “Karena yakinlah, apa yang kita sampaikan dalam berdo, pasti di dengar Tuhan,” ujarnya.

“Sejak awal berjualan telur sekitar Tahun 2005, itupun masih membantu orang lain. Lama kelamaan berkat yakin dan tekun, akhirnya coba-coba membuka usaha telur ayam sendiri, dengan modal seadanya. Modal berani menjajakan telur keliling rumah, sambil membawa telur ayam dan di tambah sayuran lain saat itu,” cerita Ani.

Saat itu Ani sudah sadar, kalau biaya pendidikan itu mahal. Apalagi untuk menempuh jenjang ke universitas. “Syukurnya, upaya  menambung, segalanya berjalan lancar hingga kini anaknya masih terus bersekolah,” kata Ani, sembari  melayani pembeli telur ayam.

Diakui  Ani, keuntungan dari jual telur ayam tak seberapa, tapi dirinya yakin dan bersabar mengeluti dagangan telur.

“Alhamdulillah barokah yang di hasilkan dari jualan telur ayam, bisa membiayai semua anak saya sampai jadi seperti sekarang,” ujarnya.

Omset Rp500 Ribu Perhari.
Ani yang sudah 10 tahun berdagang telur Ayam Buras menjelaskan, satu karpet telur Ayam Buras seharga Rp36 Ribu.
Biasanya jelang Bulan Suci Ramadhan, harga telur Ayam Buras satu karpetnyadi jual seharga Rp40 ribu hingga Rp44 Ribu. Seperti saat ini dirinya mampu mengantongi Rp 500 Ribu omset perharinya.

Dihari biasa, dirinya hanya mengantongi Rp150  RIbu saja dalam perharinya. Itupun tidak setiap hari diperoleh uang senilai itu.

Apalagi saat ini telur Ayam Buras yang ada lagi susah disuplai  dari Bengkulu, karena penyuplai telur dari Bengkulu untuk stok telur sedang kosong. Kadangkala stok telur ada, tetapi sudah tidak ada jatah untuknya.

Solusinya, dirinya terpaksa mengambil stok telur dari luar Bengkulu,  yaitu dari Padang, Sumatera Barat. Meski telur dari padang sedikit mahal modalnya, tetapi Ani yakin memasuki Bulan Suci Ramadan,  telur yang di ambilnya dari padang ini bisa di jual dan masih mendapatkan untung, walaupun sedikit.

Penulis: Ferizal Adek

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed