oleh

Anyaman Ketupat Cinta, Dongkrak Ekonomi Warga Pekik Nyaring

ketupat 5
Anyaman ketupat Cinta mampu mendongkrak ekonomi warga Pekik Nyaring Kabupaten Bengkulu Tengah.

kupasbengkulu.com – Lebaran identik dengan ketupat, karenanya sehari jelang Idul Fitri 1435 Hijriah/2014 penjual ketupat menjamur, baik di pasar tradisional maupun di tepi jalan raya. Memang tak semua orang mempunyai kemampuan membuat ketupat. Sementara sebagian lain mungkin merasa lebih praktis membeli ketupat ketimbang menganyamnya sendiri.

Fenomena ini dimanfaatkan pengrajin ketupat, Sudar, warga Pekik Nyaring Bengkulu Tengah, memanfaatkan keahliannya untuk mengumpulkan rezeki jelang lebaran dengan membuat anyaman ketupat yang berbahan daun kelapa muda.

Hasil kerajinan, pria yang juga berprofesi sebagai petani kopi ini, dijual di pembatas jalan Pasar Mambo tak jauh dari Pasar Tradisional Modern (PTM) Kota Bengkulu. Untuk membuat ketupat, Sudar mengaku, jika dirinya mesti memanjat pohon kelapa terlebih dahulu guna mengambil janur atau daun kelapa yang masih muda untuk dijadikan bahan dalam pembuatan ketupat.

”Kalau jual ketupat bisa dikatakan aktivitas tahunan, apalagi saat ini musim panen kopi sudah lewat. Jadi, untuk menambah rezeki. Ya, nganyam ketupat. Penghasilan bisa dibilang lumayan antara Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu sehari,” kata Sudar, saat ditemui disela-sela mengayam ketupat di Pasar Mambo, Minggu (27/7/2014).

Ia mengatakan, ada dua variasi ketupat. Yakni, ketupat segi empat atau yang lazim disebut Ketupat Cinta. Ada pula ketupat yang dianyam menyerupai bawang. Sehingga disebut Ketupat Bawang.

”Harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung besar-kecilnya ketupat. Biasanya, satu ikat ketupat yang berisi 10 buah anyaman dijual seharga Rp 5.000,” jelas Sudar.

Hal serupa diungkapkan Nengseh, warga Pekik Nyaring, Bengkulu Tengah. Ibu Rumah Tangga ini berpendapat, dengan menjual anyaman ketupat dapat membantu memenuhi kebutuhan saat lebaran.

”Saya tidak kerja, hanya di rumah saja. Tapi, kalau mau lebaran, ya kesini (Pasar Mambo,red) membuat ketupat. Lagi pula, kerjanya tidak sampai sore, uangnya bisa untuk nambah-nambah beli gula atau kue lebaran,” demikian Nengseh.(beb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed