oleh

Balai Buntar, Kesohor Dikalangan Peziarah Nusantara

Gerbang Balai Buntar

kupasbengkulu.com- Kabar tentang tersohornya makam Baginda Maharaja Sakti dan Putri Gading Cempaka, serta beberapa makam tua lainnya yang terdapat di area Balai Buntar, Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah memang akrab terdengar di kalangan tertentu. Khususnya bagi mereka yang mempunyai nazar dan keinginan untuk mencapai hal yang berkaitan dengan jabatan.

Tertarik akan hal ini akhirnya kupasbengkulu.com menyambangi langsung area Balai Buntar, didampingi oleh sang kuncen, Ibnu Sahir (54). Udara dingin petang langsung menyergap, ketika memasuki gerbang pemakaman yang belakangan juga dibuka sebagai pemakaman umum ini.

Bangunan sembilan, yang tertegak dibalik gerbang seolah langsung menyambut siapapun yang datang. Letak Balai Buntar yang berada di perbukitan kecil, membuat siapa saja yang bertegak di sini dapat leluasa memandang pantai yang ada di belakangnya.

Semak tinggi yang menguning dan sampah yang berserakan, mengisyaratkan kurang terawatnya salah satu situs budaya Kabupaten Bengkulu Tengah ini.

“Memang tidak ada dana khusus untuk perawatan pemakaman ini, uang buat semprot rumput itu saja saya dapatkan dari orang yang berkunjung ke makam,” tutur Ibnu.

Bangunan makam paling besar, beratap dan satu satunya yang diberi lampu, adalah tempat bersemayam Baginda Maharaja Sakti dan Putri Gading Cempaka. Taburan bunga setaman (tujuh rupa) terlihat mengering di atasnya.

“Itu bunga keringnya belum sempat saya bersihkan, ditaburkan peziarah dua hari yang lalu,” Ibnu menjelaskan.

Menurutnya, kedatangan para peziarah ke sini kerap dilakukan pada malam hari, terutama pada malam Jumat. Terlebih jika malam Jumat kliwon, peziarah bisa datang puluhan orang.

“Biasanya mereka yang datang adalah yang punya nazar, atau memang ada yang menjalankan ritual khusus untuk mewujudkan beberapa keinginan.
Kadang mereka minta dampingi saya, kadang tidak tapi mereka pasti selalu minta izin,” ungkap Ibnu.

Terdapat pula peziarah rutin, yang mempunyai jadwal sendiri untuk berkunjung ke Balai Buntar.

Menurut Ibnu, selain Makam Baginda Maharaja Sakti dan Putri Gading Cempaka, beberapa makam raja lain dan beberapa orang sakti di sini turut menjadi sasaran peziarah.

Sebagai kuncen, Ibnu berharap Balai Buntar dan beberapa makam tua di sini tak hanya populer di kalangan peziarah saja, namun ke seluruh penjuru nusantara. Tentu saja bukan karena keramatnya semata, tapi juga karena terawat dan bersih.

“Kalau masalah terkenalnya di kalangan peziarah sudah tidak diragukan lagi, banyak yang dari Jawa, Lampung, Palembang, dan beberapa kota
besar lainnya. Tapi bagi masyarakat umum sepertinya belum,” katanya sambil mengajak kupasbengkulu.com meninggalkan Balai Buntar.

Sekelumit cerita tentang banyaknya para peziarah pada malam Jumat kliwon, atau taburan bunga tujuh rupa di sini hanyalah tentang bagaimana kepercayaan masing-masing individu.

Namun apapun ceritanya, yang menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah adalah menjaga dan melestarikan Balai Buntar ini sebagai warisan budaya yang menjadi bagian dari jati diri Kabupaten. Sebab jika tidak, suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal tempat ini sebagai legenda dalam sejarah.(**)

penulis : evi valendri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

8 + eighteen =

News Feed