oleh

Belajar Dengan Tempe (1)

-Opini-235 views

Begitulah. Tempe merupakan makanan favoritku. Terutama setelah merasakan belajar di lingkungan pesantren. Lingkungan belajar yang nyaris tidak tersentuh oleh tradisi keluarga besarku.

Padahal, akar tradisi pesantren dan keluarga besarku satu. Ya, pesantren punya latar tradisi budaya Jawa. Meskipun (Mungkin) akarnya dibangun di Sumatera (Terkait sejarah Sriwijaya dengan kampus perguruan tinggi Budhanya). Tapi secara umum, pesantren identik dengan budaya Jawa. Sementara keluarga besarku Sumatera. Baik dari keluarga Ayah yang Melayu (Bengkulu), maupun dari Ibu yang Minangkabau (Juga Melayu).

Keluarga Ayahku, kalau dirunut, juga kembali ke Minangkabau. Namun telah beranak pinak di Taneak Jang (Tanah Rejang). Keluarga Ayah yang leluhurnya telah lebih dahulu merantau dari Minangkabau ke Tanah Rejang, telah lama menetap di Curup. Bahkan, kalau melihat sejarah rumah tua tinggalan leluhur Ayah yang dulu berada persis di seberang Masjid Jamik Curup, nyaris seumuran dengan kelahiran Kota Curup.

Mungkin rumah itu lebih tua atau muda sedikit dari Masjid Jamik Curup. Yang jelas, Kota Curup sendiri tercatat lahir pada 28 Mei 1880. Saya pun lahir nyaris persis satu abad setelahnya. Yaitu 03 Maret 1980, di belakang rumah di seberang Masjid Jamik itu. Keluarga besar Ayah memang identik dengan Masjid Jamik Curup dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI/Tarbiyah).

Informasinya, Masjid Jamik Curup berdiri pada Tahun 1885. Sementara PERTI masuk ke Curup Tahun 1934 dibawa oleh Abuya Ki Zaidin Burhany. Kakak Yaiku, Hi. Ramli Burhany. Pada Tahun 1938, berdiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Curup. Lokasinya tak jauh dari rumah keluarga yang di seberang Masjid Jamik Curup itu. Ya, Yaiku adalah anak keenam dari Burhany bersaudara. Rohani, M. Sabirin, Zaidin, Effendi, Abdul Murad, Sjarbaini, Abdul Muin, Djakfar Siddik dan Asijah adalah deretan kakak adiknya.

Ayah Burhany bersaudara ini bernama Burhanuddin. Buyutku ini bermakam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Talang Rimbo Baru. Sementara ayahnya bernama Muhammad Dian. Poyangku ini bermakam di TPU Pasar Kepahiang. Bertumpuk dengan makam-makam keluarganya di Kepahiang.

Melihat lokasi pemakaman buyut dan poyangku ini, tampak sepertinya Kepahiang merupakan tujuan pertama keluarga besar Ayahku dari sisi Yaiku. Buyutku, Burhanuddin. Awalnya ikut ayahnya, Muhammad Dian, hijrah ke Kepahiang. Meskipun kami belum punya dokumen lengkap sejarah keluarga ini, namun logika sejarah bahwa Kepahiang lebih dahulu jadi pasar atau kota dari pada Curup,

Faktanya mengarahkan seperti itu. Entah pada tahun berapa Poyangku Muhammad Dian persis datang ke Kepahiang. Pada tahun berapa pula Buyutku Burhanuddin lahir? Lalu tahun berapa beliau pindah ke Curup dan menikahi Buyutku Encik Hajah Mazenah?

Yang jelas, beliau berdua menempati rumah tua warisan dari orang tuanya Buyutku EH. Mazenah. Yang jelas, jika Yaiku saja sebagai anak kelimanya lahir di Curup pada 03 Agustus 1921, maka tentu saja segala pertanyaan di atas terjadi sebelumnya.

Tulisanku yang ini baru mengulas satu jalur leluhurku. Yaitu jalur Ayahnya Yaiku, Hi. Ramli Burhany. Buyutku Burhanuddin dan Poyangku Muhammad Dian. Poyangku ini berasal dari Pasar Bembah, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara. Lokasi tersebut merupakan satu titik dari sekian titik sebaran tujuan terbesar perantau dari Minangkabau di Tanah Rejang pada masanya.

Dalam lokasi ini setidaknya terdapat situs sejarahnya berupa Masjid Al Ikhlas, yang didirikan pada Tahun 1823. Nyaris seabad sebelum Yaiku dilahirkan (bersambung).

Penulis adalah Ketua Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja (IKANUHA) dan Ketua Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong

                                                                     

News Feed