Minggu, Maret 3, 2024

Belajar Menulis Pelajar Kota Bengkulu : Maruk

Irene
Florencia Irene, SMA ST. Carolus Kota Bengkulu.

kupasbengkulu.com – Kehidupan bergelimang kemewahan, gedung yang bertingkat, asap kendaraan yang pekat, bahkan dinuansai dengan teknologi canggih, menjadi keseharian dalam hidup masyarakat perkotaan modern sekarang ini.

Tanpa diragukan, kerasnya panas matahari telah menjadi salah satu dari sekian banyak hal merepotkan menurut mereka. Kurangnya interaksi dengan ruang lingkup alam dan sekitarnya, menyebabkan hilangnya rasa kemanusiaan dan hanya munculny pertimbangan-pertimbangan yang tidak lagi rasional. Pemikiran hanya ditujukan pada emas dan harta, gedung bertingkat, dan segala hal mewah di dunia nyata.

Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kehidupan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul Kota Bengkulu. Untuk menuju TPA tersebut, jalan yang berliku dan berbatu menjadi syarat tersendiri.

Bau busuk merebak di udara ketika memasuki tempat tersebut. Sampah yang tak karuan keberadaannya, beserakan membentuk gunung dan mengisi kekosongan di mana-mana. Hal ini tentu saja mengundang lalat, untuk bersarang dan menempati TPA tersebut. Hamparan tanah yang luas, hanya ditutupi oleh berbagai jenis sampah, dari seluruh hpenjuru kota Bengkulu.

Minggu(9/7/2014), di bawah sebuah pohon rindang, tergambar peluh seorang ibu pemungut sampah. Diantara tajamnya panas matahari, ia tetap berusaha untuk mencari sampah, sebagai sumber penghidupan. Tidak hanya ibu itu saja, puluhan orang di dalam TPA tersebut juga meakukan hal yang sama seperti ibu tersebut. Mereka berpencar dan berdiri di antara gunung sampah, bersaha menemukan sumber uang dari berbagai hal yang tergeletak di depan mereka.

Ketika itu, matahari telah berdiri tepat di atas kepala, menunjukkan dentuman keras dari kelakuannya. Tawa kental terngiang di telinga ketika melihat beberapa anak bermain di atas sebuah pohon tua. Mereka, adalah contoh nyata dari kasarnya kelakuan kehidupan. Begitu banyak sampah dan lalat yang berhamburan, tak menyurutkn mereka untuk tetap menikmati masa anak-anak. Tak seraut pun terlihat wajah sesal dan sedih dari wajah mereka. Semangat kehidupan tergambar jelas dari tawa yang mereka lontarkan.

Kemandirian merupakan modal utama dari kehidupan mereka. Kuat dan bersahaja menjadi hal yang patut dicontoh dari sikap yang tunjukkan. Sedang udara semakin memanas, tawa mereka semakin kuat dan memecah kebisingan yang ditimbulkan oleh lalat. Mereka tak peduli akan sampah di sekeliling mereka, dan beribu-ribu lalat berterbangan yang kadang menghinggapi mereka, yang terpenting, mereka dapat bertahan hidup.

Setiap kali mobil pengangkut sampah datang, puluhan orang segera berlari dan mengerumuni mobil tersebut, berharap mendapatkan sesuatu untuk menambah penghasilan. Hanya bisa berdiri dan tertegun meihat usaha keras mereka dalam mencari nafkah. Tak memedulikan kotor ataupun bersih. Perjuangan mereka diibaratkan bagai karang yang kuat,tahan terhadap asahan arus dan ombak yang mengguncang.

Penghasilan yang tidak seberapa merupakan hal yang kurang sepantar dengan perjuangan keras mereka. Walaupun penghasilan yang kurang, dan daerah yang kotor serta suasana yang pengap, tak pernah menyurutkan semangat mereka untuk mengais sampah. Kadang-kadang mereka menemukan sejumlah uang dan barang-barang penting yang dapat memenuhi penghasilan mereka.

Jika terus melanjutkan perjalanan menuu pojokan, maka akan terlihat beberapa rumah kayu yang didirikan di tas tanah merah. Kebanyakan, warga lanjut usia menetap di situ. Hal ini dikarenakan kebanyakan anak/ cucu mereka yang telah dewasa pergi meninggalkan tempat tersbut, dan membangun keluarga baru. Daripada menganggur dan bermalas-malasan mereka menjadikan sampah tersebut sebagai sumber dari kehidupannya.

Tidak hanya itu saja, kebanyakan dari mereka, telah berpuluh-pululh tahuun menggantungkan hidupnya melalui pekerjaan tersebut. Hal ini menyebabkan mereka telah beradaptasi penuh terhadap konidisi yangdemikian. Terkadang untuk mengais sampah dan berjalan, mereka tidak takut untuk menggunakan alas kaki. Daya tahan tubuh mereka telihat menjadi lebih kuat dibandingkan masyarakat modern pada umumnya. Walaupun diterpa oleh begitu banyak lalat dan dikerumuni oleh sampah, yag diakui menjadi sumber dari berbagai macam penykit, namun mereka tetap saja rentan terhadap penyakit.

Ironi, itulah kata yang tepat untuk medeskripsikan keadaan mereka, yang sederhana dan apa adanya. Diantara sekian ribu keeogoisan manusia, mereka hanya terfokus pada satu tujuan. Apakah aku bisa hidup keesokan harinya?.

Jauh kembali pada kehidupan modern manusia , yang rentan terinfeksi virus serta penyakit, dan kesekarahan akan keinginn yang terus bermunculan, kita hanya bagai suat bagian dari sekumpulan kata maruk.

Penulis : Florencia Irene, SMA ST. Carolus Kota Bengkulu.
Peserta Pelatihan ‘Menjadi Jurnalis Itu Menyenangkan’, yang dihelat Media Online kupasbengkulu.com

Related

Lawakan Felix Seda yang Lecehkan Najwa Sihab Berakhir Minta Maaf

Lawakan Felix Seda yang Lecehkan Najwa Sihab Berakhir Minta...

Kalah dari Jepang, Indonesia Masih Berpeluang Lolos ke Babak 16 Besar Jika Ini Terjadi

Kalah dari Jepang, Indonesia Masih Berpeluang Lolos ke...

Bawaslu Seluma Ingatkan Program Pemerintah Tidak Dijadikan Ajang Kampanye

Bawaslu Seluma Ingatkan Program Pemerintah Tidak Dijadikan Ajang Kampanye ...

Bawaslu Seluma Ingatkan Program Pemerintah Tidak Dijadikan Ajang Kampanye

Bawaslu Seluma Ingatkan Program Pemerintah Tidak Dijadikan Ajang Kampanye ...

DPMD Seluma Segera Tindaklanjuti Penguduran Diri Kades Kungkai Baru

DPMD Seluma Segera Tindaklanjuti Penguduran Diri Kades Kungkai Baru ...