oleh

“Bertahun-tahun Kami Makan Sampah”

Mutia, pemulung
Mutia, pemulung

kupasbengkulu-com – “Bertahun-tahun kami Makan sampah”, tutur Mutia (48) warga Jalan Zainul Arifin Kelurahan Padang Nangka Kota Bengkulu ini lirih.

Ungkapan polos Mutia sangat menyentuh hati, bagaimana tidak, sampah bagi kita merupakan benda kotor yang tidak berguna, tapi bagi perempuan beranak tiga ini, itu bagikan berlian.

Mulai dari pagi hari sekitar pukul 08.00 wib hingga 16.00 wib, Mutia bergerilya masuk perumahan dan tempat pembuangan sampah warga. Setiap hari ia berjalan hingga puluhan 20 kilometer hanya untuk mendapatkan setidaknya Rp 25.000.

“Saya sempat mengalami pendarahan hingga masuk rumah sakit, karena terus berjalan kaki,” cerita Mutia kepada kupasbengkulu.com.

Pekerjaan ini terpaksa ia lakukan, karena ia masih memiliki dua orang anak yang menjadi tanggungan. Karena jika ia tidak mencari barang bekas, alamat besok keluarganya tidak makan.

Karena itu juga meski sedang sakit pun, terkadang Mutia tetap memaksakan diri mencari barang bekas. Alhasil ia pernah menanggung pendarahan hebat, akibat membiarkan sakitnya sendiri.

“Hidup kami memang dari sampah dek, karena suami saya juga pemulung, jika tidak ada sampah kami tidak makan,” kata wanita yang tidak menamatkan sekolah dasar ini.

Mutia pagi itu berpakaian lengan panjang lengkap bersama topi untuk melindungi wajahnya dari terik panas matahari. Pakaiannya lusuh dan kotor, tangan kiri memegang karung berwarna putih dan tangan satunya membawa tongkat besi yang digunakan untuk mengambil sampah.

Wanita separuh baya ini sadar, jika ada sebagian orang yang tidak menyukai mereka. Karena mereka suka dianggap sering mengambil barang sembarang alias mencuri. Tapi menurutnya tidak semua pengumpul barang bekas suka mengambil barang milik warga.

“Meski pekerjaan kami kotor, tapi saya tidak ingin memberi makan keluarga kami dari mencuri,” ungkap Mutia.

Meski memiliki suami, ibu tiga anak ini merasa pendapatan suaminya sebagai pengumpul barang bekas, sangat tidak cukup untuk menghidupi dan membiaya sekolah anaknya. Apalagi saat ini biaya hidup sangat tinggi, meski pekerjaan ini sangat sulit ia lakoni tapi sebagai ibu ia tidak sampai hati jika anak-anaknya tidak makan.

Mutia tinggal dirumah sangat sederhana, di atas lahan pemberian seorang pengusaha kaya asal Jakarta.

Sebagian besar warga di tempat ia tinggal memiliki profesi sama dengan dirinya. Lokasi perumahan mereka memang terkenal menjadi lokasi tempat tinggal pengumpulan barang bekas. Sehingga jangan heran jika kita ke pemukiman ini melihat tumpukan sampah-sampah hasil sortiran pengumpul dimana-mana.

Mutia hanya berharap meski pekerjaanya kotor, tapi kerja kerasnya dapat menyekolahkan anak-anaknya. Ia ingin anak-anaknya dapat mengangkat derajat keluarganya.

“Jangan sampai anak-anak kami, merasakan hal sama,” harapnya kemudian. (she)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed