oleh

Bos PT. AMP Diduga Ditusuk Satpam

TKP Penusukan
TKP : Inilah Tempat Kejadian Perkara (TKP) Pimpinan PT.AMP cabang Bengkulu, Roni yang diduga ditusuk benda tajam oleh Satpam Magang Pengadaian D1 Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara, Sabtu (11/1/2014).

kupasbengkulu.com – Pimpinan PT. Andalan Mitra Prestasi (AMP) Cabang Bengkulu, Roni (31), Sabtu (11/1/2014), sekitar pukul 08.31 WIB menjadi korban dugaan penusukan oleh Satpam Pengadaian Unit D1 Kecamatan Ketahun Bengkulu Utara, Si (31). Kejadian nahas tersebut, di jalan Danau RT 6 RW 2 Kelurahan Jembatan Kecil Kecamatan Singatan Pati Kota Bengkulu. Dugaan penusukan dipicu lantaran, Si ingin mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar). Namun, Si belum melakukan pelunasan pembayaran uang Diksar tersebut sebesar Rp 4 juta.

Akibatnya, korban mengalami luka tusuk dibagian pinggang sebelah kanan dengan beberapa jahitan, luka tusuk di bagian bahu sebelah kanan, luka di tangan kiri dan kanan. Saat ini korban sudah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Kota Bengkulu. Sementara, pelaku telah diamankan di Mapolres Kota Bengkulu.

”Kejadian itu sekitar pukul 08.31 WIB, setahu saya Roni itu bos di Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia ini. Kalau cerita persis dari kejadian itu saya tidak tahu persis, sehingga dia (korban,red) mengalami luka tusuk,” kata Darma (60) warga jalan Danau RT 6 Kelurahan Jembatan Kecil Kota Bengkulu, Sabtu (11/1/2014).

Data terhimpun dilapangan, keseharian Si berprofesi sebagai Satpam di Unit Pengadaian D1 Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara. Namun, status Si masih dalam magang di PT. AMP yang notabenenya telah menjalin kerjasama dengan Pengadaian. Mengingat, ada 18 satpam yang belum mengikuti Diksar, maka dari PT. AMP berniat menggelar Diksar di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kabupaten Rejang Lebong, tanggal 14 Januari mendatang selama 3 minggu.

Dari 18 satpam yang berstatus magang tersebut, ada 2 satpam yang belum melunasi biaya Diksar sebesar Rp 4 juta dengan perusahaan, salah satunya Si. Mengingat dirinya, belum melunasi biaya tersebut, Si pun menyambangi kantor PT. AMP di jalan Danau RT 6 RW 2 Kelurahan Jembatan Kecil Kecamatan Singatan Pati Kota Bengkulu, dengan menggunakan sepeda motornya merek Suzuki warna biru bernopol BD 2707 AM. Kedatangan Si sendiri ingin mempertanyakan, kejelasan atas Diksar tersebut.

Saat tiba di kantor PT.AMP, Si langsung bertemu dengan Roni. Diketahui juga jika, Si mempertanyakan, jika mengikuti Diksar tersebut apakah seluruh satpam yang ikut akan lulus semua atau tidak. Sebab, biaya Diksar tersebut dari kantong pribadi masing-masing.

Tak diketahui secara persis, cek cok pun terjadi didalam kantor PT.AMP. Sehingga perkelahian antara Roni dan Si tak bisa terelakkan. Perkelahian tersebut berawal dari dalam kantor hingga keluar kantor. Melihat kejadian itu, warga sekitar langsung berhamburan keluar melihat kejadian tersebut.

Setelah beberapa menit perkelahian terjadi, Si diduga mengeluarkan benda tajam yang diduga sudah dibawa dari rumahnya di Kelurahan Surabaya Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu. Seketika itu, Si langsung mengarahkan benda tajam itu ke bagian tubuh Roni. Sehingga mengenai, bagian punggung, bahu dan tangan kiri dan kanan.

Melihat Roni, sudah tak berdaya dan mengeluarkan banyak darah. Si pun langsung melemparkan benda tajam itu ke arah samping, tepatnya didepan rumah Darma, yang berdampingan dengan kantor PT.AMP. Seketika itu, warga setempat langsung memberikan pertolongan terhadap kroban dengan membawa ke RSUD M Yunus Kota Bengkulu.

Tanpa rasa bersalah juga Si, langsung berjalan ke arah keluar kantor. Beruntung, usai kejadian tersebut, salah seorang anggota Polres Kota Bengkulu melintas di Tempat Kejadian Perkara (Perkara). Si pun langsung diamankan berikut barang buktinya.

Secara terpisah, Satpam yang bertugas di Pengadaian Kampung Kota Bengkulu, Mardian (30) mengatakan, Perusahaan Jasa Kerja Indonesia PT.AMP khusus untuk menampung tenaga kerja satpam. Di perusahaan tersebut, kata dia, ada sekitar 30 satpam. Namun, dari 30 satpam tersebut belasan satpam belum mengikuti Diksar dan masih berstatus magang.

”Kalau saya sudah mengikuti Diksar Satpam itu dan sudah mengantogi Sertifikat. Untuk biaya Diksar memang ditanggung sendiri dengan besaran sekitar Rp 4 juta. Tapi, dari perusahaan tidak bisa menjamin kalau mengikuti Diksar Satpam bakal lulus semua,” terang Mardian, saat menyambangi PT.AMP yang mengaku kenal dengan Si, Sabtu (11/1/2014).

Ia menambahkan, jika belum mengikuti Diksar dan mengantongi sertifikat maka dari perusahaan tidak bisa melanjutkan tenaga kerja untuk magang kembali di Pengadaian yang sudah menjalin kerjasama dengan PT.AMP. Ia menduga, kedatangan Si tersebut ingin mempertanyakan kejelasan atas Diksar tersebut. Apakah setelah Diksar selama 3 minggu itu akan lulus semua atau tidak. Sebab, kata dia, kebanyakan Satpam yang magang membayar biaya Diksar dengan cara meminjam terlebih uang dengan tetangga.

”Setahu saya dari perusahaan tidak ada menjamin kalau mengikuti Diksar itu akan lulus semua. Mungkin yang ditakutkan dia (Si,red) setelah ikut Diksar tidak lulus. Sementara uang Diksar itu masih minjam dengan tetangga. Jujur saja, saya tidak tahu persis apa penyebab kejadian ini. Saya datang ke sini untuk menandatangani kontrak. Saat saya lihat sudah ada darah berceceran di depan kantor,” demikian Mardian.(gie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed