oleh

Calo Berkeliaran, Musuh Peserta CPNS!

-Tak Berkategori
Demon Fajrie
Demon Fajrie

oleh : Demon Fajri*

Kehidupan untuk masa depan yang lebih baik adalah pilihan setiap orang, terutama di Provinsi Bengkulu masih banyak beranggapan bahwa menjadi PNS akan memiliki masa depan yang lebih baik. Pasalnya, ada tunjangan keluarga, pensiun, dan kemudahan serta fasilitas lainnya, tak heran setiap tahunnya tes CPNS membludak? Atau bisa jadi karena memang ingin mengabdi, entahlah.

Dalam pelaksanaan CPNS dari tahun ke tahun masih ada saja pihak yang minta bayaran supaya lulus (Calo,red). Apa peraturannya untuk menindak tegas diberlakukan, sehingga masih ada yang melegalkan cara itu? Dan juga masih ada pihak dalam yang dengan tidak bertanggungjawab, menerima sejumlah uang dari OKNUM BERDUIT untuk minta diluluskan saat tes CPNS. Semestinya ini menjadi PR Kepala Daerah sebagai pemimpin dilantik. Sehingga usaha dan kemampuan setiap pribadi masyarakat dengan penerimaan CPNS yang jujur, adil, dan transparan benar-benar dapat tercapai. Jika Calo berkeliaran dengan bebas dan telah mendapatkan mangsa, tentunya ini menjadi musuh peserta yang hanya mengandalkan kemampuan saat tes CPNS.

Memang Setiap tahun pembukaan seleksi CPNS, tidak hanya di pemerintah pusat, tetapi juga di Pemerintah Daerah, seleksi CPNS membawa angin segar dan ‘lahan basah’ bagi para calo CPNS. Agenda yang setiap tahun dilakukan membuat para calo mulai mencari kesibukan dan mencari mangsa empuk. Dengan menjanjikan kelulusan dalam tes CPNS asal dengan bayaran sejumlah uang yang mencapai puluhan sampai ratusan juta rupiah.

Iming-iming yang menjadi panutan calo berupa adanya kedekatan dengan para petinggi yang ada di Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota di Bengkulu. Dukungan yang diberikan kepada calo biasanya datangan dari mangsa yang berduit dengan mengandalkan berupa harta kekayaan seperti, sertifikat rumah, tanah, sawah, ataupun menggadaikan motor atau mobil yang dimiliki peserta tes.

Herannya masih ada masyarakat yang percaya dengan calo yang mencari sasaran saat tes CPNS, memang susah dimengerti ada orang yang berani mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah kepada calo demi untuk lulus CPNS. Tentunya ini menjadi pertanyaan besar, mengapa banyak orang tergiur untuk menjadi pegawai negeri? Jawabnya sederhana. Motivasi menjadi PNS adalah kepastian finansial dan aman atas jaminan masa depan yang cerah.

Jika lulus CPNS secara finansial tentunya PNS bakal mendapatkan gaji yang setiap bulannya, ditambah lagi pemerintah saat ini terus berupaya meningkatkan kesejahteraan PNS. Hal lainnya profesi PNS tidak mempunyai resiko besar dan aman terhadap pemutusan hubungan kerja selama masih mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Namun, berbeda dengan karyawan swasta yang dihantui pemecatan jika perusahaan mengalami kebangkrutan.

Fenomena sogok dan suap dalam sistem penerimaan CPNS sungguh merisaukan dan sudah menjadi tradisi. Sebab sistem ini tidak sekadar melahirkan kompetisi yang tidak sehat, tetapi ada dampak yang jauh lebih buruk, yakni dimulainya benih-benih korupsi. Memberantas calo Setiap pembukaan lowongan CPNS selalu disambut antusias oleh masyarakat. Akan tetapi, antusiasme yang disertai dengan rasa was-was. Sebab proses rekrutmen sering dicitrakan kurang transparan dan akuntabel, salah satunya masih banyak berita miring yang melibatkan calo dalam proses tes tidak asing lagi dilingkungan masyarakat.

Provinsi Bengkulu sudah delapan kali memilih Kepala Daerah, setiap periodenya belum menghasilkan perubahan secara optimal. Walaupun demikian setiap perubahan tentunya membutuhkan proses yang panjang. Sayang, sejak delapan kali periode, ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku calo saat melakukan tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Ini ditandai saat tes CPNS beberapa tahun lalu, Keterbukaan proses koreksi hingga pengumuman harusnya diinformasikan kepada peserta CPNS, untuk memberikan bukti tes CPNS benar-benar murni. Namun, realitanya Panitia penyelenggaraan tes CPNS tidak sama sekali mengumumkan hasil tes peserta dan membagikan Lembar Jawaban Komputer (LJK) kepada peserta.

Akankan tahun ini dan pengumuman hasil tes CPNS diumumkan ke peserta untuk bukti hasil tes benar-benar murni? Apabila Kepala Daerah berniat memberantas Calo atau Anak Menantu Keponakan dan Ipar (AMPI) saat tes CPNS, seharusnya Fiat Justitia Pereat Mundus Hendaklah Hukum Ditegakkan, Walaupun Dunia Harus Binasa (Ferdinand I, 1503-1564).

Sekedar mengingat tahun 2009, istri anggota dewan dari partai Golkar salah satu kabupaten di Bengkulu, mulanya gencar untuk melakukan akses tembus ke Univesitas Indonesia (UI) dalam melakukan pemeriksaan hasil LJK agar pemeriksaan benar-benar murni. Namun, itu hanya sebatas omongan belaka, dibalik itu semua ada maksud untuk meluluskan sang istri. Bukan hanya istri anggota Dewan yang lulus, anak Kepala Dinas Kabupaten Mukomuko, Kepala Badan juga ikut lulus dalam tes CPNS tahun 2009 lalu. Tentunya itu, masih ada kaitannya dengan AMPI. Pertanyaannya : apakah kelulusan ini ada hubungan dengan status jabatan di pemerintah?, Apakah kelulusan ini faktor kebetulan atau unsur kesengajaan? “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.” (Soe Hok Gie).

Untuk mewujudkan keinginan masyarakat menyelenggarakan tes CPNS yang murni dan bersih, tahun ini panitia di 10 kabupaten dan kota di Bengkulu yang membuka tes CPNS berencana mengumumkan nilai hasil tes dengan berdasarkan perangkingan. Tes pun digelar menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT). Setidaknya, ini mampu menghindari kelulusan AMPI (Anak Menantu Keponakan dan Ipar) saat tes CPNS 2014 dan menghindari omongan banyak warga yang merasa mampu dan layak untuk lulus. Saatnya Kepala Daerah menjawab.

Apakah Kepala Daerah dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan dan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas? Quid leges sine moribus (Roma).

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi atas dan situasi menyenangkan. Timbul Pertanyaan dalam konteks AMPI saat mengikuti tes CPNS, apakah Kepala Daerah mampu membawa ini betul-betul terbebas dari AMPI saat tes CPNS? Apakah Kepala Daerah tetap pada komitmen untuk menepati janji saat kampanye menuju perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan saat tes CPNS?.(**)

*Penulis Editor kupasbengkulu.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *