Torehan Pena Emak

Cerpen:  Benny Hakim Benardie Kata kunci hidup itu bergerak. Meskipun kita tidak bergerak, kehidupan  akan bergerak dengan sendirinya.  Konsekuensinya, tiada ada yang

Cerpen: Rumah Bengkulu

Oleh: Benny Hakim Benardie Sewindu sudah negeri ini tak ramai lagi oleh suara berisik   rintikan hujan, geruduk petir, pekikkan gaduh orang berteriak

Tekijang

Cerpen Benny Hakim Benardie “Masih Kecik Kudo Tembago. La Gedang Kudo Tambangan. Masih Kecik Bemain Cinto, La Gedang Bae Tunangan”.  Kisahko terjadi

Ta’un Sang Caleg

Cerpen: Benny Hakim Benardie Pagi itu Juli 2018, Negeri Bencoolen terasa panas sedari fajar. Entah apa sebabnya, sebulan terakhir cuaca terasa lengket

Raun ke Bencoolen Singapura

Cerpen: Benny Hakim Benardie Pekikan pengadu burung dara kian mengusik tidur siangku. Belum lagi suara pukulan kentongan petanda burung sudah mendarat, membuat

Terperangkap Di Pulau Biru

Cerpen: Benny Hakim Benardie Ceritera ini sudah empat dekade lebih berlalu. Tak ada lagi rasa pilu, sedih dan dendam yang berkecamuk di

Khayal Sang Cawara

Cerpen: Benny Hakim Benardie “Jangan kau bangunkan Cawara  yang sedang dilanda khayal. Biarkan dia larut dalam khayal indah, agar tak menangis saat

Asmara di Pantai Panjang

Cerpen:Benny Hakim Benardie Filosof Islam tersohor bernama Ibnu Rushd bilang: “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan

Balik Ke Bengkulu

Cerpen: Benny Hakim Benardie Aroma amis ikan terasa  menyengat,  saat kereta angin  mendorat melintas  daerah Kota Tua Pasar (Marga) Bengkulu nangterlenakan. Deburan

Menangiskah Gadis Bengkulu di Eropa

Cerpen: Benny Hakim Benardie “Tidurlah Amna, Dang lagi buat pekerjaan kantor. Kamu jangan ke luar pintu, nanti diganggu polisi Inggris yang lagi

Senja di Tapak Paderi

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie Awan kelabu tampak berarak menuju barat. Sang mentari pun sudah mulai bergerak tenggelam di ujung ufuk timur.

Cerpen: Perjuangan Ayahku

Oleh:  Benny Hakim Benardie Perjuangan seorang ayah baru disadari Abeng sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dirinya baru

Kepompong Kupu-Kupu

Cerpen: MeKaSa Bila esok hari datang kembali seperti sedia kala, dimana aku bisa tertawa lepas tanpa melihat mimpi buruk. Aku tidak ingin

No More Posts Available.

No more pages to load.