oleh

Danlanal Bengkulu Sering Dilaporkan Nelayan ke Menteri Susi

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Bengkulu Letnan Kolonel Laut Amrin Rosihan Hendrotomo
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Bengkulu Letnan Kolonel Laut Amrin Rosihan Hendrotomo

Bengkulu, kupasbengkulu.com – Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Bengkulu Letnan Kolonel Laut Amrin Rosihan Hendrotomo mengaku sering dilaporkan oleh nelayan Bengkulu via sms ke Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti karena dianggap menerima suap dari pengguna kapal trawl serta dikatakan telah menenggelamkan kapal nelayan.

Laporan para nelayan tersebut diakui Danlanal saat menyampaikan kata sambutan dalam acara silaturahmi dengan seluruh media di Kota Bengkulu yang digelar di Mako Pangkalan TNI Angkatan Laut Bengkulu pada Rabu (08/04/2015).

“Malahan saya sering dilaporkan oleh nelayan melalui SMS ke Menteri Kelautan dan Perikanan, dikatakan kalo saya sudah disuap sama nelayan trawl, ada juga dikatakan saya telah menenggelamkan, haduhhh,” kata Amrin.

Atas laporan tersebut, Danlanal Bengkulu ini juga menjelaskan bahwa Ia telah dipanggil atasannya untuk mengklarifikasi pesan singkat yang disampaikan para nelayan Bengkulu tersebut.

Dalam klarifikasi itu saya diperlihatkan beberapa SMS dari masyarakat Bengkulu yang menuduh saya membakar kapal trawl milik nelayan, padahal jangankan ia kapalnya dibakar para Anak Buah Kapal (ABK) justru ia bebaskan, mengingat pertimbangan kemanusiaan.

“Saya dituduh membakar kapal nelayan, padahal mereka saya bebaskan saat terjaring razia menggunakan pukat mini (trawl),” ungkapnya.

Tuduhan kedua lanjut dia, menyoal dirinya menerima sogok dari para nelayan trawl. Tuduhan kedua ia klarifikasi ke pimpinan bahwa sedikitpun ia tak pernah menerima sogokkan tersebut.

“Saya katakan tidak pernah dan haram menerima sogok dari para nelayan, saya ditugaskan untuk membantu nelayan mendapatkan layanan Corporate Sosial Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan,” tegasnya.

Ia membenarkan jika dirinya mendapatkan tugas untuk memberantas kapal trawl di perairan Bengkulu. Namun, menurut dia kapal trawl di Bengkulu berbeda dengan trawl di daerah lain.

“Trawl di Bengkulu ini kecil, nelayan mencari ikannya juga hanya sebatas bertahan hidup untuk makan, dengan alat sederhana,” lanjutnya.

Menurutnya, ia pernah membawa beberapa pejabat dari Kementerian kelautan dan Perikanan, ke perkampungan nelayan trawl mini tersebut.

“Pejabat kementerian justru terkejut mendapati kehidupan nelayan trawl mini di Bengkulu, hidup mereka miskin, mencari ikan hanya untuk bertahan hidup, bukan seperti trawl di tempat lain yang berskala besar,” bebernya.

Meski TNI-AL memberikan toleransi pada nelayan trawl mini di Bengkulu, namun TNI-AL telah memberikan batas waktu hingga September aktifitas mengambil ikan menggunakan trawl mini dihentikan.

“September mereka harus berhenti operasi, jadi saat ini mereka sedang berusaha pindah alat tangkap, jika September masih juga, maka akan ditindak,” ujarnya.

“Pemerintah harus memberikan alternatif matapencarian buat ratusan nelayan kecil yang menggunakan trawl mini itu, jika tidak negara sama saja telah melakukan pembiaran,” demikian Amrin. (bii)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

sixteen + six =

News Feed