oleh

Di Sungai Musi Ada Batu Berjalan Sendiri

batu kerbau
Batu Kerbau di Desa Kota Gading, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang ini bisa bergerak dan bertambah besar

kupasbengkulu.com – Bagi masyarakat Desa Kota Gading, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, mandi di sungai Musi tentu kurang lengkap jika tidak pernah mencoba naik ke atas batu Kerbau.

Batu kerbau yang dimaksud tentu saja bukan kerbau yang menjadi batu. Melainkan batu berukuran sangat besar, seukuran mobil Sedan, yang terletak di tujuh titik aliran sungai Musi di desa ini. Meskipun semuanya besar, namun ketujuh batu ini memiliki ukuran yang tidak persis sama.

Uniknya, menurut para warga setempat ukuran batu tersebut selalu membesar dan perlahan berjalan ke hulu bukan ke hilir. Rupanya, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya material yang menempel ke batu kerbau ini. Bahkan, batu juga perlahan terdorong oleh bebatuan serta pasir.

”Batu kerbau itu sudah jauh maju ke hulu sekitar enam meter,” kata salah seorang warga Desa Kota Gading kepada kupasbengkulu.com, Kamis (31/07/2014), Husen, sambil menunjuk salah satu batu yang terletak tidak jauh dari pinggir sungai.

Ia menambahkan, batu yang cepat membesar dan maju ke hulu adalah batu kerbau yang berada di aliran sungai deras.

”Jadi aliran sungai yang deras batu bagian depan terkikis sedangkan bagian belakang terjadi penimbunan pasir. Perlahan batu maju ke depan dan bagian belakang jadi bertambah materialnya. Makanya semakin maju dan besar, tapi proses ini lambat sekali,” terang Husen.

Apapun cerita soal batu kerbau ini, kata dia, keberadaannya telah menjadi bagian khas dari desa ini. Anak-anak maupun orang dewasa kerap menyempatkan diri untuk mandi di atasnya, terlebih jika air sungai sedang dangkal.

Tidak hanya itu, lanjut Husen, pengunjung dari luar desa bahkan luar kota sering meluangkan waktu untuk mandi sungai musi di atas batu kerbau ini.

”Banyak juga orang dari luar yang suka mandi di atas batu kerbau, apalagi sekarang musimnya para perantau desa ini pulang karena lebaran. Mereka biasanya hanya berani mandi di batu yang dekat pinggir sungai, soalnya batu yang lain ada di tengah, jadi takut hanyut,” pungkas Husen.

Penulis : Evi Valendri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed