oleh

Dikritik “Netizen” Gagal Pimpin Musirawas, Ini Jawaban Ridwan Mukti

Ridwan Mukti
Ridwan Mukti

Bengkulu, kupasbengkulu.com – Munculnya beberapa kritik dari masyarakat dunia maya (netizen) Bengkulu, di facebook, twitter, mengenai kegagalan Bupati Musi Rawas, Ridwan Mukti dalam memimpin daerah itu selama 10 tahun ditanggapinya serius.

Para netizen menggunakan data 10 tahun kepemimpinan Ridwan Mukti di Musi Rawas, dimana daerah tersebut masih tercatat sebagai daerah tertinggal.

Hal ini terlihat dari indeks pembangunan manusia (IPM), dimana Musi Rawas berada pada posisi 15 dari 17 kabupaten/ kota di Provinsi Sumatera Selatan. Menurut data kementerian daerah tertinggal di Sumatera Selatan, Musi Rawas juga berada pada urutan ke 3 dari 7 daerah tertinggal.

Menanggapi hal itu, ia mengucapkan terimakasih atas kecerdasan masyarakat Bengkulu yang jeli mencari jejak rekam dirinya yang juga berniat menjadi Calon Gubernur Bengkulu mendatang.

Ridwan Mukti melalui pesan SMS (Short Message Service), mengungkapkan dirinya membangun Musi Rawas bahkan diawali dari kondisi minus, bukan dari posisi nol. Oleh karena itu dinilai wajar apabila Musi Rawas belum bisa disejajarkan dengan daerah berkembang/ maju lainnya.

“Kami membangun Mura (Musi Rawas-red) diawali dengan kondisi dari minus, bukan nol. Data masih simpang siur. Bappeda kami lebih valid. Silahkan saja dihubungi. Yang pasti keadaan fisik di lapangan sudah jauh maju. Terimakasih,” tulisnya via SMS, Senin (17/11/2014).

Dilanjutkan Ridwan, beberapa keberhasilan yang berhasil diraihnya selama hampir 10 tahun memimpin Musi Rawas, di antaranya:

1. Masyarakat terisolasi di desa, tidak ada akses, dan gelap gulita karena tidak ada listrik. Selain itu tidak ada sekolah tingkat SMP, SMA, serta Perguruan Tinggi. Musi Rawas juga tidak memiliki pasar, dan tidak punya ibu kota setelah Lubuk Linggau mekar. Namun saat ini hal tersebut dapat diatasi.

2. Dibawah kepemimpinannya menghasilkan proyek-proyek strategis, seperti irigasi besar Air Lakitan, bandara Silampari terakses ke Jakarta, dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) 3×4 MVA. Tidak hanya itu, selama 10 tahun terakhir banyak investor perkebunan, pertambangan, dan industri yang masuk ke Musi Rawas. Terlihat juga pada APBD melesat naik, dari sebelumnya di tahun 2005 hanya Rp 300-an Miliar saja, saat ini mencapai Rp 1,5 Triliun, belum termasuk Musi Rawas Utara (Muratara) yang baru saja mekar.

3. Membangun budaya aparatur yang relatif bersih bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain.

“Kami juga berupaya membangun masyarakat di segala lapisan supaya menjadi masyarakat yang cerdas, sehat, dan mapan, selaras dengan kultur Darussalam,” katanya. (val)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 × one =

News Feed