oleh

Girik Cik: Analogi ‘Kicu-Kicu’ Calon Kepala Daerah

By: Cik Ben
Pemilihan Kepala daerah,  mulai gubernur hingga bupati tinggal setahun lebih dikit.  Waktu yang  relatif pendek untuk sosialisasi, tebar pesona, termasuk aksi ‘kicu-kicu’ mungkin.  Analogi yang terakhir Ini dipakai, mengingat, perebutan jabatan publik itu di ibaratkan dengan perang. “Bila ingin menang dalam perang, maka gunakanlah  ‘kicu-kicu’ (Tipu daya/taktik dan strategi)”.
Selagi ulah ‘kicu-kicu’ diterima dan tidak meresahkan warga pemilih yang ada, maka shahih-shahih saja. Bila ada yang nyalon Pilkada gubernur atau bupati  jujur-jujur saja, tidak di arena politik tempatnya. Dikatil saja lebih tepat. Istilah Pilkada diganti dengan Pilkabe.
Pertanyaannya adalah, Negeri Bengkulu ini perlu kepala daerah    sifatnya yang seperti apa? Arena sifat lebih krusial dari pada bentuk.
Dalam sifatnya, calon Kepala daerah   itu ada yang suka sekali bicara.  Kalau bicara lama,  suara pelan, obyek yang dibahas tidak jelas. Bahkan  sesekali  yang dibahas skala internasional,  tapi tidak menyelesaikan.
Ada calon Kepala daerah itu jarang bicara. Sekali dia bicara, maunya cepat. Bicaranya jelas dan tegas, tapi kurang dapat dipahami maksudnya. Selanjutnya ada calon pemimpin yang mahir bicara. Ceritanya selalu membuat yang mendengarkan mengangguk-angguk dan berfantasi hingga klimaks.  Padahal apa yang dikatakannya, omongkosong. “Otta Gedang Cirik Kerre”.
Lantas, dimanakah calon Kepala daerah yang jujur arif, adil, amanah  dan bijaksana? Kepala daerah seperti itu, mungkin hanya ada di  negeri khayal, negeri antahberantah.
Mungkinkah  Ta’un yang akan memimpin Negeri Bengkulu?  Tidak ada yang tidak mungkin di muka bumi ini. Tinggal kita sebagai pemilih yang memutuskan.  Siapa itu Ta’un? Sosok calon bersifat tanpa bentuk.
Wartawan tinggal di Bengkulu 
The post Girik Cik: Analogi ‘Kicu-Kicu’ Calon Kepala Daerah appeared first on kupasbengkulu.com.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed