oleh

Girik Cik: Bengkulu Kota Bahagia dan Religius?

By: Cik Ben
Tagline Kota Bengkulu Bahagia dan Religius, tak ditampikan lagi,  sangat baik dan bagus. Siapa yang tak mau bahagia, siapa yang tak mau hidup religius.  Hanya saja, kata orang melayu, “Hanya Jauhari yang Tahu Manikam”.  Hanya orang tertentu yang tahu, mana berlian mana kaca.
Cik hanya mau sok tampil saja memikirkan hal ini. Terus terng saja, Cik ini  hanya, “Rumah kecik idak bepagar, rumah gedang idak bepintu. Masih kecik idak belajar, la gedang idak pulo beguru”. Meskipun begitu, Cik Tau tapi Cik Selow.
Pertanyaanya, apa itu bahagia?  Bahagia itu saat suasana hati  menyenangkan. Tentunya  sangat  bergantung pada dimana, apa dan dapat apa seseorang atau kelompok, khususnya yang ada di kota Bengkulu ini.
Lantas apa itu  religius?  Religius itu merupakan sikap dan perilaku yang taat, patuh dalam menjalankan ajaran agama. ada sikap toleransi dalam visi kerukunan hidup antar pemeluk agama.
Kesimpulannya, apapun pengertian dan esensi dari kata bahagia dan religius, dapat dipastikan masih sekitar apa yang disebutkan diatas. Kalu idak pecayo, cubo kecek kek itik kengkang, pasti itik tu ngejawab, “Kona Nden”,  keceknyo.
Seseorang atau kelompok yang berada di cafe maksiat, dilokalisasi protistusi, dapat duit karena minta setoran dari hal itu misalnya, termasuk dapat duit (Dapek monce (Pitis) kato orang Bengkulu) hasil hasil korupsi,  juga dapat  bahagia.  Hanyut dalam  Ketuhanan, juga dapat bahagia.  Ini semua bisa didapat di kota Bengkulu. “Sumpahlah…….Haram telak…….Jemping-jemping”,   kato anak Bengkulu generasi Tahun 80-an.
Begitu juga religius. Sesorang atau kelompok  yang jarang ke rumah ibadah, apalagi tempat ibadah yang ditunjuk dan diperintahkan,  dapat menjadi taat dan punya sikap  toleran.
Konklusinya adalah,   Moengkinkah Bengulu menjadi kota Bahagia dan Religius? Tidk da yang tidak mungkin dalam hidup ini. Mukhinul wujud.  Segala yang ada diatas mua bumi ini segalanya mungkin.  Hanya saja, baru akan religius, bila diberantasnya cafe maksiat, lokalisasi dan jauhi pungutan liar yang berindikasi korupsi.
Terakhir, karena kota Bengkulu bagian dari Provinsi Bengkulu, tidak mungkin menghayal itu dapat dilakukan dan dinikmati sendiri. Perlu adanya  kebersamaan dalam partisisapi.
*Wartawan tinggal di Kota Bengkulu     
 
The post Girik Cik: Bengkulu Kota Bahagia dan Religius? appeared first on kupasbengkulu.com.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed