Rabu, Desember 1, 2021
Array

Girik Cik: Hilangnya Filosofi Gedung Balai Buntar

Baca selanjutnya

Gedung Balai Buntar merupakan representasi dari rumah adat Melayu Kota Bengkulu. Meskipun saat didirikan  Tahun 80-an, Kota Bengkulu masih banyak rumah bercirikan khas adat Melayu tegak berdiri.

Hingga sekira setahun yang lalu, Gedung Balai Buntar di Jalan Gedang Ibukota Bengkulu, Provinsi Bengkulu masih seperti apa adanya, seperti saat didirikan dulu. Setiap  orang yang melintas Jalan Gedang, entah itu wisatawan lokal atau bukan  interlokal,  saat  melihat Gedung Balai Buntar pasti akan berucap, “Nah….Itu Rumah Adat”.

Tapi kini,  itu semua hanya kenangan. Gedung Balai Buntar  kini sunah direnovasi menjadi bangunan modern. Meskipun bubungan  atap masih berbentuk Limas, namun ironisnya tangga yang menjadi pokok filosofinya dari rumah adat Melayu Bengkulu sudah dipapas. Dibuang dan dihilangkan dari ciri khasnya.

Gedung Balai Buntar aslinya sebelum dirubah.

Pertanyaannya adalah, seberapa penting peduli pada bangunan Rumah Adat itu di zaman kini? Apa masalahnya tangga itu dibuang dan makna filosofinya?

Tentu, penghargaan terhadap kebudayaan lokal itu sangat penting. Mengenyampingkan adat istiadat daerah, itu menunjukan seseorang yang mungkin gubernur atau walikotanya tidak punya kepedulian terhadap adat. Bahasa Melayu Bengkulunya,  “Idak tau kek adat atau idak beradat”.

Mengertikah kita bahwa bangunan Rumah Adat yang tetap didirikan, diadakan  dapat dijadikan momentun salah satu pengenalan kebudayaan daerah. Bangunan Rumah Adat dapat dijadikan nilai ekonomis. Lantas, bila bangunan itu ditiadakan, itu menunjukan seseorang tidak peduli akan kekayaan kebudayaan daerah. Apalagi mengerti akan makna dari filosofinya.

Tangga dalam Rumah Adat, merupakan salah satu dari keseluruhan bangunan. Perlu diingat, tangga salah satu identitas, tingkat atau kasta sosial dalam masyarakat kala itu. Dengan tangga yang ada di depan rumah, menunjukan masyarakat welcome terhadap siapa saja yang ingin bertandang.

Masalahnya sekarang adalah, apakah dengan hilangnya ciri khas bangunan yang representasi Rumah Adat, Gedung Balai Buntar, menunjukan kepala daerah tidak perduli akan kebudayaan lokal? Nah, kalau itu soal lain.

*Wartawan tinggal di Bengkulu

Berikut Ini Motor “Offroad” Trail Terbaik Sepanjang 2021

Kupas News – Industri sepeda motor setiap tahunnya selalu mengembangkan berbagai inovasinya. Sudah pasti teknologi dan spesifikasi terkini yang diterapkan pada keluaran terbaru mereka....

Kemenaker RI akan Bangun UPTP di Bengkulu

Kupas News – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) RI akan membangun Balai Pelatihan Kerja (BLK) Pusat di Bengkulu. Hal ini merupakan program transformasi BLK menjadi Unit...

Polres Bengkulu Tangkap Pelaku Begal yang Terjadi di 3 Titik

Kupas News – Gabungan Opsnal Polres Bengkulu di back up anggota polsek Gading Cempaka dan anggota jatanras Polda Bengkulu melakukan penangkapan pelaku tindak pidana...

YPIB Dorong Integritas Semangat Gotong Royong dan Pendidikan Berkarakter

Kupas News - Revolusi mental merupakan salah satu cara kebijakan Pemerintahan Jokowi-Maaruf dalam mengusung visi besar Indonesia Maju. Melalui Kementerian PMK visi itu diterjemahkan...

Air Terjun Sengkuang Rekomendasi Tempat Piknik Hingga Swafoto

Kupas News – Air Terjun Sengkuang merupakan tempat wisata yang berada pada di ketinggian 1.786 mdpl terletak di Desa Mekar Sari, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten...

Terbaru