oleh

Girik Cik: Poyok

-Tak Berkategori

By: Cik Ben  2016
Poyok atau wanita komersial, wanita tuna susila dan sebentuk, sesifat ini tidak akan hilang di dunia. Namun bukan berarti tidak dapat hilang di suatu daerah tertentu, bila para pengatur daerah mempunyai kemauan, kemampuan.

Orang Bengkulu bilang itu Poyok. Pertanyaannya, bagaimana kalau itu dilakukan oleh kaum pria? Sebutannya tetap sama, “itu Poyok lanang”.

Tuan Takur marah dengan istilah orang Bengkulu tersebut. Lebih baik memakai istilah daerah lain saja. Senista, seburuk itukah bahasa orang Bengkulu itu, sehingga dilarang digunakan?

“Bukankah di Bengkulu lokalisasi yang mendapat partisisapi pejabat ada dan sudah berlangsung lama tuan?” tanya Buyung.

Tuan Takur berkerut dahinya. “Ah….Masih menjamurnya tempat begituan tidak usah dibahas, itu urusan penguasa, pengurus daerah ini. Mendingan kita urus bahasa yang digunakan orang Bengkulu itu”, katanya.

Semua diam dan enggan berkomentar, meskipun raut mukanya penuh ekspresi. Cikben pun tampak mengoyang-goyangkan kakinya dan berkata lantang. “Tuan Takur, apa ukuran kami tidak boleh mengunakan sebutan bahasa kami sendiri. Bukankah di daerah lain juga punya bahasa dan tidak pernah di persoalkan?” Jelas Cik.

Salah kaprah sesorang yang mengatakan bahasa daerah orang lain tidak benar. Masih ingat Tahun 80-an jelas Cikben , masayarakat belum mengenal istilah pembantu rumah tangga. Mereka hanya kenal kata babu, yang artinya sama. Ingat, bahasa tutur itu pakai logika, bukan rasa.

Bahasa itu kemampuan yang dimiliki manusia untuk dipergunakan bertutur dengan manusia lainnya dengan tanda.

Penulis dan Jurnalis