oleh

Girik Cik: Tak Ada Pongli di Bengkulu

-Tak Berkategori-39 views

By:Cik Ben

Hujan Badai mendadak berhenti di Kota Bengkulu, pada Sabtu Malam, sekira pukul 9.20 WIB. Sang Penghayal tampak menumpang berteduh disebuah kantor mass media yang belum juga tutup. Aku berfikir , mungkin wartawannya baru akan pulang usai mengetahui ada tulisan internet positif atau mercusuar terpampang di layang komputernya.

Tak lama berlangsung, ada tiga orang yang mengaku dari pemeriksa keuangan negara dan penyidik sipil, mengetuk pintu sembari memperkenalkan diri. Sang penghayal tak hirau, karena hujan sudah redah. Saat melangkah, ia mengurungkan langkahnya karena rintik hujan kembali turun.

“Apakah bapak menerima uang dari penawaran kerjasama dengan dinas dan lembaga?” tanya pemeriksa.

Sang Owner menjawab. “Ia saya menerima dan ini bukti penerimaannya”.

Sang Penghayal yang menganing (mendengar) tak sengaja bertanya dalam hatinya. “Massa ada mass media diperiksa, dintanya soal tagihan yang didapat media? Memangnya di kota ada dinas atau lembaga yang berani memotong uang  mass media? Kalau ada itu namanya potongan liar” ?” Fikir Sang Penghayal  sembari nganing-nganing.

Tapi tidak mungkinlah ada ASN berani melakukan Pongli atau Potongan liar itu. Pidana dan nyari penjara namanyatu? Emangnya  di Kota Bengkulu tidak punya Saber Pungli, kejaksaan dan polisi apa?

Sang Penghayal  langkahkan kaki beranikan diri menantang hujan rintik-rintik tanpa badai. Sembari berjalan menuju pulang, Sang penghayal  terus menghayal kalau dirinya menjadi Saber Pungli, jaksa atau polisi.  “Ah….Walaupun aku wisatawan lokal, tapi kalau aku jadi itu, aku segera mencari kebenarannya”,  cerotehnya sok intelijen dan munglkin juga kurang makan pendap.

Rupanya Sang Penghayal paginya juga mendengar dari para wartawan soal potongan-potongan. Hanya saja dia tak jelas betul, meskipun terdengar ucapan soal  potongan 50 persen dari anggaran yang ditetapkan. Motif lainnya, menggelembungkan dana, lalu buat kesepakatan penerimaan, dengan kesepakatan cincai-cincai.

Karena itu sikap Sang Penghayal malam itu rusuh sendiri. Dia seperti orang yang memperkosa dirinya sendiri. Padahal itu Cuma khayal. Tidak mungkinlah ada ASN melakukan pemotongan 40 atau 50 persen terhadap mass media. Kecuali mass medianya dipimpin Thebigal. Ingat ini Kota Religius, Harapan dan Doa.

Wartawan tinggal di Bengkulu