Jumat, Mei 20, 2022
Array

Hari Laut Se-Dunia dan Indonesia dalam “Zona Perang”

Baca selanjutnya

sumber foto: strategi-militer.blogspot.com
sumber foto: strategi-militer.blogspot.com

Oleh: Firmansyah*

Entah dari mana awal munculnya kalimat “Ke Laut Aje” yang mengartikan sesuatu yang negative, buangan, tak ada makna khusus kalimat tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun bahasa prokem menyepakati kalimat tersebut relative tak baik.

Tak elok rasanya bila kalimat satire itu terus digunakan seolah mengeluarkan laut sebagai media besar ciptaan Tuhan. Apalagi pada 8 Juni yang juga diperingati sebagai Hari Laut Se-Dunia (World Oceans Day).

Pada tahun 2008, Majelis Umum PBB memutuskan bahwa, sejak 2009, 8 Juni ditetapkan sebagai “World Oceans Day” (resolusi 63/111, ayat 171). Banyak negara telah memperingati Hari Laut se-Dunia setelah Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan, yang digelar di Rio de Janeiro pada tahun 1992.

Lautan sangat penting untuk ketahanan pangan dan kesehatan dan kelangsungan hidup semua kehidupan, kekuasaan iklim kita dan merupakan bagian penting dari biosfer. Penunjukan resmi World Oceans Day adalah sebuah kesempatan untuk meningkatkan kesadaran global tantangan yang dihadapi oleh masyarakatinternasional sehubungan dengan lautan.

Hampir 75 persen permukaan bumi dikuasai laut artinya, ia dapat menjadi lawan tetapi jugas kawan bagi penghuni bumi lainnya.

Mengapa Selalu Berorientasi ke Daratan?

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di seluruh dunia. Indonesia yang memiliki garis pantai 81.000 km, merupakan terpanjang kedua se-dunia setelah Kanada.

Sudah seharusnya Indonesia melakukan orientasi pembangunan dan pengelolaan laut. Saat ini Indonesia melihat laut sebagai ruang eksploitasi massif yang dilakukan oleh pelaku usaha dan nelayan misalnya dengan mengambil hasil laut.

Padahal lebih dari itu ada setumpuk keuntungan jika laut dikelola dengan baik dan lestari, mulai dari kepentingan pertahanan, ekonomi, dan seterusnya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan merilis, besaran potensi hasil laut dan perikanan di Indonesia mencapai Rp 3.000 triliun per tahun, sedangkan yang sudah dimanfaatkan Rp 225 triliun atau sekitar 7,5 persen saja. (sumber detik.com).

Sementara aksi pencurian ikan oleh nelayan asing terus terjadi di perairan Indonesia, aparat dan nelayan Indonesia kerap frustrasi akan hal ini. Aktifitas di darat begitu maksimal dilakukan sementara luas daratan mendekati batas, mengakibatkan menumpuknya persoalan pangan, lingkungan hidup, dan lainnya. Sudah saatnya laut dilirik sebagai potensi tak terbatas.

sumber: berita.plasa.msn.com
sumber: berita.plasa.msn.com

Laut Indonesia dalam “Zona Perang”
Perkembangan Militer China yang begitu pesat membuat pengaruh China begitu kuat di ASEAN, bahkan sudah bisa menandingi pengaruh Amerika Serikat dan Sekutunya di ASEAN.

Nah, Amerika Serikat yang tidak ingin kehilangan pengaruhnya di ASEAN, akhirnya merubah focus kehadiran militer mereka yang semula di fokuskan di Timur Tengah, akhirnya di geser ke Asia Pasific. Hal ini sudah di konfirmasi oleh pemerintah AS, dan ditandai dengan penempatan sekitar 2500 personel Marinir AS di Australia.

China yang begitu menyadari pentingnya Jalur Laut Cina Selatan, dengan didukung oleh militer mereka yang semakin kuat secara drastis, melakukan sebuah langkah yang sedikit “tidak masuk akal” namun cukup “beralasan” untuk melakukan Klaim Sepihak atas Kepulauan Paracel dan Spratly yang berada di kawasan Laut Cina Selatan.

Saat ini, bisa dikatakan dua kekuatan dunia yaitu China dan Amerika berebut pengaruh di ASEAN. Tidak hanya berebut pengaruh secara militer, tetapi juga berebut pengaruh dalam hal idiologi dan juga ekonomi. Terkait dengan konflik Laut Cina Selatan, keduanya juga berebut pengaruh secara militer untuk mendapatkan dukungan dari negara-negara ASEAN.

Indonesia termasuk negara yang paling “netral” dalam menyikapi hal ini. Posisi netral Indonesia dan fakta bahwa Indonesia adalah negara paling besar dan paling berpengaruh di ASEAN, membuat kedua kekuatan tersebut berusaha mengambil hati Indonesia agar Indonesia mendukung salah satunya.

Posisi Tawar yang Manis
Tak dapat dipungkiri Laut Cina Selatan yang melintas Indonesia menghubungkan, Malaysia, Philipina, dan Vietnam merupakan jalur laut paling sibuk di dunia.

Indonesia merupakan kekuatan besar yang dilirik Amerika dan China dalam upaya hegemoni pengaruh.

Dibutuhkan pemimpin bangsa dan negosiator ulung untuk memainkan peran intenasional Indonesia dalam wilayah perpolitikan kelautan baik dari sisi ekonomi dan pertahanan.

*Penulis adalah Masyarakat Menulis Bengkulu 

Dikutip dari : DidikSetiyawan.blogspot.com, detik.com dan wikipedia

 

Maraknya Konflik Agraria, Dempo Xler Menilai Hukum Tidak tegak

Kupas News, Bengkulu – Ketua Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Dempo Xler turut bersikap atas maraknya konflik agraria yang terjadi di wilayah Provinsi Bengkulu....

Ketua Dewan Supriyanto Dampingi Helmi Hasan Terima Penghargaan WTP dari BPK

Kupas News, Kota Bengkulu – Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu berhasil mempertahankan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pengawas Keuangan (BPK) atas laporan keuangan...

ARGA Gelar Halal Bihalal Bertajuk Mendukung Pers Bersatu Membangun Negeri

Kupas News, Mukomuko – Aliansi Remaja Gemar Aktifitas (ARGA), Kamis (19/05) menggelar acara Halal Bihalal dan Silaturahmi bertajuk “Mendukung Pers Bersatu Membangun Negeri” di...

Sera dan Joan Bakal Jadi Kado Spesial JMSI di HUT Kabupaten Seluma

Kupas News, Seluma - Dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Seluma yang ke-19, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Seluma mempersembahkan kado Spesial...

Posisi Penting Indonesia pada Kerentanan Kawasan dan Konflik Global

Kupas News, Artikel - Bulan Mei adalah bulan penting dalam kalender politik bangsa Indonesia. Pada bulan ini kita merayakan hari kebangkitan nasional sebagai momentum...

Terbaru