oleh

Ini Masukan Tokoh Non-Muslim Tentang Program “Bengkulu ku Religius” (2)

Romo Tan Sun Lie (Pemimpin Umat Budha Vihara Buddhayana Kota Bengkulu).
Romo Tan Sun Lie (Pemimpin Umat Budha Vihara Buddhayana Kota Bengkulu).

kupasbengkulu.com – Setelah masukan dari tokoh umat Kristen, Pdt. Maruli Panggabean, S.Th, kini giliral tokoh umat non-muslim lainnya memberikan pandangan tentang program teranyar Walikota Helmi Hasan, Program ‘Bengkuluku Religius’. Berikut penelusuran lanjutan tim kupasbengkulu.com.

Romo Tan Sun Lie (Pemimpin Umat Budha Vihara Buddhayana Kota Bengkulu)

Dinilai Romo Tan Sun Lie, program Walikota ini sebenarnya sangat baik jika niatnya hanya sekedar memberikan motivasi bagi masyarakat agar beramai-ramai melakukan ibadah secara berjamaah. Namun yang perlu ditekankan adalah reward atau hadiah itu jangan sampai menggoyangkan iman masyarakat, dan membelokkan niatnya dari yang awalnya beribadah memohon perlindungan dan pengampunan Sang Pencipta, malah ingin mendapatkan hadiah haji, umroh, dan mobil.

“Saya sih tidak tahu apakah itu diharamkan atau tidak, karena kan ini diatur dalam ajaran agama masing-masing. Yang jelas kalau dari saya, sepertinya tidak perlu sampai seperti itu untuk membangkitkan suasana religius di Kota Bengkulu. Anggaran yang ada kan bisa dialokasikan kepada program yang lebih tepat sasaran,” ujar Romo Tan Sun Lie, Jumat (14/02/2014).

Dijelaskan Romo Tan Sun Lie, dirinya tak menapik kalau ingin adanya keadilan sesama umat beragama. Terkait dana yang dianggarkan senilai Rp 2,3 miliar untuk memberangkatkan umroh masyarakat, dirinya mengaku tak berani berharap terlalu banyak.

“Kalau kami jujur saja tak pernah ada perasaan iri atau apapun yang negatif terkait kebijakan pemerintah dalam hal program maupun anggaran. Tapi kalau ditanya ingin atau tidak reward seperti itu, jawabannya ingin. Karena kita sebagai masyarakat punya hak dan kewajiban yang sama. Sesuai Pancasila dikatakan adanya prinsip keadilan. Tapi kita bersabar saja,” papar Romo Tan Sun Lie.

Ditambahkan Romo Tan Sun Lie, dirinya menyadari sebagai kaum minoritas memang bukan menjadi pihak yang diprioritaskan. Namun dirinya berharap pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kaum minoritas.

“Kami tidak berharap banyak. Materi bukan persoalan bagi kami. Banyak jemaat kami yang mampu secara materi, malah di atas rata-rata. Namun yang ingin dilihat di sini adalah perhatian pemerintah, sedikit saja sangat berarti bagi kami. Itu yang menyatakan keberadaan kami diakui,” tutupnya. (val)

bersambung…

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed