oleh

Jalan Berlumpur, Masyarakat Enggano Merasa Terisolir

kondisi jalan di pulau enggano
Kondisi jalan yang berlumpur menyebabkan masyarakat Pulau Enggano merasa terisolir.

kupasbengkulu.com – Masyarakat Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, terus mengeluhkan kondisi jalan utama yang sangat memprihatinkan dan tidak kunjung mendapat penanganan dari pemerintah.

Pulau Enggano memiliki 6 desa, meliputi Desa Kahyapu, Ka’ana, Malakoni, Apoho, Meok dan Desa Banjarsari. Dari 6 desa tersebut, 4 desa diantaranya sama sekali tidak memiliki akses jalan yang layak. Kondisi jalan di Desa Kahyapu, Ka’ana, Malakoni dan Apoho hanya berupa jalan tanah berlumpur yang panjangnya kurang lebih 15 Km.

Saat ini intensitas hujan di Pulau Enggano cukup tinggi, yang secara otomotis memperparah kondisi jalan. Padahal jalan utama tersebut adalah urat nadi perekonomian masyarakat setempat.

Berdasarkan data pihak kecamatan, saat ini penduduk Pulau Enggano berjumlah 3.008 jiwa. Setiap harinya masyarakat Pulau Enggano terpaksa melalui jalan tersebut dengan ancaman keselamatan.

Karenanya masyarakat setempat berharap tindakan nyata dari pemerintah Provinsi Bengkulu maupun Pemerintah Bengkulu Utara. Buruknya insfrastruktur jalan sangat menghambat pendristribusian hasil bumi yang dipasok ke Kota Bengkulu.

Ketua Suku Kaudara Abobo, Johansen Kaarubi berpendapat minimnya perhatian dari pemerintah membuat masyarakat setempat merasa terisolir.

“Indonesia sudah merdeka selama 68 tahun, tapi kami disini belum tahu bagaimana rasanya benar-benar merdeka. Lihatlah jalan itu, kalau istilah kasarnya seperti kubangan. Apa-apa belum ada disini, listrik belum ada, rumah sakitnya juga belum maksimal,” papar Johansen.

Sementara Kapolsek Enggano, AKP Purwanto menuturkan, buruknya kondisi jalan tersebut sangat meresahkan masyarakat setempat.

“Jelas, masyarakat Enggano resah, begitu pula kami yang bertugas disini. Jalan ini kan sebagai urat nadi, kalau kondisinya seperti saat ini bukan hanya perekonomian yang terganggu, aktivitas pendidikan pun ikut terganggu. Anak-anak sering terlambat ke sekolah, kadang mereka memilih untuk tidak sekolah karena jalannya sulit dilalui,” ujar Purwanto, Senin (20/1/2014).

Pada tahun 2013 lalu pemerintah melalui APBN senilai Rp 15 miliar, melakukan pengerasan jalan sepanjang 7 kilometer. Pekerjaan tersebut dilakukan dari Desa Apoho, Meok, hingga Desa Banjarsari.(beb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed