oleh

Karya Jurnalisme Sastrawi

-Tak Berkategori

Ilustrasi sastra

Oleh : Adhyra Irianto

TAHUN 1960, Tom Wolfe warga Amerika membuat sebuah terobosan di dunia jurnalistik. Wolfe adalah seorang novelis yang biasa bermain diksi dalam karya fiksi.

Namun, Wolfe juga adalah seorang jurnalis, yang bicara fakta berdasar data. Kemudian, tahun itu dia membuat karya jurnalistik yang merupakan hasil dari “perkawinan” antara karya fakta dan fiksi yang kemudian disebut feature.

Laporan jurnalistik dengan cita rasa sastra itu menuai perhatian. Cerita fakta yang diangkat begitu hidup, sehingga menyentuh rasa pembacanya, seperti membaca novel pada umumnya. Setelah itu, muncul istilah jurnalisme sastrawi.

Pedoman jurnalisme sastra kemudian distandarkan oleh Roy Peter Clark beberapa waktu kemudian. Menurutnya, rumus dasar 5W+1H adalah esensi dari laporan jurnalistik. Oleh sebab itu, dari berbagai pengenalan jurnalisme sastra di buku-buku, disebutkan bahwa rumus dasar feature juga 5W+1H.

Hanya saja, What berganti plot, where menjadi setting, when menjadi cronology, why menjadi motive, who menjadi character dan how menjadi narasinya.

Setiap penulis memiliki rasa dan perspektif yang berbeda dalam memandang sastra. Pilihan diksi setiap penulis, untuk membentuk satu kalimat, hingga menjadi tulisan utuh.

Untuk itu, redaktur dan penulis juga memiliki sense yang berbeda dalam satu tulisan. Sehingga, seperti yang disebut Tom Wolfe, redaktur akan bekerja lebih irit untuk urusan mengedit tulisan feature.

Untuk editing tulisan feature, editor biasanya hanya membenarkan susunan huruf yang mungkin terbalik, atau mungkin penggunaan satu atau dua kata yang kurang tepat. Sisanya, tetap pertahankan bentuk utuh dari tulisan jurnalisnya, sebab mereka memiliki sense dan cita yang ditanamkannya dalam setiap diksi yang dipilih.

Kembali ke masalah fiksi dan fakta, keduanya seperti api dan air, atau mungkin bumi dan langit. Memadukan keduanya, bukan pekerjaan mudah. Sapardi Djoko Damono menyatakan bahwa antara fiksi dan fakta, seperti ada jurang yang terlalu terjal untuk dijembatani.

Namun, khusus untuk karya jurnalistik sastrawi, penulis memiliki pedoman sebagaimana merangkai karya jurnalisme lainnya. Hanya saja, setiap rasa berbeda dari penulis atau citizen journalist sebaiknya jangan terlalu “direcoki” dengan selera redaktur.(**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *