oleh

Kasus Mendiang Yuyun, Provinsi Bengkulu dilanda Degradasi Moral

Anggota
Anggota DPRD Provinsi Bengkulu

Bengkulu, Kupasbengkulu.com-Pasca terjadinya kekerasan seksual hingga korban Yuyun (14) pelajar asal Padang Ulak Tanding  meninggal dunia, banyak membuat prihatin banyak masyarakat.

sala satunya tokoh masyarakat yang juga Anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari Komisi IV,  Sefty Yuslinah yang merasa sangat prihatin dengan prilaku A Moralitas masyarakat Provinsi Bengkulu, ditambah lagi dengan peredaran minuman keras dan gejala sosial lainnya yang semakin memburuk.

“Beberapa waktu lalu, Presiden RI Jokowi menyatakan kalau Indonesia saat ini dalam darurat Narkoba. Kalau  saya lihat untuk kasus YN ini darurat Miras, darurat sosial, dan darurat moral serta ini kejahatan yang luar biasa dialami, khusunya di Provinsi Bengkulu ini,” kata Sefty, Minggu (08/05/2016)

Sefty menekankan, Provinsi Bengkulu saat ini harus segera berbenah dalam pembangunan akhlak dan moralitas masyarakat, yang kian hari kian memburuk. Apalagi saat ini sudah banyak terjadi peristiwa kekerasan terhadap perempuan, yang dirasa sangat menyakitkan bagi kaum perempuan.

Oleh karena itu, dirinya juga mengajak seluruh pihak pemerintah bersama – sama bersinergi dalam menuntaskan permasalahan perempuan, khususnya di Bengkulu.

“Disini kita berharap Pemerintah Provinsi Bengkulu, dalam hal ini gubernur, Walikota  ataupun bupati untuk menindaklanjuti Undang – Undang Perlindungan Perempuan dan Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya Rejang Lebong. Kita juga berharap untuk mewujudkan hal ini, kita berharap pihak eksekutif, legislatif dan juga yudikatif serta elemen – elemen lain, harus juga dilibatkan,” jelas Sefty

Dalam kasus Yuyun kata Sefty, merupakan bencana besar bagi Provinsi Bengkulu yang sudah sangat memperihatinkan dalam hal akhlak dan moralitas. Peran pihak keluarga haruslah menjadi motor penggerak dalam membangkitkan kembali akhlak dan moral sebuah keluarga.

“Saya melihat kasus YN ini sebuah pukulan keras, dan ini juga lebih dahsyat dari tsunami Aceh sebenarnya. Karena ini adalah pukulan untuk semua masyarakat Provinsi Bengkulu, dan juga masyarakat yang ada di Indonesia. Pendidikan agama dan religiusitas terhadap tumbuh kembang anak, menjadi kekokohan sebuah keluarga, dalam membangun watak seorang anak. Karena hulunya sebuah prilaku seseorang itu adalah keluarga,” pungkas Sefty. (cr5)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed