oleh

Kearifan Lokal Kabupaten Benteng Nyaris Tertinggalkan

BJ Karneli
Ketua I Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Benteng.

Bengkulu Tengah, Kupasbengkulu.com – Melihat kondisi Kabupaten Bengkulu Tengah yang memiliki bermacam cerita rakyat, legenda,  sejarah dan tradisi budaya, namun minim literatur.

Apalagi Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) hitrogen dengan berbagai suku dan agama dengan berbagai cerita nyaris habis akibat ketidakperdulian berbagai elemen masyarakat. Ironisnya, Pemerintah Kabupaten Benteng  kurang peduli terhadap budaya dan tradisi yang ada.

Kearifan lokal adalah salah satu pilar yang bisa menjadi ciri khas  daerah, dan juga salah satu mendukung pembangunan Kabupaten Benteng.

Menurut Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA), BJ. Karneli Kabupaten Benteng mengatakan, rasa kepedulian dari pemerintah setempat, tidak ada kearifan lokal yang ada di wilayah ini. Seharusnya peran dari eksekutif dan legislatif sebagai komando diwilayah ini, harus ada rasa memiliki kearifkan lokal yang ada saat ini. Sehingga tidak punah dengan zaman modern, yang berdampak pengaruh terhadap generasi sangat kuat.

Rasa Kedaerahan
Seyogyanya kearifan lokal yang ada di wilayah kita cintai ini, jangan sampai punah dengan acaman zaman globalisasi dan zaman modern. Jika kearifan lokal seperti adat istiadat, kesenian daerah serta nilai nilai budaya lokal yang memiliki cerita sejarah, yang nyaris hilang ditelan bumi.

“Dengan kearifan lokal daerah ini dibudayakan, maka pesan yang disampaikan untuk masyarakat, juga ada yang tersampaikan. Memiliki rasa kedaerahan yang bisa melekat dengan masyarakat. Jika kita hanya terhanyut dengan zaman modern sekarang, maka pesan moral yang ada hanya sedikit tersentuh masyarakat kita,” ungkap BJ. Karneli.

Agar kearifan lokal ini nyaris hilang termakan arus zaman modern kata BJ. Karneli, meminta kepada pihak pemerintah, untuk  membuat peraturan daerahnya tentang kearifkan lokal. Sehingga kearifkan lokal ini dapat terbentuk sebuah wadah kelembagaan kedepannya.

Masyarakat meminta kepada berbagai ada kepedulian otoritas. Apa lagi  pejabat yang ada, tidak punya rasa keterpanggilan untuk memikirkan  kearifan lokal.

Jika hal ini dibiarkan, maka diperkirakan dari tahun-ketahun kearifan lokal yang ada di Kabupaten Benteng, tergerus termakan arus zaman, kalau  tidak ada yang peduli dengan kearipan lokal tersebut.

Penulis: Ferizal Adek

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed