oleh

Kecintaan Pelajar Indonesia Terhadap Sastra Terus Merosot

Taufiq Ismail
Taufiq Ismail

kota bengkulu, kupasbengkulu.com – Penyair dan sastrawan Indonesia Taufiq Ismail hari ini (14/3/15) di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Bengkulu mengatakan kecintaan terhadap sastra dan kemampuan pelajar Indonesia untuk menulis karangan sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini terus merosot bahkan nihil.

Penyebab kurangnya kecintaan terhadap sastra, jelas dia, pertama yaitu sistem pendidikan di Indonesia yang tidak menerapkan kewajiban membaca buku sastra bagi pelajar dan kewajiban untuk menulis.

Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia setiap hari hanya dijejali dengan teori-teori tata bahasa. Siswa juga tidak diberikan kesempatan untuk dilatih menulis setiap hari di sekolah.

Kewajiban untuk membaca buku sastra dan kewajiban untuk menulis karangan, beber dia, tidak diberlakukan hampir di seluruh sekolah di Indonesia sejak tahun 1950 hingga 2015.

Sedangkan di berbagai negara di belahan dunia kewajiban membaca sastra diberlakukan pada sistem pendidikan.

Perbandingan data kewajiban membaca buku sastra dan kewajiban untuk menulis karangan di beberapa negara, seperti di negara Malaysia siswa SMA disana diwajibkan membaca 6 judul sastra selama 3 hingga 4 tahun, dan tugas menulis karangan sebanyak 14 halaman ketik per minggu atau sebanyak 2016 halaman ketik selama 4 tahun.

Kemudian, tambah dia, di Amerika Serikat mewajibkan siswa membaca 32 judul sastra selama 3 atau 4 tahun di SMA.

Indonesia sendiri saat ini sangat jauh tertinggal dari negara negara tersebut.

Padahal, jika kembali melihat ke zaman Hindia Belanda, pada masa itu tahun 1939-1942 di Yogyakarta sudah diterapkan kewajiban membaca sastra bagi para pelajar sebanyak 25 judul sastra. Indonesia bahkan memiliki kewajiban membaca sastra melampaui negara Malaysia. Lalu pertanyaannya mengapa demikian tertinggalnya Indonesia.

“Tugas mengarang di sekolah itu seperti shalat Idul Fitri, hanya sekali dalam setahun itu pun judul karangannya seragam, liburan ke rumah nenek atau cita-citaku” sindir Taufiq.

Persolan yang mempengaruhi keadaan tersebut juga adalah karena buku-buku sastra tidak disediakan di perpustakaan sekolah.

Disamping itu, pengajar bahasa dan sastra di sekolah bukanlah guru yang memiliki kecintaan terhadap sastra. Sehingga pelajar tidak termotivasi untuk membaca atau mempelajari sastra dan menyebabkan siswa akhirnya tidak memiliki kemampuan untuk menulis.

Untuk mengejar ketertinggalan hampir setengah abad lebih ini, saran dia, dilakukan yaitu dua hal yang diajarkan di SMA dalam bahasa dan satra yaitu membaca buku dan menulis karangan.

Lewat menulis karangan tata bahasa yang digunakan siswa dalam karangan akan di cek.

Sedangkan teori tata bahasa cukup diajarkan di SD dan SMP saja. Jumlah judul buka sastra yang wajib dibaca disarankan, 6 judul bagi SD, 9 judul bagi SMP dan 15 Judul bagi SMA, agar betul-betul efektif diajarkan di kelas.

Semestinya pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan buku sastra 50 eksemplar perjudul di Perpustakaan sekolah.

“Saya mengimbau agar para pelajar dan mahasiwa untuk mencintai sastra Indonesia. Karena peradaban suatu bangsa diukur dari seni budayanya salah satunya adalah sastra,” tutupnya.(cr12)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

two × two =

News Feed