oleh

Keluhan Warga Trans Tanjung Agung Kaur…

-Tak Berkategori-2 views
kondisi jalan menuju Trans Tanjung Agung, Kabupaten Kaur
kondisi jalan menuju Trans Tanjung Agung, Kabupaten Kaur

Kaur, kupasbengkulu.com – Sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK) Trans Tanjung Agung, Desa Tanjung Agung Kecamatan Tetap, Kabupaten Kaur mengeluhkan jalan dan lampu. Pasalnya sejak dibukanya Trans Tanjung Agung atau empat tahun berlalu warga menikmati penerangan lampu dengan tenaga surya, serta jalanan yang berlubang rusak parah, warga hanya bisa mengeluh, karena hingga saat ini belum ada perbaikan dari Pemda setempat.

Tansi (30) warga Trans Tanjung Agung mengatakan jika mereka sangat berharap perhatian dari Pemda Kaur, terutama perbaikan jalan dan lampu.

Dari Desa Tanjung Agung menuju Trans Tanjung Agung jaraknya diperkirakan 8 Kilometer (KM). Sejauh 8 km tersebut kondisi jalanan yang turun naik bukit tersebut rusak parah, diperkirakan lebar jalan 6 meter yang masih tanah liat dan berlobang serta berlumpur jika musim hujan. Untuk menuju ke desa tersebut butuh stamina yang kuat, karena perjalanan mengocok perut. Dan hanya beberpa meter saja jalanan yang menanjak dan curam dirabat beton.

“Kami sangat berharap untuk perbaikan jalan ini, karena jalan bagi kami adalah yang paling utama dan kami mencari nafkah dengan melewati jalan ini. Sedangkan kondisi jalan yang jaraknya 8 km ini ya seperti ini lihatlah sendiri, seperti bukan jalan lagi. Palagi jika hujan, kami tidak bisa turun kebawah untuk menjual hasil kebun kami kepasar. Akibatnya kami terpaksa menunggu berhari-hari supaya jalanan bisa dilewati, dengan waktu selama itu sayuran yang akan kami bawa kepasarpun sudah busuk, kalau sudah begini kami tidak bisa berbuat apa-apa,” pungkas Tansi mengeluhkan.

Selain kondisi jalanan yang rusak parah, Tansi juga mengeluhkan penerangan lampu tenaga surya yang ada di desanya. Pasalnya setelah empat tahun menikmati lampu tersebut mereka tidak pernah puas dengan penerangannya. Karena mereka hanya bisa menikmati lampu tenaga surya tersebut pada malam hari, itupun hanya beberapa jam saja. Ditambah lagi jika cuaca mendung dan hujan, lampu tenaga surya tersebut tidak bisa menyala, karena tidak dapat sinar dari matahari.

“Untuk lampu, kami hanya menikmati pada saat malam hari saja. Itupun cuma beberapa jam, dan setelah itu lampu sudah mati, ditambah lagi saat ini kondisi lampu tenaga surya ini sudah rusak dari gardu induknya,” papar Tansi. (mty)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

five × one =