oleh

Kepala OJK : Hadapi AEC 2015, Bengkulu Harus Punya ‘Point of Interest’

Kepala OJK
Kepala OJK Perwakilan Bengkulu, Fauzi Nugroho

kupasbengkulu.com – Tak terasa tahun 2015 semakin dekat, pertanda akan segera dibukanya Asean Economy Community (AEC), yang mana nantinya akan menjadikan arus perdagangan barang, jasa, maupun investasi antar negara Asean akan semakin bebas. Lalu bagaimana dengan Bengkulu, sudah siapkah kita?

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Bengkulu, Fauzi Nugroho, mengungkapkan, untuk menyiapkan diri menghadapi AEC 2015, Bengkulu harus memiliki ‘Point of Interest’ atau sesuatu yang menarik bahkan unik. Dalam AEC, berbagai potensi daerah akan ‘diadu’, sehingga kita harus menyiapkan diri menjawab tantangan ini.

“AEC 2015 kita ‘diadu’ dengan daerah lain yang jauh lebih maju, ini tantangan bagaimana kita harus bisa bersaing. Untuk itu kita harus punya kompetensi yang unik, yang tidak dimiliki oleh yang lain, dan tidak mudah untuk ditiru. Ini competitive advantage, keutungan karena persaingan,” terang Fauzi, Kamis (28/8/2014).

Disebutkannya, bagaimana daerah lain di Indonesia seperti Jogja yang terkenal dengan Keraton-nya, atau Bali dengan Pantai Kuta, bahkan Papua dengan Raja Ampat-nya mampu mendatangkan banyak investor asing yang bergabung mengembangkan bisnis. Bengkulu pun juga harus demikian, paling tidak ada salah satu potensi daerah yang mencuat sama terkenalnya dengan potensi di daerah lain.

“Istilahnya ada gula ada semut. Bengkulu harus buat sesuatu yang menarik. Apakah mau bikin Dream Land, atau bikin Home Disney Land dengan ‘menyulap’ Pulau Enggano, misalnya, atau mungkin Pantai Panjang yang lebih kita kembangkan. Jangan sampai tidak ada satu pun yang unik dari Bengkulu,” lanjutnya.

Dilanjutkan Fauzi, pertumbuhan ekonomi Bengkulu memang mendekati angka tujuh persen, namun angka kemiskinan juga meningkat. Sehingga yang terlebih dahulu dilakukan pemerintah adalah membangun persatuan masyarakat, dari mana pun golongannya, untuk satu visi membangun Bengkulu.

Terlebih destinasi penerbangan ke Bengkulu sudah bertambah, otomatis menjadi salah satu sarana mendekatkan Bengkulu dengan daerah lain. Sehingga pemerintah maupun masyarakat harus mampu mengundang investor, yang secara tidak langsung nantinya akan membuka banyak kesempatan dan lapangan kerja.

“yang harus dibicarakan terlebih dahulu adalah membangun ‘Bengkulu Satu’. Dari golongan, ras, suku, atau agama mana pun masyarakat Bengkulu harus kompak punya cita-cita yang sama membangun Bengkulu. Penduduk Bengkulu tidak banyak, hanya Rp 1,7 juta jiwa. Kalau kita tidak kompak, siapa yang mau bangun Bengkulu. Kebhinekaan yang membuat kita maju. Kita tidak dikuasai bangsa asing,” pungkasnya.(val)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

13 + fourteen =

News Feed