oleh

Kisah ‘Bos Gangster Pachinko’ Johny Indo

joni
Yohanes Herbertus Eijkenboom atau akrab disapa “Jhony Indo”

kupasbengkulu.com – Yohanes Herbertus Eijkenboom atau akrab disapa “Jhony Indo”, perampok legendaris di Jakarta, yang bersama komplotannya dalam gangster Pachinko (Pasukan China Kota) sempat membuat geger karena kerap melakukan aksi perampokan terhadap orang-orang kaya asing di Indonesia.

Selama melangsungkan aksinya merampok emas di akhir tahun 1970 hingga awal 1980, Johny telah mengumpulkan 129 kilo gram emas yang semuanya dibagikan pada masyarakat miskin. Kehadiran Jhony Indo dan gengster Pachinko itu tentu saja menjadi target dari kepolisian yang masih bersatu dengan ABRI saat itu, beberapa kali ia harus keluar masuk penjara dan terakhir di Nusa Kambangan selama 14 tahun.

“Saat itu yang menjadi target rampok saya adalah orang-orang kaya asing di Indonesia, mereka juga banyak mengambil harta dari Indonesia, makanya saya rampokin dan uangnya saya bagi-bagikan ke masyarakat miskin,” katanya dalam sebuah acara yang digelar Kementerian Sosial RI di Bengkulu, Rabu (3/9/2014).

Merasakan dinginnya jeruji besi Nusa Kambangan, Johny sempat melarikan diri bersama anak buahnya dari pengamanan super ketat penjara dan menyerah setelah 12 hari bertahan hidup di tengah hutan. Namun yang membuatnya lebih terkenal, dalam aksi itu, Johny melarikan diri dengan berenang menyeberangi lautan.

Kisah kelam tersebut terurai dengan lancar dan polos oleh Jhony yang saat ini berganti nama menjadi Ki Umar Billah Al-Jhon Indo di hadapan 29 Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (BWBLP) di Kota Bengkulu.

Selain menyampaikan kisah kelam di masa muda, Johny juga mengisahkan perjalanan hidup yang mengarahkannya menjadi seorang pendakwah dari kampung ke kampung dan menjadi pengusaha batu akik di kawasan Pasar Poncol, Jakarta. Perjalanan hidupnya keluar masuk penjara, mengenalkannya pada kedekatan hidup spiritual dan selalu mengingat Tuhan hingga saat ini.

“Saya berprinsip hidup saat ini mencari makan halal saja walau itu kecil asal berkah,” jelasnya.

Ia juga menceritakan dari usaha kecilnya dia bisa menjadikan anaknya seorang dokter, ahli IT di Hongkong.

“Masa anak preman bisa jadi dokter? Bisa, asal dijalankan mengharap ridho dari Allah,” ungkapnya.

Komitmennya terhadap masyarakat kecil masih melekat hingga kini. Pernah sekali waktu, lanjutnya, dia diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengisi ceramah di istana negara. Namun, dia menolak mengingat pada waktu yang sama ia telah lebih dahulu memiliki janji mengisi ceramah pada masyarakat miskin di kawasan Blok M, Jakarta.

“Bukan saya tidak menghormati presiden tetapi saya sudah duluan berjanji dengan masyarakat miskin,” tegasnya.

Tak hanya itu, ada sebuah kisah yang kemudian menghantarkannya lkepada pertobatan. Di suatu hari Johny mengisi ceramah di sebuah acara. Kemudian setelah acara tersebut ada seorang pengusaha yang memberikan uang dalam jumlah besar kepada Johny, tanpa dia tahu siapa orang itu sebenarnya.

“Sehabis acara itu, ada orang yang memberikan saya uang banyak sekali. Saat itu saya berfikir, kenapa saya dikasi uang banyak betul, padahal saya mengisi ceramah juga sudah ada honornya. Akhirnya saya bertanya kepada salah seorang di sana. Dia memberitahu bahwa lelaki yang memberi uang kepada saya adalah pemilik toko emas yang dahulu pernah saya rampok. Saya langsung lari dan memeluk orang itu. Saya menangis dan berfikir, harusnya orang ini sudah membunuh saya, tapi dia membalas kejahatan dengan kebaikkan,” cerita Johny.

Tak hanya itu, Johny juga berbagi cerita tentang keikhlasan. Menurut dia, keikhlasan mengantarkannya mampu berangkat haji gratis ke Mekkah.

“Saat itu, saya melihat sampah begitu banyak di selokan kampung saya, tak ada yang mau membersihkannya karena mereka menuntut pamrih, lalu secara inisiatif saya bersihkan sampah yang berbau busuk dan menumpuk itu, secara tak sengaja lewatlah Pangeran Arab keturunan Raja Fahd, dia turun dari mobil dan aneh melihat saya bertato membersihkan sampah,” kenangnya.

Saat itu, pangeran Arab tersebut mengomentari tato yang dimilikinya dengan kata haram. Sempat terjadi perdebatan saat itu, namun pasca pertemuan itulah Pangeran Arab itu menjemputnya dengan jet pribadi agar Jhony berangkat haji dengan layanan super VVIP.

“Itu hikmah dari kerja ikhlas, buahnya nikmat saya bisa berangkat haji,” tambahnya.

Sekali waktu masih terkait soal ikhlas, dia pernah tak diberi honor menjadi penceramah menyebabkan ia harus pulang berjalan kaki berpuluh kilo meter untuk naik angkot malu tak punya uang. Namun beberapa waktu kemudian ia mendapatkan tawaran dari pengusaha kaya untuk mengisi ceramah di perusahaan pengusaha tersebut dengan bayaran jutaan rupiah.

“Saat itu saya terkejut begitu besarnya uang tersebut,” ungkapnya.

Hingga kini, Jhony mengaku memiliki rumah baca dibawah Yayasan Jhon Indo Foundation yang disokong oleh Kementerian dan Dinas Sosial. Kisah Jhon Indo tersebut merupakan motivasi bagi para mantan warga binaan Lapas di Bengkulu agar mereka tetap optimistis menapaki hidup, ia juga berharap masyarakat umum tak memberikan stigma negatif berkepanjangan bagi para narapidana.

“Pernah dipenjara itu sudah menjadi perjalanan hidup kita dan ditentukan Tuhan, namun mulai kedepan kita perbaiki hidup kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan seterusnya dalam upaya membangun Indonesia,” ujarnya bersemangat diiringi riuh tepuk tangan para mantan preman yang menyimak ceramah Jhon Indo.

Diskusi yang digelar Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Susila Kementerian Sosial RI itu bekerjasama dengan LSM Kantong Informasi Masyarakat (KIPAS) semakin seru saat Kepala Dinas Sosial Provinsi Bengkulu, Harnyoto ikut memandu sebagai moderator dan memiliki pengetahuan cukup lengkap mengenai sepak terjang Jhon Indo dimasa mud.

“Beliau legenda Robin Hood-nya Indonesia, saat ini dengan semangatnya ia bisa menjadi teladan banyak orang,” kata Harnyoto.

Sebanyak 29 bekas warga binaan tersebut juga mendapatkan pendidikan berwirausaha dari pemerintah dan bantuan modal agar dapat membangun hidup lebih baik dan diterima dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sumber : kompas.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

14 − seven =

News Feed