oleh

Kisah Nyata: Life Struggle Anak Mangau

-Tak Berkategori
Sang Anak Mangau
Sang Anak Mangau

Penulis: Ferizal Adek
Bakkata pepatah lama, “Nasib sabut terapung, nasib batu tenggelam”. Artinya, kalau lagi nasib baik tentunya menang atau beruntung, kalau nasib jelek ya sial atau merugi. mungkin itu jualah yang alami Anak Manggau di Malabro kota Bengkulu.

Anak Mangau begitulah sebutan orang Bengkulu, untuk  seorang anak nelayan yang hidup mencari ikan di tengah lautan, menantang badai dengan besarnya gelombang ombak laut, tetap ditempuh  mengais rezeki. Anak Mangau terus berjuang untuk hidup, meski hanyut dilaut merupakan tantangan yang harus diambil. Jiwa semangat yang tinggi  beragam ikanpun terus dicari dengan resiko kematian.

Tujuh tahun lebih Anak Mangau ini bergelut dengan kehidupan sebagai nelayan, meskipun angin barat daya berhembus kencang menghalau ikan barnjak pergi.

perjalanan panjang Anak Mangau arungi laut Bengkulu nyaris tak berujung. dari pinggir pantai, pasir dan laut menutupi matanya untuk menatap masa depan. Mamun ilham kalau tiba tak dapat dibendung. Anak Mangau mulai tebuka pola berfikir.

Pada suatu hari,  Anak Mangau pergi melaut ditengah malam.  Jala sudah terbentang dan juaran pancing sudah terpasang, tinggal menanti nasib mendapat ikan. Merenung Anak Mangau saat melihat kilau sinar ditentah laut, mengisyaratkan agar dirinya berubah. Kesunyian malam, ombak teduh, membuat otak Anak mangau mulai berfikir keras tentang hidup dan masa depan.

Bertanya tentang masa depan mulai kian terbetik, saat tiupan angin darat mulai menguncang air laut. Teringat kisah orang tuanya yang dulu perjuang hidup sepertinya. Pagi berhutang untuk makan, saat pulang melaut, utangpun tunai dibayar. Itupun kalau ikan yang dicari berhasil ditangkap.

Alih Profesi
Perjalan hidup Anak Mangau terus mengejar takdir. Dengan kemampuan intelektual yang pas-pasan,  Anak Mangau mencoba

profesi barunya, dengan satu tekan untuk merubah taraf kemapanam kehidupan. Dengan modal bergaul lues, berbagai  pelajaran hidup didapatinya. Bekerja sebagai pengantar koran di Kota Bengkulu mulai digelutinya.

Rupanya falsafa ombak laut, angin dan pasir dipelajari betul oleh Anak Mangau. Merasa mampu dan mendapat pengetahuan setelah bertahun-tahun hidup sebagai pengantar koran, kini posisi  jurnalispun diliriknya. Pergaulan dengan jurnalis senior intensif dilakukannya. Profesi itu akhirnya berhasil diraihnya.

Itulah yang dikatakan, Kalau rezeki tak kemana. Rezeki burung elang tak akan dimakan harimaupun berlaku. seiring perjalanan,  pasangan hidupun dapat diraihnya dan dikurunai seorang anak. Profesi jurnalis yang bukan impian itu terus digelutinya.  Tentunya  doa orang tua,   anak istri  tak bisa ditampikan. Kini satu persatumulai diraih, termasuk meneruskan sekolah ke perguruan tinggi.

Latar belakang sejarah hidup menjadi pemicu dan pemacu terus berjuang untuk berkarya sebagai seorang jurnalis, demi agama, bangsa dan negara tercinta.  baklayaknya seorang anak nelayan, prinsip, “Sekali layar terbentang, badai dan ombak besar tetap diarungi, sehingga dua pulau dapat lalui.

Saat ini,  satu demi satu karya jurnalisnya tersusun di meja dan almari masyarakat. Mulai dari visual hingga tulisan di  Bumi Bengkulu. Kini semua sudah di dapatkan, hanya tinggal masa depan lain yang harus diraih untuk generasi penerusnya. Bravo anak Mangau, cetar membahana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *