oleh

Komunikasi yang Mengakar pada Kebahagiaan

-Tak Berkategori-4 views
Nugroho Tri Putra
Nugroho Tri Putra

kupasbengkulu.com- Menarik, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mengeluarkan rilis resmi No. 13/02/XVII/I pada tanggal 5 Februari 2015, rilis resmi tersebut mengenai indeks kebahagiaan Bengkulu 2014.
Dari hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang dilakukan oleh BPS Provinsi Bengkulu mengungkapkan bahwa penduduk yang tidak atau belum pernah sekolah mempunyai indeks kebahagiaan paling rendah yaitu 59.56 persen, sementara indeks kebahagiaan tertinggi berada pada orang dengan pendidikan S2 dan S3 yaitu 82,83 persen.

Menariknya, ternyata hasil survei BPS Provinsi Bengkulu juga menemukan bahwa penduduk Bengkulu yang belum menikah memiliki tingkat indeks kebahagiaan 69,09 persen dibandingkan dengan yang menikah 67,82 persen, sementara yang berstatus cerai indeks kebahagiaannya 63,86 persen, untuk cerai hidup dan cerai mati 64,14 persen. Dari di antara hasil survei tersebut, nilai indeks kebahagiaan Bengkulu 2014 sebesar 67, 43 pada skala 0-100.

Hasil survei yang melibatkan 1.178 responden yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota dengan usia responden 17 tahun sampai 65 tahun ke atas dengan komposisi jenis kelamin laki-laki 67,40 persen dan perempuan 67,46 persen itu, ternyata selisih tipis dengan indeks kebahagiaan nasional yakni 68,28 pada skala 0-100. Ini menunjukkan bahwa di Provinsi Bengkulu ini setidaknya indeks kebahagiaan penduduknya mengarah ke trend yang positif jika di tolok ukur dari indeks kebahagiaan nasional.

Dalam website resmi Badan Pusat Statistik, bps.go.id, disebutkan indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 (sepuluh) aspek kehidupan yang esensial. Kesepuluh aspek tersebut secara substansi dan bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap: kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.

Meskipun survei tersebut berada dalam dimensi kuantitatif, saya berasumsi bahwa ada akar kebahagiaan yang bisa menjadi potensi kebahagiaan penduduk di Provinsi Bengkulu agar potensi-potensi kebahagiaan tersebut dapat lebih dimaksimalkan. Dalam dimensi kualitatif, kebahagiaan merupakan hal yang dirasakan dan dipersepsikan secara berbeda oleh setiap orang, karena itu, pengukuran kebahagiaan merupakan hal yang subjektif.

Dalam hal ini, kebahagiaan menggambarkan indikator kesejahteraan subjektif yang digunakan untuk melengkapi indikator objektif (bengkulu.bps.go.id). Ini menggambarkan bahwa refleksi tingkat kebahagiaan yang meliputi aspek kehidupan yang esensial itu akan terus bergerak dinamis, sesuai dengan situasi dan kondisi dari responden tersebut.

Menurut saya, pada hakikatnya semua manusia dapat hidup bahagia tergantung pada apa yang dikomunikasikan di dalam kehidupannya, faktor komunikasi ini tentu berkorelasi dengan kesepuluh aspek kehidupan esensial yang dijadikan BPS dalam mengukur indeks kebahagiaan. Komunikasi menjadi bagian penting di dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu di dalam pendidikan, kehidupan sosial, keharmonisan keluarga, dan lain-lain.

Karena itu, berkomunikasi sejak dini perlu dibudayakan dan diperkuat, bukan saja dalam rangka pemenuhan berkomunikasi antara individu ke individu, atau pun kelompok, tetapi juga bentuk pengungkapan diri di dalam upaya menciptakan kedalaman kepedulian yang lebih besar di dalam berhubungan dan lingkungan sosial.

Langkah keaktifan komunikasi sejak dini adalah sebagai bentuk deteksi dini terhadap potensi-potensi yang ada di dalam individu dan keluarga, bagaimana cara mereka untuk merasakan dan mempersepsikan aspek-aspek kehidupan ini mulai dari individu hingga ke tahap keluarga, atau juga mulai dari usia dini hingga beranjak dewasa, mulai dari pendidikan hingga pekerjaan, individu dan relasinya, dan lain-lainnya.

Kemampuan berkomunikasi yang baik menjadi landasan awal, untuk menentukan tujuan kehidupan seseorang termasuk di dalam mewujudkan kebahagiaan hidupnya, hal ini tidak hanya berada dalam ranah kehidupan sosial, tetapi dominasi yang memengaruhi, juga berada pada apa yang dilakukan individu-individu dalam menyikapi rutinitas kehidupannya.

Contohnya, di dalam lingkup keluarga, komunikasi aktif tentunya juga tidak serta-merta dilakukan antara kepala keluarga dengan istri, melainkan juga terhadap anggota keluarganya, anak-anak yang masih perlu perhatian di dalam proses pendidikannya patutlah terjalin komunikasi yang baik antara orangtua dan anak-anaknya, tidak hanya pada proses pendidikan yang diberikan oleh guru di sekolah.
Pada dunia pekerjaan, komunikasi juga harus terjalin secara aktif tidak hanya secara komunikasi vertikal pada atasan dengan bawahan, atau pun sebaliknya, tetapi juga secara komunikasi horizontal. Pada lingkungan sosial, komunikasi juga harus tetap terjaga, tidak bersifat individual, diperlukannya komunikatif untuk menutup jurang-jurang kekosongan komunikasi yang kerap terjadi di lingkungan sosial.

Kesemua itu hanya dapat dilakukan apabila kita sebagai individu lebih arif dan bijak di dalam berkomunikasi dan menjaga keseimbangan komunikasi baik secara internal dan eksternal, karena secara kualitatif hasil akhirnya adalah untuk menciptakan kebahagiaan, kebahagiaan individual yang terakumulasi dalam kebahagiaan kolektif. Bagaimana caranya? Salah satunya tentu dengan lebih peduli dan peka terhadap semua aspek kehidupan yang kita jalani, agar kita tidak teralienasi di dalam kebahagiaan kita sendiri. Berkomunikasilah untuk lebih bahagia!.(**)

Penulis : Nugroho Tri Putra (Penerima Program Beasiswa S2 Dalam Negeri Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, dan ASN di Pemda Kota Bengkulu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 × 1 =