Latah

0
Firmansyah
Firmansyah
Firmansyah

Oleh: Firmansyah

Sekitar pukul 23.30 WIB saya berkomunikasi dengan teman lama menggunakan aplikasi WhatsApp, komunikasi singkat mengatakan ia sedang blusukan, maklum sahabat satu ini cukup dekat dengan politisi di Senayan.

“Biasa, lagi blusukan, eh, maaf jadi latah efek Jokowi,” katanya saat membalas pesanku.

Latah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata penyakit, duh, tak sadar jika sahabatku itu ternyata menderita penyakit. Latah, dalam KBBI dijelaskan la·tah artinya menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain.

Dalam KBBI dijelaskan juga latah berlaku seperti orang gila (misalnya karena kematian orang yang dikasihi); meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Smentara latah jika digunakan dalam bahasa mulut bisa juga diartikan mengeluarkan kata-kata tak senonoh (karena marah, dan lain-lain).

Latah juga dalam KBBI disebutkan sebagai sampah (daun-daun dan sebagainya yang telah membusuk) di bawah pohon-pohonan (di hutan dan sebagainya)

Sementara dalam visual arti kata latah dapat juga dimaknai sebagai pelatah, pembebek, ikut-ikutan, meniru, dan masih banyak lagi padanan.

Latah juga dibentuk berdasarkan persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain persepsi adalah cara kita mengubah energi – energi fisik lingkungan kita menjadi pengalaman yang bermakna.

Persepsi adalah juga inti komunikasi, karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita berkomunikasi dengan efektif. Persepsilah yang menentukan kita memilih pesan dan mengabaikan pesan yang lain.

Persepsi inilah kerap menjadi agenda setting bagi kelompok tertentu dalam memainkan isu dan opini publik untuk kepentingan tertentu pula.

Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi individu, semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi, dan sebagai konsekuensinya semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas.

Misalnya, semakin tinggi kesamaan nasib, kesamaan tujuan, kesamaan peran, maka mereka akan bersatu membentuk kelompok solidaritas, kelompok kepentingan, ini terlihat dalam kelompok buruh, kelompok pelajar dan lainnya.

Persepsi akan menggiring kelompok tersebut menjadi latah oleh karena itu jika orang ramai latah dalam suatu objek, individu atau juga “melabelkan” sesuatu artinya mereka mendapatkan efek dari sebuah persepsi tersebut.

Kegagalan dalam Persepsi

Persepsi manusia kadang juga tidak cermat penyebab utamanya akibat asumsi dari pengharapan dari seseorang yang tidak sesuai ini dipengaruhi banyak faktor, seperti atribusi, efek hallo, streotip, prasangka, dan Gegar budaya.

Dalam Ilmu Komunikasi hal tersebut diartikan:

Atribusi
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain, ini lebih banyak pada permainan psikologis seseorang dalam menilai.

Efek Hallo
Ini merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat- sifatnya yang spesifik.

Stereotip
adalah mengeneralisasikan orang – orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok.

Prasangka
suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda. Istilah ini berasal dari bahasa latin (praejudicium), yang berarti preseden atau penilaian berdasarkan pengalaman terdahulu.

Gegar budaya
suatu bentuk ketidak mampuan menyesuaikan diri, yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang –orang baru.

Semua asumsi tersebut berpengaruh menciptakan latahnya seseorang, latahnya sebuah komunitas bahkan latahnya sebuah bangsa.

Tidak jarang karena sebuah persepsi yang berbeda antar budaya dan komunitas namun memiliki lambang yang sama, latah mengakibatkan konflik.

Beberapa negara mengacukan jari tengah dianggap tak sopan, namun di negara yang berbeda jari tengah justru menjadi hal yang sangat terpuji.

Ada cerita sahabat saya yang lain, saat di Jakarta, ia Muslim, ketika di busway ia melihat seorang laki-laki berpakaian Islami, celana gantung, berjanggut dan membawa tas duduk di sebelah sahabatku itu, namun karena ia juga telah mendapatkan persepsi orang seperti ini identik dengan teroris maka ia berinisiatif pindah tempat duduk, ini juga masuk dalam kategori latah, latah akibat persepsi terorisme. Padahal terorisme banyak juga menggunakan celana jeans, bahkan berpakaian safari.

Di beberapa wilayah Indonesia teroris bahkan banyak yang bukan dari muslim, ini bukan mendeskreditkan agama namun itulah hasil dari sebuah persepsi dan kelatahan.

Tahapan terakhir dalam mengartikan sebuah persepsi adalah dibutuhkan evaluasi dari umpan balik, sehingga komunikasi dapat diartikan sebagai pertukaran makna yang bisa saling dimengertai maksud serta tujuannya, ini dapat dilihat dari perubahan mimik wajah, bahasa tubuh, prilaku dan sebagainya.

Tak jarang akibat latah cenderung menghakimi kelompok lain karena berbeda persepsi, semakin sering latah tersebut beredar dalam otak maka kebenaran sejati atas sebuah kebenaran akan semakin kabur. Maklum, persepsi hanya lahir dari olah akal dan fikiran yang sudah tentu terbatas.

*Penulis adalah kontributor kompas.com wilayah Bengkulu