oleh

Masa Kecil dan Kehidupan di Kampung Halaman (BAGIAN I)

Mengaji dan Sekolah

Drs. Ichwan Yunus, CPA, MM.
Drs. Ichwan Yunus, CPA, MM.

Terlepas dari perbedaan tahun berapa sebenarnya Ichwan dilahirkan, tahun 1939 atau 1940, yang jelas ia lahir di saat republik ini belum lahir. Nusantara ketika itu masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan besar dan kecil. Hampir semua kerajaan tersebut dalam kondisi terjajah, maka tidak sedikit kerajaan-kerajaan tersebut kehilangan kedaulatannya. Apakah karena korban politik pecah belah penjajah yang kemudian menimbulkan perang saudara atau perang antar kerajaan, tidak terkecuali Mukomuko sendiri menurut sejarahnya adalah bekas sebuah kesultanan.

Sebagai desa bekas sebuah kesultanan, tentu Mukomuko mempunyai spesifikasi tersendiri dibanding dengan desa-desa tetangga lainnya. Antara lain adalah penduduknya yang padat dan tingkat pendidikan dan kecerdasan yang relatif tinggi. Minimal mereka punya riwayat atau kisah-kisah kebesaran, keberhasilan dan keteladanan nenek moyang mereka terdahulu. Mereka secara bersama-sama memelihara dan melestarikannya dalam prilaku kehidapannya sehari-hari, kemudian belakangan disebut sebagai tradisi, adat istiadat atau budaya yang dijunjung tinggi oleh mereka.

Siapapun yang melanggar adat, pasti akan mendapatkan sangsi adat juga. Begitu tingginya posisi hukum adat bagi mereka, sehingga sulit bagi mereka untuk membedakan mana ajaran agama dan mana yang merupakan adat istiadat. Terlebih itu yang berkaitan dengan moral atau etika. Kendatipun ketika itu sedikit sekali orang yang punya kapasitas sebagai ustadz, ulama atau kyai akan tetapi penjagaan terhadap moral, sopan santun dan etika sangat ketat. Benang merah perbedaan hubungan antara teman seusia, antara anak-anak muda dangan orang yang lebih tua, laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya, anak dengan orang tuanya dan begitupula sebaliknya sangat jelas.

Ichwan masih sempat menyaksikan dan merasakan suasana kehidupan seperti tersebut di atas. Suasana kehidupan anak-anak dan remaja penuh dengan kedamaian dan keceriaan, dengan segala keterbatasannya ketika itu pendidikan anak-anak masih beryumpuh pada orang tuanya, karena belum ada sarana dan pra sarana pendidikan non formal yang menjamur seperti sekarang ini.

Betapapun sibuknya orang tua terutama kaum Ibu yang pada umumnya berperan ganda, sebagai Ibu rumah tangga dan membantu suami mencari nafkah-tidak pernah melalaikan tugas utamanya mendidik anak-anak mereka di rumah, terutama tentang pengetahuan dasar agama dan sopan santun atau budi pekerti sesuai dengan agama dan adat -istiadat yang masi mereka pegang teguh. Itulah sebabnya sebelum memasuki usia sekolah, biasanya anak-anak terlebih dahulu belajar mengaji AL-Qur’an. Para orang tua berkeyakinan kuat bahwa Al-Qur’an adalah modal dasar untuk menjadikan anak-anak.

Dalam satu desa biasa nya terdapat beberapa guru ngaji yang setiap habis magrib rumahnya ramai di datangi anak-anak dan remaja untuk belajar mengaji.Alunan ayat-ayat suci yang keluar dari bibir mungil anak-anak desa nan lugu dan polos, terkadang terdengarsuarah riuh rendah dan lengkingan suara dengan irama lagu seadanya memecahkan suasana kesunyian malam di pedesaan. Suasana seperti ini akan berakhir sebelum larut malam tiba, anak-anak dan remaja segerah kembali kerumah masing-masing dengan menggunakan penerangan musal dan/atau suluh yang memang sudah dipersiapkan mereka dan membawanya di saat mendatangi rumah guru ngaji pada setiap sore harinya. Begitu pula halnya dengan desa Mukomuko ketika itu, seingat Ichwan paling tidak ada lima guru ngaji di kampung halamannya yang selalu ramai didatangi anak-anak dan remaja pada setiap malamnya; antara lain Ibu, dan kakek nya sendiri.

Pada umur empat tahun Ichwan mulai belajar mengaji (membaca Al-Qur’an) dengan ibunya sendiri. Saat itu juga mulai mengatahui jika si buah hati memiliki bibi-bibit kepribadian dan karakter yang unggul, terlihat jelas pada kemauan yang keras dan rasa ingin tahu yang tinggi. Itulah sebabnya Ibu Ichwan tidak menghalang-halangi keinginannya untuk pindah ke guru ngaji yang lain dengan alasan tidak merasa puas belajar mengaji dengan Ibunya sendiri. Ketidakpuasan Ichwan kecil ketika orang tua diungkapkan dengan polos, bahwa ibunya terlalu ketat atau terlalu berhati-hati untuk memindahkan kajiannya, tapi selalu saja Ibumnyurunya untuk mengulang dan mengulangnya kembali sampai benar-benar lancar. Hal inilah yang membuat Ichwan merasa bosan dalam memohon kepada Ibunya untuk turun rumah mengaji dengan guru lain.

Pemandangan aneh mulai aneh terlihat kala Magrib tiba, anak-anak seusianya banyak mendatangi rumahnya untuk belajar mengaji dengan Ibunya. Disaat yang sama pula Ichwan bergegas meninggalkan rumahnya dengan Ibu Ichwan, yang sama sekali tidak merasakan keanehan tersebut, karena baginya yang penting anaknya mau mengaji, kemanapun ia mau, tidak menjadi persoalan, termasuk ketika Ichwan menolak mengikuti sarannya untuk mngaji kepada neneknya saja. Tidak ada alternatif lain kecuali menuruti saja kemanapun Ichwan ingin berguru. Adalah Hasan yang dipilih Ichwan sebagai guru ngaji setelah Ibunya, setelah itu ia berpindah kepada Amir Husein.

Dalam waktu yang tidak lama Ichwan sudah pandai ‘’melalu’’ dan karena kecerdasan dan ketekunannya ia sudah benar-benar lancar membaca AL-Quran, dan Ichwan berhasil menghatamkan Al-Quran dalam waktu kurang dari tiga tahun sejak ia mulai belajar mengaji.

Menurut tradisi setempat, sangat baik jika upacara khatmil AL-Qur’an digabungkan dengan upacara sunatan. Oleh karenanya begitu mendengar Ichwan sudah lancar membaca dan mengkhatam AL-Quran, orang tuanya serta merta merencanakan acara sukuran dan menggabungkannya dengan syukuran sunatan, secara kebetulan ketika itu Ichwan sudah berumur tujuh tahun, danmenurut tradisinya pula umur tujuh tahun adalah sangat ideal dilaksanakannya sunatan.

Sebagai penganut Islam yang kuat, dipadukan dengan warisan adat istiadat dan tradisi secara turun temurun, khitanan dan khatam AL-Quran termasuk istimewa sekaligus kebanggan dalam kehidupan keluarga orang tua Ichwan disamping tiga pristiwa penting lainnya, yakni saat melahirkan, pernikahan dan kematian. Menurut keyakinan mereka AL-Quran adalah pedoman dan sumber inspirasi dalam mengarungi kehidupan didunia dan akhirat kelak. Oleh karena itu anak yang sudah mampu membaca seluruh AL-Quran merupakan kebanggaan orang tua, seakan berbagai rasa ketakutan dan kehawatira akan hal-hal negatif yang menimpa anaknya kelak sudah terkurangi, sekaligus harapan bahwa anaknya kelak akan menjadi orang yang terbaik, dan berguna dan berbakti pada zamannya.

Demikianlah dengan sunatan, menjadi sangat istimewa dalam kehidupan karena di samping menjalankan syari’at Islam juga di yakini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik dan mental seorang anak. Secara fisik, biasanya setelah anak disunat, perkembangan fisik akan semakin cepat besar dan subur. Secara mental, dalam diri anak mulai timbul rasa malu terutama yang berhubungan dengan hal-hal sesitivitas dan seksualitas, yang tadinya anak tidak merasa berdosa jika terlihat dengan orang lain ketika dalam keadaan telanjang, menjadi merasa canggung dan anak akan mulai mengenali akan arti jenis kelamin yang miliki lewat jenisnya.

Walaupun kondisi perekonomian orang tua Ichwan tergolong pas-pasan, tapi upacara khatmil Qur’an yang digabungkan dengan sukuran sunatan itu dilaksanakan terbilang lengkap dan utuh jika diukur dengan tradisi yang biasa dilakukan di desanya. Sebelum upacara khatmil Qur’an ia di arak terlebih dahulu dengan berjalan kaki dan berpakaian jubah kebesaran.

Ichwan berusaha mengingat kenangan saat-saat dilaksanakannya sunatan, 04.00 pagi ia sudah mulai mandi dengan cara berendam, cukup lama ia berendam tidak kurang dari dua jam. Setelah dirasakan dingin dan bagian-bagian tertentu dari anggota tubuhnya sudah mulai menggeriput karena dingin, terutama “Burung” Ichwan yang akan di sunat. Memang pada umumnya ketika itu siapa saja yang akan melakukan hal yang sama, dilaksanakan di pagi hari dan berendam air terlebih dahulu karena di samping kulit “Burung” yang akan dipotong akan menjadi lembut, juga akan mengurangi banyaknya keluar darah sekitar pukul 07.00 WIB pagi mulailah dilaksanakan sunatan itu.

Ichwan kecil duduk beralaskan buah kelapa yang sudah di persiapkan dan bersandar kepada seseorang, bukan ibu, bukan ayah, dan bukan pula sala seorang saudaranya, tapi pada pamannya yang bernama Sakti dan Rasimin, hal ini juga tarmasuk salah satu tradisi yang masih dipelihara ketika itu.

Memasuki usia yang ke tujuh tahun, Ichwan mulai menempuh pendidikan dasar formalnya pada Sekolah Rakyat (SR) di kampung halamannya sendiri, yang merupakan satu-satunya sekolah dasar di desa Mukomuko ketika itu. Sekolah ini tepatnya terletak di lokasi SMP Negeri I sekarang ini, dibangun oleh pemerintah dan swadaya masyarakat yang berukuran lebih kurang 8×30 M, terdiri dari 6 lokal belajar dan kantor. Kondisinya sangat memprihatinkan, berlantaikan tanah, beratapkan daun dan berdindingkan gedek.

Tidak hanya sarana dan prasarana belajar yang serba darurat, gurunya pun hanya beberapa orang saja, salah satunya merangkap sebagai kepala sekolah. Tidak ada wakil kepala dan tidak ada pula staf tata usaha layaknya sebuah sekolah sekarang ini. Iuran bulanan -yang kemudian disebut dengan istilah SPP- hanya untuk memenuhi kebutuhan rutin sekolah, seperti honor guru, kapur tulis dan sebagainya. Untuk kebersihan dan perbaikan ringan sarana dan prasarana sekolah, sebatas bisa dilakukan sendiri oleh para murid, maka mereka kerjakan secara gotong royong.

Keterlibatan orang tua murid biasanya jika dihadapkan pada urusan-urusan darurat sekolah, seperti memperbaiki kerusakan-kerusakan berat fisik sekolahan, mulai dari pengadaan bahan sampai pengerjaannya dilakukan dengan cara gotong royong. Sampai dengan masa-masa akhir Ichwan duduk di kelas II SR, masih banyak anak sekolah mengenakan kain lantung, hanya sekedar menutup aurat, karena langkanya bahan kain dari benang dan ketidakmampuan untuk membelinya.

Setelah ada droping pemerintah berupa kain berwarna hitam dengan harga murah, barulah mereka mengenakan busana yang layak menurut ukuran masyarakat saat itu. Mereka semuanya berpakaian hitam, bukan karena ada ketentuan untuk berpakaian seragam warna hitam, tetapi karena tidak ada bahan pakaian lain kecuali warna hitam. Apa lagi kalau bicara merk atau kwalitas, sama sekali tidak ada pilihan. Keluarga Ichwan bersyukur, karena walaupun kehidupan keluarganya (dari segi ekonomi) cukup memprihatinkan, namun Ichwan dan saudara-saudaranya tidak sampai mengenakan kain lantung.

Semua siswa mengenakan pakaian seadanya sesuai dengan kemampuan orang tua masing-masing, bahkan rata-rata siswa tidak mengenakan alas kaki sama sckali, karena sandal jepit sekali pun, masih tergolong barang mewah dan langka. Kepala Sekolah beserta gurunya memang tidak pernah mempermasalahkan hal ini, karena sangat memaklumi situasi dan kondisi masyarakat ketika itu.

Kendati situasi dan kondisi serta sarana dan prasarana sekolah yang demikian memprihatinkan, tidak mengurangi semangat Ichwan dan kawan-kawan siswa yang lain untuk mengikuti pelajaran di sekolahnya. Ichwan, seperti juga pelajar-pelajar yang lain hanya punya waktu belajar -di luar jam pelajaran di kelas- pada malam hari setelah selesai mengaji Al-Quran. Dengan penerangan lampu teplok seadanya, Ichwan selalu memanfaatkan waktu ini sebelum beranjak tidur terutama ketika ada Pekerjaan Rumah (PR) dan menghadapi ulangan di sekolah.

Tidak satu pun buku cetak yang bisa dimiliki atau dipinjam untuk dibaca dan dipelajari di rumah, kalaupun ada buku cetak, hanya dimiliki oleh guru sebagai bahan dan/atau pedoman pembelajaran. Sistem pembelajaran dan kurikulum hanya sebatas pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh gurunya. Setiap masuk kelas sang guru biasanya memulai proses belajar mengajar dengan mencatat di papan tulis atau mendiktekan pelajaran bagi murid kelas II ke atas, karena murid kelas II sudah dipastikan lancar baca tulis, setelah selesai mendiktekan barulah guru menerangkan.

Sistem pembelajaran yang sangat sederhana di sekolahnya dijalani oleh Ichwan dan kawan-kawannya tanpa merasakan keterikatan pada peraturan peraturan tertentu di sekolahnya. Bukan berarti di sekolahan mereka bebas tanpa peraturan, tapi karena orang tua dan guru sejak dini menanamkan kesadaran untuk patuh kepada guru dan ketentuan, baik itu berasal dari kesepakatan bersama maupun aturan yang diadakan sendiri oleh guru mereka. Kesadaran yang tinggi inilah yang menyebabkan murid tidak merasakan peraturan-peraturan di sekolahnya sebagai beban.

Kepatuhan murid terhadap guru ketika itu didasari oleh rasa cinta dan hormat kepada sang guru, bukan karena terikat kepada peraturan di sekolah, karena guru betul-betul memperlihatkan keteladanan baik dari segi ilmu, perilaku maupun perkataannya. Rasa hormat yang amat sangat inilah yang barang kali menyebabkan murid selalu menganggap guru adalah guru, kapan dan dimana saja ia berada, di luar jam belajar di sekolah sekalipun. Hal ini juga barangkali yang menjadikan alasan mengapa Ichwan dan kawan-kawannya selalu dengan senang hati jika diminta oleh gurunya untuk membantu pekerjaan dirumahnya. Membantu pekerjaan guru di rumahnya baik sendiri maupun secara bersama-sama dengan kawan-kawannya yang lain sudah hal yang biasa dilakukan. jauh dari rasa ria, minta perhatian guru atau berbagai motivasi lain, yang ada hanyalah rasa ingin mengabdi pada sang guru.

Rasa hormat dan keinginan yang tinggi untuk mangabdi kepada orang tua dan guru ini sudah ditanamkan di hati sanubari siswa sejak pertama kali menginjakkan kakinya ke sekolah, melalui pembelajaran yang disertai contoh sikap dan perilaku yang diperlihatkan guru kepada siswanya. Oleh karena itu keterbatasan pergaulan antara guru dan murid ketika itu bukan karena takut yang barlebihan, tetapi lebih pada rasa hormat dan malu jika sikap dan perilakunya yang tidak terpuji terlihat oleh gurunya.

Kendati Ichwan tergolong murid yang rajin dan pandai, tetapi ia merasakan prestasi yang dicapainya selama menempuh pendidikan di sekolah dasar tidak terlalu menonjol. Tidak seperti siswa kebanyakan yang biasanya tidak menyukai mata pelajaran tertentu karena tingkat kesulitannya, Ichwan merasa menyukai semua mata pelajaran, dan tidak-merasa kesulitan menerima semua mata pelajaran yang diberikan kepadanya, meskipun diakuinya bahwa mata pelajaran yang paling digemarinya adalah berhitung.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis : Khairuddin Wahid
Judul : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit: LPM Exsis
Cetakan : 1, Januari 2010

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed