oleh

Masa Kecil dan Kehidupan di Kampung Halaman (BAGIAN I)

BIOGRAFI ICHWAN YUNUS

Untuk Foto Sang Putra pandai Besi Siap EDIT

Percaya Diri dan Pandai Bergaul
Menurut cerita dari ibu, bapak, nenek, paman dan bibi Ichwan yang berusaha diingatnya, bahwa walaupun ia bertubuh kecil (karena prematur) bila dibandingkan dengan anak-anak seusianya, tapi perkembangan fisik/motorik, daya pikir dan daya cipta Ichwan tcrmasuk cepat. Fisiknya yang mungil, lincah dan lucu membuat senang setiap orang yang melihatnya, ingin menggendong dan bermain dengannya. Keberanian Ichwan juga sudah terlihat sejak kecilnya. Ia tidak pernah menunjukkan rasa takut kepada siapa saja yang menghampirinya, dan tidak pernah menolak siapa saja yang ingin menggendong dan mengajaknya bermain, walaupun orang tersebut belum dikenalnya.Terhadap kawan-kawan sepermainannya, Ichwan lebih sering mengalah, tidak suka bertengkar dan tidak segan-segan memberikan mainan yang ia miliki jika diminta oleh kawan-kawannya.

Bibit-bibit sifat percaya diri pada Ichwan kecil tidak hanya terlihat dari penampilannya, tapi juga tumbuh subur pada watak dan sikapnya. Watak dan sikap Ichwan yang ketika itu belum disadarinya sebagai bibit-bibit sifat dan karakter percaya diri, adalah watak dan sikap kerasnya yang sangat percaya dengan kemampuannya dalam berkarya, dan sekaligus tidak gampang tergoda dengan karya orang lain yang kelihatannya lebih bagus.

Setiap musim layangan tiba, anak-anak seusia Ichwan dan para remaja di atas usianya berlomba-lomba membuat layangan, atau banyak juga yang minta dibuatkan ke pada orang lain yang lebih pandai. Ichwan selalu membuat sendiri layangan sesuai dengan kemampuan daya ciptanya. Walaupun hasil karyanya kelihatan tidak sebagus layangan teman-temannya, dan kadang kala Ichwan merasa kesulitan untuk menaikkan layangannya karena persoalan keseimbangan, tapi ia tidak pernah merasa minder dengan kawan-kawannya, bahkan sebaliknya, ia sangat bangga dengan karyanya sendiri.

Jika ia mendapatkan kesulitan untuk menaikkan layangannya, Ichwan sekuat tenaga mencari dimana kelemahannya, yang biasanya terletak pada ketidakseimbangan berat antara sisi kiri dan sisi kanan layangan. Untuk mengatasi kelemahan ini kalau yang sifatnya darurat di lapangan, maka Ichwan akan menambahkan pemberat (singit, dalam bahasa Mukomuko). Apakah itu dari kertas atau bahkan mungkin dari jenis rerumputan, pada sisi yang lebih ringan dari layangannya, sehingga berat sisi kiri dan kanannya menjadi seimbang.  Hasilnya layangan akan melesat naik sampai pada ketinggian yang tidak kalah dengan layangan teman-temannya yang lain.

Di saat padi di sawah mulai menguning, biasanya musim burung pun tiba, anak-anak seusia Ichwan dan usia remaja di atasnya mulai sibuk menangkap burung dengan menggunakan getah (lem). Ichwan, seperti teman-temannya yang lain selalu membuat sendiri getah tersebut. Kualitas (daya rekat) getah ini sangat ditentukan oleh cara memasak dan ukuran (volume) ramuan/racikannya. Getah buatan Ichwan kadang kala kualitas-nya tidak sebagus getah punya temannya, kadang-kadang terlalu cair, sehingga daya rekatnya kurang.

Hasil tangkapannya otomatis akan jauh lebih sedikit dibandingkan kawannya yang menggunakan getah yang daya rekatnya lebih baik. Namun demikian Ichwan tidak penah tertarik untuk meminta dan menggunakan lem kawannya, ia lebih percaya diri menggunakan getah buatannya sendiri, walaupun resikonya ia akan menemukan banyak kegagalan, karena burung yang sudah hinggap di getahnya akan terbang kembali. Tapi itulah Ichwan, anak kecil ini akan berusaha membuat getah yang lebih bagus lagi, sampai memperoleh hasil yang maksimal, tanpa ada ketergantungan dengan orang lain.

Di samping bibit-bibit percaya diri yang begitu tinggi, Ichwan kecil juga seorang anak yang pandai bergaul dan disenangi oleh kawan-kawannya. Memiliki postur tubuh yang paling kecil dan pendek dibanding dengan teman-teman sebayanya, tidak membuat Ichwan merasa minder dan sulit bergaul. Tapi sebaliknya dengan penampilan dan pembawaannya yang lincah, ramah, periang dan kocak, tapi penuh perhatian, menjadikan Ichwan sangat disukai kawan-kawan sekolahnya termasuk teman—teman wanitanya. Pengakuan Ichwan ini diperkuat oIeh keterangan Kasimah, kawan sekelas Ichwan di SR sebagai bcrikut:

Kawan—kawan kami yang seumur dan satu angkatan sekolah SR cukup banyak, tapi yang paling kecil Ichwan. Sungguhpun dia paling kecil, tapi pintar, cerdik, lincah dan Iucu. Ia penuh perhatian suka menolong teman-teman. Ia juga suka bercanda dan tidak gampang emosi. Seingat saya, Ichwan tidak pernah bertengkar atau berkelahi dengan teman-temannya, pokoknya sangat menyenangkan berteman dengan Ichwan. Karena pembawaannya seperti itu, maka kami semua akrab dengannya.

Ichwan selalu berbaik sangka dengan kawan-kawan yang sering menggodanya, walaupun mungkin godaan itu sudah mengarah pada ejekan terhadap fisiknya. Ichwan menganggapnya tidak lebih dari bercanda, bukan sengaja mengganggunya. “…  paIing-paIing kalau sudah keterlaluan orang menggodanya, Ichwan akan menangis… namun demikian, Ichwan tidak pendendam, dengan cepat ia akan baikan lagi dengan orang yang menggodanyai Ianjut Kasimah.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis     : Khairuddin Wahid
Judul        : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit   : LPM Exsis
Cetakan    : 1, Januari 2010

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed