oleh

Masa Kecil dan Kehidupan di Kampung Halaman (BAGIAN I)

Biografi Ichwan Yunus

Drs. H. Ichwan Yunus, CPA, MM.
Drs. H. Ichwan Yunus, CPA, MM.

Beruk, Kambing dan Gerobaknya

Kehidupan Ichwan kecil sangat akrab dengan beruk, kambing dan gerobak kambingnya. Beruk, dalam bahasa latin disebut macacus nemesrinus adalah kera besar yang berekor pendek dan kecil. Binatang liar sejenis monyet ini hidup di perpohonan dalam hutan, jika dipelihara cukup lama dengan tehnik-tehnik tertentu bisa menjadi jinak dan manut perintah majikannya.

Menurut penuturan Ichwan beruk miliknya ini diperoleh dari hutan di sekitar kampungnya yang ditangkap oleh penduduk pada usia yang masih muda. Kemudian dibeli oleh orang tua Ichwan dan dijadikan sebagai binatang peliharaannya. Setelah jinak barulah mulai dilatih memetik buah kelapa dan dalam waktu yang relatif singkat beruk ini sudah pandai memetik buah kelapa. Pada mulanya beruk ini hanya pandai menuruti perintah majikannya dengan bahasa isyarat untuk memilih buah kelapa yang hendak dipetik. Tetapi lama kelamaan ia bisa memilih sendiri buah kelapa yang sudah layak untuk dipetik.

Setelah beruk ini pandai memilih dan memetik buah kelapa yang dikehendaki, Ichwan pun bersama beruknya mulai mendapatkan order untuk memetik buah kelapa. Karena menggunakan jasa beruk untuk memetik buah kelapa ini masih tergolong langka ketika itu, maka berita ini cepat tersebar dari mulut ke mulut dan akhirnya order itu semakin sering. Hampir setiap hari ada saja masyarakat yang ingin memanfaatkan jasa beruk Ichwan untuk memetik buah kelapanya. Bukan hanya dari masyarakat di desanya, tidak jarang juga masyarakat desa tetangga turut memesan jasa beruk Ichwan.

Menurut Ichwan, ada tiga faktor yang menyebabkan orang lebih suka memanfaatkan jasa beruk untuk memetik buah kelapa. Pertama, dengan menggunakan jasa beruk jauh lebih cepat dibanding dengan menggunakan jasa orang. Kedua, mengurangi resiko kecelakaan seperti jatuh jika dilakukan oleh orang. Ketiga, kepiawaian beruk memilih dan memetik buah kelapa ini masih tergolong langka ketika itu, sehingga masih menjadi tontonan menarik bagi masyarakat.

Terlepas dari berbagai alasan di atas, yang jelas kehadiran beruk di keluarga Ichwan membuka peluang baru untuk pekerjaan dan penghasilan tambahan bagi keluarganya. Hal ini dapat dimaklumi karena Mukomuko adalah perkampungan di daerah pesisir pantai, banyak terdapat pohon kelapa yang tumbuh subur secara alami, tidak memerlukan perawatan khusus seperti tanaman tumbuh lainnya. Setiap pekarangan rumah; sisi kanan, kiri, muka dan belakang di desa Mukomuko dipenuhi pohon kelapa, di samping ada pula yang secara khusus memiliki kebun kelapa.

Demikian Ichwan kecil semakin akrab dengan beruknya, hampir setiap hari sehabis sekolah dan makan siang ia melayani pesanan untuk memetik buah kelapa. Ichwan kecil kadang kala tidak hanya dijuluki Buyuang, tapi juga akrab dipanggil beruk. Anehnya, baik Ichwan sendiri, saudara dan orang tuanya tidak pernah merasa canggung dan tersinggung dengan julukan tersebut. Ichwan merasa enjoy-enjoy saja ketika panggilan beruk lengket pada dirinya.
Sejarah Ichwan dan beruknya ini juga tidak bisa dipisahkan dengan kambing dan gerobaknya. Setiap Ichwan dan beruknya melayani orderan memetik buah kelapa, selalu saja ditemani oleh kambing dan gerobaknya. Dari beberapa ekor kambing yang dimiliki keluarga Ichwan, ada seekor kambing jantan yang paling disayanginya. Kambing ini mempunyai tubuh paling besar, kekar dan kuat dibanding kambing-kambing jantan yang lain. Kambing jantan inilah yang selalu menyertai Ichwan setiap memetik buah kelapa bersama beruknya. Oleh Ayah Ichwan kambing ini dibuatkan gerobak kecil yang dirancang khusus, cocok dan pas untuk ditarik oleh kambing tersebut.

Setiap hendak pergi untuk memetik buah kelapa, hal yang pertama kali dipersiapkan oleh Ichwan adalah garobak antiknya> Lalu mengambil beruk dan menaikkannya ke atas gerobak. Selanjutnya mengambil kambing yang memang sudah tetambang -lantas memasangkan gerobak yang sudah disiapkan tadi di atas pundak kambing.

Ichwan lalu mengambil posisi paling depan sambil menarik kambing, dan kambing menarik gerobak yang ditumpangi sang beruk, berjalan melintasi perkampungan. Pemandangan unik dan lucu yang dipertontonkan Ichwan, beruk, kambing dan gerobaknya ini selalu saja menyita perhatian masyarakat, tidak hanya dikalangan anak-anak, tapi orang dewasa pun merasa terhibur dengannya.

Ichwan jarang sekali menerima uang sebagai upah atau jasa memetik buah kelapa yang dilakukan olch beruknya. Ia biasanya hanya mendapatkan 10 % dari jumlah buah kelapa yang dipetik dengan buah kelapa pula. Dengan demikian setiap sepuluh buah kelapa yang dipetik, maka Ichwan mendapatkan satu buah kelapa, dua puluh buah kelapa yang diturunkan, maka Ichwan menerima dua buah kelapa, begitulah seterusnya. Kadang-kadang Ichwan mendapatkan penghasilan berpuluh-puluh buah kelapa, dan kadang kala ia membawa pulang hanya beberapa buah kelapa saja, tergantung banyak atau sedikitnya buah kelapa yang dipetik beruknya.

Hasil prosentasi ini lalu dimasukkan ke dalam gerobak kambing, dibawa pulang sebagai penghasilan bersih pada hari itu. Seluruh buah kelapa hasil/jasa petikan beruk ini biasanya dijual sebagai penghasilan tambahan keluarga lchwan, karena untuk keperluan konsumsi, buah pohon kelapa miliknya sendiri sudah lebih dari cukup.(gie/adv)(Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis    : Khairuddin Wahid
Judul       : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit   : LPM Exsis
Cetakan   : 1, Januari 2010

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed