oleh

Menanti Maaf Para Pemaaf

-Tak Berkategori
Nugroho Tri Putra
Nugroho Tri Putra

*Oleh: Nugroho Tri Putra

“Bung Hatta adalah teladan tepat waktu untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.”

Penggalan sajak Taufiq Ismail, berjudul Rindu pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta ini menjadi bagian dari inspirasi saya untuk membuat tulisan ini dipenghujung Ramadan.

Melihat banyaknya antusias umat muslim untuk segera menyambut Hari Raya Idul Fitri, dalam suatu kesempatan, penulis sering mendengar bahwa Idul Fitri merupakan hari yang ditunggu-tunggu, bukan saja karena telah usainya puasa yang dijalankan oleh orang-orang beriman, tetapi juga karena adanya tradisi bersilaturrahmi untuk saling maaf memaafkan, tradisi ini dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga, yang kemudian berlanjut ke lingkungan sosial masyarakat.

Jika tidak ada perubahan, Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah akan ditetapkan pada tanggal 28 Juli 2014. Akan ada kumandang kalimat-kalimat takbir yang akan mulai kita dengar pada malam nanti. Dipenghujung Ramadan, umat muslim akan bersedih karena harus berpisah dengan bulan Ramadan yang penuh dengan rahmat dan ampunan ini.

Dipenghujung Ramadan ini pula, dan disaat tiba dihari yang fitri, maka akan tibalah panggilan hati untuk saling bersilaturahmi, mengawali kehidupan baru dengan suasana jiwa yang bersih setelah melewati proses “perbaikan jiwa” dari Allah SWT satu bulan lamanya.

Bersilaturrahmi dan untuk saling memaafkan menjadi media paling efektif untuk menghapus dosa. Terpentingnya adalah meminta maaf dan memberi maaf, bukan saja menunggu ketika Idul Fitri tiba. Karena, baik disadari maupun tidak, sebagai makhluk ciptaan Allah manusia tidak pernah luput dari dosa.

Menjadi hal yang wajib sebagai umat muslim agar kita selalu membentengi diri untuk selalu meminimalisir hal-hal yang menjadikan kita berbuat dosa antar sesama. Karena diantara penyebab rusaknya tali persaudaraan dan retaknya hubungan antar sesama manusia adalah adanya perselisihan dan prasangka buruk.

Nyaris tidak ada sentuhan rasa manusiawi ketika perselisihan dan prasangka buruk sudah menghantui antar sesama. Jika antar manusia sudah tidak lagi bertegur sapa, maka keinginan rasa memohon dan memberi maaf cenderung akan berkurang. Merasa gengsi karena kondisi, merasa lebih benar, meskipun belum tentu benar.

Melalui momentum Idul Fitri, umat muslim diajak untuk saling maaf memaafkan, diantaranya melalui silaturrahmi. Bentuk-bentuk meminta maaf di era teknologi modern sekarang pun sudah cukup canggih, jika tidak sempat untuk bertemu langsung dan bertatap muka, bisa melalui fasilitas video call, jika dulu menggunakan kartu lebaran, saat ini bisa melalui e-mail, BBM (BlackBerry Messenger), Whatsapp Messenger, bahkan pesan singkat sms.

Lalu, haruskah budaya maaf memaafkan mesti menunggu Hari Raya Idul Fitri? Idealnya tidak, tapi faktanya, mayoritas saat ini budaya untuk bersilaturahmi dan maaf memaafkan terlihat hanya familiar dilakukan bertepatan dengan Idul Fitri.

Cukup beralasan memang, ketika Idul Fitri menjadi hari yang dimanfaatkan untuk saling maaf memaafkan, namun pada hakikatnya, budaya untuk saling bersilaturrahmi dan maaf memaafkan sudah harus kita lakukan sejak dini, tidak mesti menunggu Idul Fitri tiba, tidak mesti menunggu para pemohon maaf datang.

Pepatah bijak mengatakan. Biasakanlah yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Bahkan sang pencipta tidak menyukai umatnya yang berlama-lama dalam hal meminta maaf dan memberi maaf antar sesamanya. Ini menandakan, sebagai manusia dan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, kita dituntut untuk terus menjaga hubungan silaturrahmi yang baik, seperti apa pun itu kondisinya.

Karena dengan hubungan silaturrahmi yang berkesinambungan dan baik, akan tercipta kehidupan yang harmonis, begitu juga dengan kebiasaan untuk terus meminta maaf dan memaafkan.

Tidak perlu gengsi untuk mengawali rasa saling memaafkan, tak perlu menunggu ada perselisihan dan retaknya hubungan sehingga baru bergerak untuk meminta maaf. Bukankah kita diciptakan di dunia ini untuk hidup damai dan berdampingan? Lalu, mengapakah kita tidak membiasakan untuk saling memaafkan sedini mungkin?

Mungkin kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan renungan dari penggalan sajak Taufiq Ismail di awal tulisan ini. “Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.” Semoga kita tidak termasuk didalam golongan yang telat. Wallahu A’lam Bish Shawab. (**).

Penulis; Penerima Schoolarship S2 Dalam Negeri, Balitbang SDM Kementerian Kominfo RI.
ASN di Humas Setda Kota Bengkulu.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *