Rabu, Agustus 17, 2022

Menapaki Jejak Stamford Raffles Bersama Kru TV CNA (Bagian II)

Baca selanjutnya

Kru Tv CNA bersama Krum Media Online kupasbengkulu.com mengunjungi Benteng Marlborough
Kru Tv CNA bersama Krum Media Online kupasbengkulu.com mengunjungi Benteng Marlborough

Bengkulu Sebagai Daerah Penghasil Rempah-rempah

kupasbengkulu.com – Pengambilan gambar menapaki jejak Thomas Stamford Raffles di Bengkulu dimulai, Selasa (9/9/2014) sekitar pukul 07.03 WIB dari salah satu pasar tradisional, yaitu Pasar Minggu, Kota Bengkulu. Karena di lokasi ini masih terlihat banyaknya penjualan hasil bumi, yang menandakan Bengkulu kaya akan rempah-rempah terutama lada, dan membuat hubungan yang
terjalin antara rakyat Provinsi Bengkulu dengan Inggris sejak abad ke-17.

(Baca juga : Menapaki Jejak Stamford Raffles Bersama Kru TV CNA (Bagian I))

Sejarah mencatat bahwa Inggris (EIC) pada akhirnya bercokol di Bengkulu dan rakyat Bengkulu menerima kehadiran mereka. Setibanya mereka di Bengkulu pada tahun 1685, pihak Inggris disambut oleh petinggi Bengkulu pada masa itu, yakni Orang Kaya Lela dan Patih Setia Raja Muda.

Dalam beberapa pertemuan selanjutnya pihak Inggris memperoleh izin untuk mendirikan faktori di Bengkulu dan menjalin hubungan dagang dengan para penguasa Bengkulu. Pangkalan pertama yang didirikan oleh Inggris di Bengkulu adalah Fort York.

Sejak saat itu Inggris menamakan faktori dagang mereka di Bengkulu sebagai Garnizun EIC di Pantai Barat pulau Sumatera (The Honourable East India Company’s Garrison on the West Coast of Sumatra).

Dalam pengambilan gambar di Pasar Tradisional, presenter TV CNA, Julian, menuturkan, betapa Bengkulu masih kaya akan rempah-rempah. Digambarkan Julian, aktivitas perdagangan hasil bumi ini masih terlihat hingga sekarang di Bengkulu.

Menariknya, para pedagang pasar tradisional ini begitu antusias dengan kedatangan kru TV asing ini. Bahkan dengan, ikhlas pedagang ini merelakan tempat dagangannya untuk dijadikan lokasi pengambilan gambar. Disini keramah-tamahan masyarakat Bengkulu mendapatkan pujian dari mereka.

“Masyarakat disini sangat komunikatif dan ramah,” tutur Julian, Antropolog yang bisa berbahasa melayu ini.

Benteng Marlborough, Saksi Kepemimpinan Raffles di Bengkulu

Usai melakukan pengambilan gambar di Pasar Minggu, sekitar pukul 10.02 WIB, kru beranjak ke Benteng Marlborough yang merupakan peninggalan Inggris. Benteng Marlborough ini merupakan benteng yang kedua, setelah pada tahun 1714 kondisi Fort York menjadi kritis.

Bangunan benteng dan barak-barak telah semakin rapuh, dan air hujan secara terus-menerus membasahi ruangan-ruangan tempat tinggal para penghuni. Selain itu, kondisi bahan makanan yang dikonsumsi oleh tentara Inggris sangat buruk sehingga disiplin para prajurit dan pegawai benteng menjadi turun. Berbagai macam penyakit, umumnya disentri dan malaria, telah menyebabkan sebagian besar prajurit garnizun tidak dapat melaksanakan tugas mereka. Joseph Collet yang menjadi pimpinan Garnizun di Bengkulu pada tahun 1712 menarik kesimpulan bahwa Fort York membutuhkan perbaikan-perbaikan besar dan lokasi benteng itu sebenarnya tidak tepat.

Oleh sebab itu pada tanggal 27 Februari 1712, Joseph Collet menulis surat kepada Dewan Direksi EIC yang mengusulkan agar membangun benteng baru di tempat yang disebut Carrang. Lokasi Carrang yang diusulkan oleh Joseph Collet terletak sekitar dua mil dari Fort York (orang Bengkulu menyebutnya Ujung Karang). Usul Joseph Collet untuk membangun benteng baru disetujui oleh Dewan Direktur EIC dan pembangunan benteng baru tersebut dimulai pada tahun 1714.

Benteng baru yang dibangun di Carrang diberi nama Marlborough. Nama ini dipilih oleh Joseph Collet untuk menghormati John Churchill, seorang komandan ternama Inggris yang pernah memenangkan pertempuran di Blenheim pada tahun 1704, Rammilies pada tahun 1706, Oudenarde pada tahun 1708, dan Malplaquet pada tahun 1709.

Atas jasa-jasanya ini John Churchill kemudian diberi gelar Duke of Marlborough. Benteng baru yang dibangun oleh Joseph Collet ini kemudian dikenal dengan nama Fort Marlborough. Pembangunan Fort Marlborough selesai seluruhnya pada tahun 1741.

Pengambilan gambar dilakukan dalam tiga bagian, yaitu di gerbang kedua, ruang tahanan, dan lokasi sisi kanan belakang Benteng Marlborough yang mengarah ke laut. Gubernur Inggris Stamford Raffles, selama menjalankan aktivitas pemerintahannya di Bengkulu menggunakan Benteng Marlborough.(Bersambung)

Penulis : Yasrizal, Kota Bengkulu.

Harga Sawit Merangkak Naik, Cangkang Sawit Jadi Nilai Tambah

Kupas News, Bengkulu – Harga Tandan Buah Segar (TBS) di Provinsi Bengkulu ditetapkan terendah Rp1.511 dan Harga Tertinggi Rp2.020 per Kg dengan toleransi harga...

Keluarga Korban Sodomi Polisikan Oknum Pensiunan ASN

Kupas News, Rejang Lebong – Unit Reskrim Polsek Bermani Ulu Polres Rejang Lebong menangkap seorang oknum pensiunan Aparatur Sipil Negera (ASN) di Kabupaten Rejang...

Kanwil Kemenkumham Bengkulu Sosialisasikan Kekayaan Intelektual Manusia

Kupas News, Bengkulu – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kakanwil Kemenkumham) Provinsi Bengkulu Erfan mengatakan, kekayaan intelektual adalah hak yang...

54 Paskibraka Bengkulu Siap Kibarkan Merah Putih 17 Agustus Besok

Kupas News, Bengkulu – Setelah melalui seleksi dan pemusatan latihan, sebanyak 54 Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Bengkulu Tahun 2022 dikukuhkan Gubernur Rohidin...

Garda Rafflesia Minta APH Usut Proses Lelang Puskesmas Pondok Suguh

Kupas News, Bengkulu – Proses lelang Renovasi-Penambahan Ruang Persalinan Puskesmas Pondok Suguh Tahun 2022 di Dinas Kesehatan Mukomuko turut menjadi perhatian aktivis lembaga swadaya...

Terbaru