oleh

Menaruh Asa Ditiap Sisir Pisang

Aksa, Penjual Pisang Keliling.
Aksa, Penjual Pisang Keliling.

kupasbengkulu.com – Terik matahari tidak menghalangi Aksa atau yang kerap disapa Lung untuk mengayuh sepeda tuanya. Beberapa sisir pisang ia gantungkan, berharap ada yang membeli untuk dimasak menjadi menu berbuka puasa sore nanti.

Kakek berusia 72 tahun ini sangat bersemangat menjajakan dagangannya ini walaupun hanya beberapa sisir pisang saja, tidak ada yang lain. Tidak tampak rasa lelah diraut wajahnya, walaupun saat ini ia sedang menjalankan ibadah puasa.

Sepeda butut miliknya terus ia kayuh seolah tidak memperdulikan bahaya yang sedang mengintainya, bisa saja sewaktu-waktu kendaraan lain menabraknya. Baginya menggantungkan harapan kepada setiap sisir pisang yang ia jajakan lebih mulia daripada menggantungkan hidup kepada belas kasihan orang lain.

Hampir 5 tahun sudah Aksa menekuni pekerjaanya sebagai penjual pisang keliling ini. Tidak banyak harapannya, dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari bersama anak dan cucunya di rumah saja sudah cukup.

Tampaknya pisang yang ia jajakan hari ini masih tersisa banyak. Dari 15 sisir yang ia bawa, terlihat masih ada 8 sisir yang masih menggantung di sepeda miliknya. Ini bukan karena mahalnya harga yang ia tawarkan mungkin karena minat pembeli sudah mulai berkurang dipenghujung bulan puasa ini.

Kalau puaso lah endak habis, biasonyo pembeli lah mulai berkurang mungkin kareno lah banyak yang masak kue,” terang Aksa.

Aksa menambahkan dagangan miliknya ini akan banyak laku terjual di awal bulan puasa, biasanya 20 sampai 30 sisir pisang akan laku terjual. Harga pisang pun bervariasi tergantung besar-kecilnya sisir, kisaran harga yaitu 5 ribu sampai 10 ribu rupiah per sisir.

Tak jarang Aksa harus membawa pulang lagi pisang yang telah mulai menguning itu, untuk di jual di rumah. Kalau sudah di rumah Aksa tidak begitu mematok harga, berapapun tetangga mau membayar ia terima ketimbang pisang-pisang tersebut busuk. Dia berharap mudah-mudahan hari ini pisang yang ia bawa dapat terjual semua.

Bapak jalan dulu yo, kalu-kalu masih ado yang endak beli,” tutur Aksa berlalu mengayuh sepeda miliknya tanpa menghiraukan kaki yang sedikit bengkak karena sakit Asam Urat. (**)

penulis : Metalia Sagita

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed