oleh

Menaruh Nasib di Paku Pemilu

-Tak Berkategori
illustrasi
illustrasi

Oleh: Ary Siswoyo*

Pemilu Presiden tinggal menghitung hari. Aromanya pun sudah makin kental tercium. Nyaris di setiap sudut gang menggunjingkan tentang ini. Sekalipun euforia Piala Dunia juga menjadi obrolan yang mengasyikkan, tapi kontestasi presiden sepertinya jauh lebih menghebohkan.

Kocekan Messi dan Neymar cuma jadi cerita hiburan, selebihnya obrolan publik adalah tentang calon pemimpin negara ini lima tahun kedepan. Jelas ini menjadi bukti sekaligus besarnya harapan rakyat pada Pilpres. Ada mimpi besar yang ditaruh di Senin 9 Juli 2014. Dan mimpi itu jugalah yang akan dititipkan di paku pemilu oleh lebih dari 181,14 juta rakyat Indonesia yang tercantum dalam daftar pemilih.

Sejarah merekam, hampir 70 tahun Indonesia merdeka, dengan kedemokrasiannya yang dimanifestasikan dalam pemilu. Korelasinya dengan kesejahteraan masyarakat memang belum pernah setemuan. Rakyat kita tetap terpuruk di kemiskinan, konflik dimana-mana, korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi budaya baru.

Sementara di sudut lain, lahirlah kaum-kaum idealis musiman yang suka mencari peruntungan dengan menjual kesusahan rakyat. Mereka mengumbar harapan, janji dan mimpi sampai di pelosok desa. Ya, inilah derita negeri ini. Begitu menderitanya kita, sehingga kalau dianalogikan kita sudah bak cangkang telur. Rapi di luar tapi rapuh dan keropos saat digenggam kuat.

Lantas, apakah penderitaan ini harus dipertahankan? Kualat, jika ada yang masih berkeinginan melanjutkan. Sudah cukup rasanya negeri ini terkungkung. Kita butuh perubahan, kita harus menjadikan Indonesia jauh lebih beradab dan mampu menjamin kesejahteraan masyarakatnya.

Tetapi, apakah ada keniscyaan, kalau derita ini akan berulang? Tentu saja bisa. Kala paku pemilu dihujamkan di secarik kertas, cuma dalih menghadiri ajang pesta demokrasi atau ketika kita memilih atas dasar imbalan oleh para idealis musiman.

Maka bukan tidak mungkin, bangsa dan negara ini harus siap menderita lebih lama lagi. Pemilu untuk perubahan, akhirnya tak ubahnya menggantang asap. Sadar atau tidak kitapun menggali kubur sendiri, dan itu cuma gara-gara paku salah tusuk.

Orientasi Kemakmuran
Di 2013 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,78 persen. Tapi sayang, kenaikan itu berbanding terbalik dengan jumlah orang miskin di dalam negeri. Mereka justru bertambah banyak. Hingga September 2013 tingkat kemiskinan di Indonesia sudah mencapai 11,47 persen.

Negara ini menampung lebih dari 28,7 juta jiwa rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan atau setara dengan jumlah penduduk di Malaysia. Yang menyedihkannya lagi, tercatat juga, hingga April 2014 utang negara ini lewat pinjaman dan surat berharga negara menembus Rp2.440,41 triliun. Sehingga ketika dirata-rata, setiap warga negara Indonesia harus menanggung utang sekira Rp10 juta per kepala.

Ini realitas dan ini juga yang menjadi kekhawatiran. Harapan kesejahteraan harus dikejar dengan kerja ekstra keras. Mengutip dari perkataan salah seorang guru besar di Universitas Jember Ayu Sutarto (okezone, 25/6). Saat ini publik sudah mengorientasikan pilihannya bukan lagi pada ideologi, tapi orientasi kemakmuran (prosperity) dan keamanan (security).

Singkatnya, publik atau kita secara keseluruhan ingin, negara ini makmur. Kekayaan melimpah milik negeri ini, harus berdaulat dan memberi kemakmuran kepada rakyatnya. Lantas apakah mimpi ini ada di proyeksi kedua capres dan cawapres, Prabowo Sutianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kita semua berkeyakinan tentu ada.

Tapi yang manakah? Karena itu kita harus betul-betul jeli. Rekam jejak dua pasang calon ini telah terumbar jelas di media hingga dunia maya. Ada yang benar ada juga yang salah. Tapi sekali lagi, kita boleh berharap ada perubahan usai pilpres nanti. Tapi akan lebih afdol lagi, kalau kita juga berpikiran untuk merubah keadaan.

Jadi tidak cukup dengan mengandalkan nasib di paku pemilu. Sejarah telah banyak mencatat. Karena kita terlampau mengandalkan nasib di bilik suara pemilu, membuat negeri ini cenderung lamban maju.(**)

Penulis : Jurnalis/Deklarator AJI Persiapan Bengkulu/Koordinator Pengembangan Kelembagaan SPORA Bengkulu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *